• Featured

    Windows 8 Could Have Nine Different Backgrounds and Editions

  • Featured

    Don't miss these 10 Things if you are going for Picnic.

  • Articles

    iPhone 6 Will Look Like

  • Articles

    Solar Powered UAVs To Replace Satellites





  • Kantor Hokage di kampung halamannya tak dapat dibandingkan dengan luas ruangan yang sangat besar ini.



    Shikamaru dipaksa bersimpuh di tengah karpet  berwarna crimson pekat yang terbentang dari pintu masuk ganda yang megah menghadap interior ruangan.



    Kedua tangannya diborgol di belakang punggungnya. Dua Kakusha berdiri di sampingnya sehingga ia tak mendapatkan ide apapun untuk berdiri dan membuat kekacauan. Baiklah, mereka adalah shinobi, jadi mereka akan sadar saat Shikamaru melakukan hal yang mencurigakan.



    Rou dan Soku berada dibelakangnya. Tangan mereka juga terborgol di belakang punggung mereka, dan para penjaga disamping mereka. Perbedaannya hanyalah wajah mereka dipenuhi oleh luka dan lebam, bukti yang kuat dari penyiksaan yang mereka alami.



    Dihitung dari jumlah makanan dan kondisi perutnya, sudah 10 hari sejak mereka ditangkap.



    Selama itu, Shikamaru tak pernah sekalipun disiksa. Gengo mengunjunginya berkali-kali, tinggal sebentar untuk membicarakan hal tak penting, kemudian pergi. Dia selalu mengatakan hal bodoh dan tak penting seperti ‘aku rasa aku harus berpidato hari ini’ atau ‘apa yang harus dimakan saat makan siang?’.



    “Tundukkan kepalamu.” Kakusha di sisi kanan Shikamaru memerintah, dan menghempaskan kepalanya ke karpet.



    “Mereka adalah tamu penting. Kau tak perlu memperlakukan mereka dengan kasar.” Suara Gengo datang beberapa jarak dari Shikamaru.



    Saat ia mengatakan hal tersebut, Kakusha itu segera melepaskan kepala Shikamaru, berdiri tegak, sangat malu karena dimarahi.



    “Bawahanku sudah berlaku kasar.” Ucap Gengo.



    “Tolong, angkat kepalamu.”



    Shikamaru telah lebih dulu mengangkat wajahnya sebelum diizinkan. Tangga marmer berawal dimana karpet crimson itu berakhir di depannya. Di paling atas tangga tersebut, terdapat lantai luas dengan sebuah patung naga yang tinggi megah dan sebuah singgasana terpahat disana.



    Gengo duduk disana, kaki yang satu berada di atas kaki yang lain. Siku kirinya berada di atas sandaran lengan dan ia dengan santai menopang pipinya di telapak tangan kirinya. Tatapan dingin, tenang, dan merendahkan  yang diberikannya pada Shikamaru membuktikan bahwa dirinyalah penguasa negara itu.



    “Bawa mereka mendekat.” Perintah Gengo.



    Kakusha di sisi Shikamaru menarik tangan Shikamaru, menyeretnya untuk berdiri. Mereka memburunya sepanjang karpet, hingga ia mencapai dasar tangga besar itu. Rou dan Soku juga diseret dengan perlakukan yang sama.



    “Sudahkah kau merasa sedikit ingin tahu mengenai kata-kataku sekarang?” Tanya Gengo.



    “Maaf, tapi aku tidak tahu apa yang kau coba katakan.” Ucap Shikamaru.



    Gengo mengeluarkan tawa kecil karena jawaban yang cepat dan tegas itu.



    Terdapat para Kakusha yang berbaris ke samping di kedua sisi singgasananya. Mereka semua menatap rendah Shikamaru dengan tatapan angkuh yang membuatnya menduga bahwa mereka adalah penasihat Gengo atau orang-orang dekatnya.



    Shikamaru melihat sosok Sai berada dalam barisan mereka, telah dihiasi dengan jubah hitam yang semua Kakusha kenakan. Meskipun mereka seharusnya merupakan rekan, mata Sai menatap rendah Shikamaru tanpa kegelisahan mapun keraguan. Mata Sai tak pernah begitu ekspresif sebelumnya, namun juga tak pernah terlihat begitu hampa dan kosong seperti sekarang.



    “Seseorang secerdas dan seterkenal dirimu…” Ucap Gengo,



    “Aku rasa kau telah lebih dulu mengetahui apa yang kuinginkan darimu.”



    Tentu saja Shikamaru telah menyadari apa yang Gengo inginkan. Ia sudah menyadarinya sejak lama, namun itu adalah gagasan yang konyol. Tak akan pernah terjadi. Jadi ia tetap membungkam mulutnya, tak mau membuang-buang nafasnya untuk melakukan itu.



    “Jadilah tangan kananku, Shikamaru. Jika itu kau, kau akan dapat membuat dunia baru menjadi nyata bersamaku. Aku dapat melihat bahwa kau adalah pria yang pantas untuk itu.”



    “Aku menolak.”



    Shikamaru dengan segera mengeluarkan jawabannya. Matanya bergolak dengan keinginan membunuh saat ia melirik tajam ke arah Gengo.



    Namun penguasa negara itu tampak tak terpengaruh sedikitpun. Ia dengan tenang mempertemukan tatapannya dengan tatapan haus darah Shikamaru seolah itu tak lebih dari sekedar angin lalu.



    “Seseorang yang bereaksi pada rencanaku yang tiba-tiba dengan penuh kegembiraan dan penerimaan bukanlah seseorang yang kuinginkan. Kau melakukannya dengan sangat baik, Shikamaru.”



    “Kau telah membuatku jengkel lebih dan lebih lagi dengan intonasimu yang terdengar mengetahui segalanya, bertingkah seolah kau dapat melihat isi dari semua orang. Apa yang kau dapat mengerti tentangku?”



    Shikamaru tak benar-benar jengkel. Dia bukanlah tipe orang yang membiarkan sesuatu seperti ini membuatnya marah dan kehilangan ketenangannya. Ia hanya bertindak seolah tak sabar untuk bertarung untuk melihat reaksi lawannya. Hanya itu saja.



    “Adalah hal yang tak mungkin bagi seseorang untuk benar-benar mengerti orang lain lain.” Ucap Gengo.



    “Bukankah itu mengapa aku mengadakan percakapan denganmu? Bukan melihat ke dalam dirimu. Aku sudah hidup sedikit lebih lama darimu, jadi aku dapat sedikit merasakan emosimu. Jika itu entah bagaimana terdengar seperti sebuah nada yang arogan, maka aku minta maaf.”



    “Intonasi seperti itulah yang membuatku jengkel.”



    “Aku mengerti…” Gengo memejamkan matanya dan tertawa seperti mencela diri sendiri.



    Hening sesaat. Tatapan Gengo menerawang ke sekitar ruangan seperti sedang berpikir.



    Dia dengan sengaja membuat kesempatan pada kemarahan Shikamaru untuk mereda…



    Jika kau melihat situasi itu dari jauh, kau akan berpikir bahwa Gengo sengaja berhenti sejenak untuk mengumpulkan pemikiran dan mempersiapkan pembicaraan yang lain.



    Akan tetapi, kenyataannya adalah jika Gengo melanjutkan pembicaraannya dalam atmosfer seperti ini maka kemarahan Shikamaru akan terus meluap hingga ia begitu marah dan  dengan keras kepala menolak untuk mendengar apapun. Gengo dengan sengaja menciptakan jeda dalam pembicaraan mereka untuk menghindari kemungkinan itu.



    Menciptakan jeda bagi kedua pihak untuk mengambil nafas dan menenangkan diri dapat secara efektif mengubah atmosfer tegang di antara mereka. Bahkan jika Shikamaru menyemburkan kalimat pedasnya, dengan tak adanya balasan dari Gengo, maka itu semua hanya akan menjadi raungan tak berarti yang hanya akan membuatnya lebih marah.



    Gengo sedang mendorong percakapan itu menuju ke arah yang ia inginkan.



    Pria ini sudah banyak berlatih dalam bernegosiasi…



    Akhirnya, setelah jeda yang panjang, mata Gengo kembali melihat Shikamaru.



    “Hanya ada satu pertanyaan yang ku miliki untukmu, tapi apakah kau bersedia memberikanku jawaban?”



    “Apa?”



    Shikamaru menyesali kata yang telah keluar dari mulutnya. Namun sudah terlambat untuk menariknya kembali.



    “Mengapa shinobi begitu tertindas dan tertekan?”



    'Tertindas? Shinobi?'



    Shikamaru tak mengerti apa maksud pria itu.



    Kebisuannya mendorong Gengo untuk melanjutkan bicaranya, memperkuat pertanyaannya dengan berbicara lagi.



    “Desa-desa dimana para shinobi tinggal, tanpa terkecuali, selalu disebut sebagai ‘desa tersembunyi’. Kenapa shinobi harus tetap tersembunyi? Di seluruh Negara di kontinen ini, berapa banyak tanah yang shinobi bisa akui sebagai milik mereka?  Kau akan menemukan bahwa itu merupakan porsi yang sangat sedikit. Dan kenapa itu bisa terjadi? Karena ada orang lain yang menguasai sebagian besar kontinen ini. Para Daimyou.”



    Baiklah, dia tak salah. Desa shinobi memiliki nama yang selalu bertitel ‘desa tersembunyi’. Sebagian besar kontinen ini memang diperintah oleh para Daimyou.



    'Lalu kenapa?'



    'Jadi para Daimyou yang memerintah negara, jadi shinobi tinggal di desa-desa yang disebut ‘desa tersembunyi. Itu tak membuat shinobi tertindas.'



    Shikamaru bekerja di bagian paling penting dalam Persatuan Shinobi, jadi ia sedikit lebih tahu tentang keadaan dunia dibanding yang lain. Para Daimyou, dan penduduk yang tinggal di Negara yang mereka pimpin, mereka semua hidup di sisi shinobi dengan baik, hubungan yang saling menguntungkan.



    “Pikirkan tentang itu, Shikamaru. Kenapa shinobi ditindas oleh para Daimyou?”



    “Kapan shinobi pernah ditindas oleh para Daimyou?”



    “Bukan hanya para Daimyou. Kita telah ditindas oleh setiap orang yang bukan shinobi.” Mata Gengo tampak seperti memancarkan api saat ia melihat Shikamaru.



    “Aku akan menanyakanmu satu hal lagi.”



    “Tadi kau mengatakan bahwa kau hanya akan menanyakan satu…”



    “Aku bertanya lagi.” Gengo memotongnya dengan tajam.



    “Shinobi menyimpan kekuatan yang berbeda dari manusia lain di dunia ini. Apa kau setuju?”



    Chakra dan ninjutsu…



    Baiklah, kau tak dapat memungkiri bahwa itu merupakan kemampuan yang jelas membedakan shinobi dengan manusia biasa.



    Shikamaru mengangguk dalam diam.



    Gengo tampak puas, dan lanjut berbicara.



    “Dan kekuatan yang shinobi miliki itu jauh melewati batas kemampuan manusia.”



    Sekali lagi, Shikamaru mengangguk.



    Perang Besar yang terjadi dua tahun lalu merupakan peperangan yang akan menentukan nasib seluruh dunia. Jika Aliansi Shinobi saat itu dikalahkan, maka baik Shikamaru atapun Gengo tak akan berbicara disini sekarang.



    Baik itu Uchiha Madara, yang berencana untuk menarik semua manusia di muka bumi ke dalam mimpi genjutsu, atau Uzumaki Naruto, yang telah membawa seluruh bijuu ke dalam tubuhnya sehingga ia dapat mengakhiri perang, keduanya merupakan contoh utama dari makhluk yang tak dapat lagi disebut sebagai ‘manusia’. Terdapat kemungkinan bahwa dengan perkembangan dari era terakhir, shinobi akan memisahkan diri dari jalan ‘kemanusiaan’ bersamaan.



    “Kenapa shinobi yang mampu melampaui manusia harus tinggal di desa ‘tersembunyi’? Kenapa kita harus hidup dalam kehidupan seperti itu? Kenapa kita harus dipaksa untuk bekerja demi penghidupan sebagai pesuruh Daimyou? Dalam Perang Besar dua tahun lalu, siapa yang menyelamatkan dunia ini dari kehancuran? Bukan Daimyou. Bukan penduduk.”



    Kekuatan suara Gengo meningkat, menekan Shikamaru dari segala arah.



    “Bukankah shinobi yang menyelamatkan dunia ini?”



    'Kekuatan apa ini…?'



    Suara itu membuat jantungnya berdebar tak menentu di dalam dadanya.



    Shikamaru merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan hingga detik ini : kegembiraan yang meluap-luap.



    'Kenapa ia merasa seperti itu?'



    …Mungkin karena Gengo telah mengambil perasaan berbahay yang sama dengan yang mengintai di sudut tersembunyi hati Shikamaru, dan dengan jelas menjadikannya dalam bentuk kata-kata.



    Dia benar…



    Dua tahun lalu, shinobi telah menyelamatkan dunia.



    “Begitu banyak shinobi bertempur dan mengorbankan nyawanya untuk melindungi dunia ini, tapi berapa banyak para penduduk yang mengetahui fakta itu? Nama Uzumaki Naruto, seseorang yang dipuja di seluruh dunia shinobi karena menjadi pahlawan yang mengakhiri perang—bahkan tak dikenal oleh penduduk yang sulit dikendalikan itu! Uchiha Madara, Uchiha Obito, Uchiha Sasuke, Hatake Kakashi, Lima Kage, Akatsuki, semua dari mereka, bukankah suatu fakta bahwa tak ada orang di luar dunia shinobi yang pernah membicarakan tentang mereka?”



    Tepat seperti yang dikatakan Gengo. Tak peduli berapa banyak shinobi yang mempertaruhkan jiwanya untuk melindungi dunia, takkan ada satupun penduduk yang hidup di dunia luar yang pernah mendengar hal itu.



    “Era perdamaian ini dibangun di atas tumpukan jasad  shinobi, namun Daimyou datang dan menduduki tanpa sedikitpun keraguan, terus dengan nyaman memimpin rakyat tanpa berpikir sedikitpun tentang kita. Demi para baj****n itu, kita shinobi pergi bertempur dalam Perang Besar. Kita menjadi tameng hidup untuk Daimyou dan penduduk. Dan kemudian, balasannya?”



    Tak ada yang berubah.



    Baiklah, Shikamaru berpikir bahwa hal itu bukanlah alasan yang tak masuk akal.



    Para musuh yang melawan aliansi shinobi selama perang, Uchiha Madara dan Ootsutsuki Kaguya, telah berniat untuk menarik semua orang ke dalam sebuah genjutsu sehingga mereka dapat menjadikan chakra semua orang sebagai baterai hidup.



    Hasilnya adalah di tengah pertempuran sengit itu, semua penduduk dan Daimyo telah jatuh ke dalam tidur yang nyenyak.



    Namun tetap saja…



    Faktanya adalah, bukan karena tak ada dari mereka yang tahu apa yang terjadi selama Perang Besar. Mereka hanya tidak membicarakan tentang hal itu.



    “Mengapa kita para shinobi yang memiliki kekuatan besar dipaksa untuk hidup di ‘desa tersembunyi’, terus-menerus mengintai dari kegelapan saat menjalani kehidupan sehari-hari kita?”



    Genggo berdiri dari singgasananya.



    “Apakah itu demi yang terbaik?”



    Gengo mengambil satu langkah menuruni tangga. Kemudian melangkah lagi. Ia perlahan turun, tak melepas pandangan Shikamaru, terus berbicara.



    “Shikamaru. Pertanyaan selanjutnya merupakan pertanyaan yang sangat ingin kutanyakan padamu.”



    Gengo mencapai dasar tangga, terus berjalan hingga ia berdiri tepat di depan mata Shikamaru.



    “Bukankah itu yang terbaik jika shinobi lah yang memimpin dunia ini?”



    ‘Kau salah.’



    Shikamaru tak dapat menyebutkan kata itu. Tidak, ia bahkan sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan itu.



    Ia sudah tidak tahu lagi mana yang benar.



    ‘Kita adalah shinobi karena kita menanggung beban.’



    Tak peduli seberapa besar kekuatan yang kau miliki, kau melayani orang-orang secara tak terlihat dan dari bayang-bayang. Itulah yang didefinisikan sebagai shinobi.



    Walaupun begitu.



    'Kemungkinan yang tak terbatas berasal dari chakra dan ninjutsu yang digunakan oleh shinobi. Jika shinobi benar-benar mengambil alih kekuasaan Daimyou seperti yang dikatakan Gengo, dan jika mereka memerintah seluruh negara, bukankah dunia akan membuat kemajuan yang begitu besar dibanding yang telah terjadi sekarang?'



    'Manakah yang merupakan pilihan terbaik untuk semua orang?'



    Ia tak mampu memberikan jawaban.



    “Dengan kekuatan shinobi, perlahan aku akan mengangkat negara ini.” Ucap Gengo.



    “Aku akan menempatkan akhir yang indah dari era perang yang tak henti-hentinya ini. Dengan kekuatan shinobi, itu semua dapat menjadi hal yang mungkin!”



    'Membunuh pria yang disebut Gengo… apakah itu merupakan jalan yang terbaik?'




    Shikamaru sudah tak terlalu yakin lagi.

    Novel Shikamaru Hiden Chapter 12

    Posted at  January 18, 2017  |  in    |  Read More»





    Kantor Hokage di kampung halamannya tak dapat dibandingkan dengan luas ruangan yang sangat besar ini.



    Shikamaru dipaksa bersimpuh di tengah karpet  berwarna crimson pekat yang terbentang dari pintu masuk ganda yang megah menghadap interior ruangan.



    Kedua tangannya diborgol di belakang punggungnya. Dua Kakusha berdiri di sampingnya sehingga ia tak mendapatkan ide apapun untuk berdiri dan membuat kekacauan. Baiklah, mereka adalah shinobi, jadi mereka akan sadar saat Shikamaru melakukan hal yang mencurigakan.



    Rou dan Soku berada dibelakangnya. Tangan mereka juga terborgol di belakang punggung mereka, dan para penjaga disamping mereka. Perbedaannya hanyalah wajah mereka dipenuhi oleh luka dan lebam, bukti yang kuat dari penyiksaan yang mereka alami.



    Dihitung dari jumlah makanan dan kondisi perutnya, sudah 10 hari sejak mereka ditangkap.



    Selama itu, Shikamaru tak pernah sekalipun disiksa. Gengo mengunjunginya berkali-kali, tinggal sebentar untuk membicarakan hal tak penting, kemudian pergi. Dia selalu mengatakan hal bodoh dan tak penting seperti ‘aku rasa aku harus berpidato hari ini’ atau ‘apa yang harus dimakan saat makan siang?’.



    “Tundukkan kepalamu.” Kakusha di sisi kanan Shikamaru memerintah, dan menghempaskan kepalanya ke karpet.



    “Mereka adalah tamu penting. Kau tak perlu memperlakukan mereka dengan kasar.” Suara Gengo datang beberapa jarak dari Shikamaru.



    Saat ia mengatakan hal tersebut, Kakusha itu segera melepaskan kepala Shikamaru, berdiri tegak, sangat malu karena dimarahi.



    “Bawahanku sudah berlaku kasar.” Ucap Gengo.



    “Tolong, angkat kepalamu.”



    Shikamaru telah lebih dulu mengangkat wajahnya sebelum diizinkan. Tangga marmer berawal dimana karpet crimson itu berakhir di depannya. Di paling atas tangga tersebut, terdapat lantai luas dengan sebuah patung naga yang tinggi megah dan sebuah singgasana terpahat disana.



    Gengo duduk disana, kaki yang satu berada di atas kaki yang lain. Siku kirinya berada di atas sandaran lengan dan ia dengan santai menopang pipinya di telapak tangan kirinya. Tatapan dingin, tenang, dan merendahkan  yang diberikannya pada Shikamaru membuktikan bahwa dirinyalah penguasa negara itu.



    “Bawa mereka mendekat.” Perintah Gengo.



    Kakusha di sisi Shikamaru menarik tangan Shikamaru, menyeretnya untuk berdiri. Mereka memburunya sepanjang karpet, hingga ia mencapai dasar tangga besar itu. Rou dan Soku juga diseret dengan perlakukan yang sama.



    “Sudahkah kau merasa sedikit ingin tahu mengenai kata-kataku sekarang?” Tanya Gengo.



    “Maaf, tapi aku tidak tahu apa yang kau coba katakan.” Ucap Shikamaru.



    Gengo mengeluarkan tawa kecil karena jawaban yang cepat dan tegas itu.



    Terdapat para Kakusha yang berbaris ke samping di kedua sisi singgasananya. Mereka semua menatap rendah Shikamaru dengan tatapan angkuh yang membuatnya menduga bahwa mereka adalah penasihat Gengo atau orang-orang dekatnya.



    Shikamaru melihat sosok Sai berada dalam barisan mereka, telah dihiasi dengan jubah hitam yang semua Kakusha kenakan. Meskipun mereka seharusnya merupakan rekan, mata Sai menatap rendah Shikamaru tanpa kegelisahan mapun keraguan. Mata Sai tak pernah begitu ekspresif sebelumnya, namun juga tak pernah terlihat begitu hampa dan kosong seperti sekarang.



    “Seseorang secerdas dan seterkenal dirimu…” Ucap Gengo,



    “Aku rasa kau telah lebih dulu mengetahui apa yang kuinginkan darimu.”



    Tentu saja Shikamaru telah menyadari apa yang Gengo inginkan. Ia sudah menyadarinya sejak lama, namun itu adalah gagasan yang konyol. Tak akan pernah terjadi. Jadi ia tetap membungkam mulutnya, tak mau membuang-buang nafasnya untuk melakukan itu.



    “Jadilah tangan kananku, Shikamaru. Jika itu kau, kau akan dapat membuat dunia baru menjadi nyata bersamaku. Aku dapat melihat bahwa kau adalah pria yang pantas untuk itu.”



    “Aku menolak.”



    Shikamaru dengan segera mengeluarkan jawabannya. Matanya bergolak dengan keinginan membunuh saat ia melirik tajam ke arah Gengo.



    Namun penguasa negara itu tampak tak terpengaruh sedikitpun. Ia dengan tenang mempertemukan tatapannya dengan tatapan haus darah Shikamaru seolah itu tak lebih dari sekedar angin lalu.



    “Seseorang yang bereaksi pada rencanaku yang tiba-tiba dengan penuh kegembiraan dan penerimaan bukanlah seseorang yang kuinginkan. Kau melakukannya dengan sangat baik, Shikamaru.”



    “Kau telah membuatku jengkel lebih dan lebih lagi dengan intonasimu yang terdengar mengetahui segalanya, bertingkah seolah kau dapat melihat isi dari semua orang. Apa yang kau dapat mengerti tentangku?”



    Shikamaru tak benar-benar jengkel. Dia bukanlah tipe orang yang membiarkan sesuatu seperti ini membuatnya marah dan kehilangan ketenangannya. Ia hanya bertindak seolah tak sabar untuk bertarung untuk melihat reaksi lawannya. Hanya itu saja.



    “Adalah hal yang tak mungkin bagi seseorang untuk benar-benar mengerti orang lain lain.” Ucap Gengo.



    “Bukankah itu mengapa aku mengadakan percakapan denganmu? Bukan melihat ke dalam dirimu. Aku sudah hidup sedikit lebih lama darimu, jadi aku dapat sedikit merasakan emosimu. Jika itu entah bagaimana terdengar seperti sebuah nada yang arogan, maka aku minta maaf.”



    “Intonasi seperti itulah yang membuatku jengkel.”



    “Aku mengerti…” Gengo memejamkan matanya dan tertawa seperti mencela diri sendiri.



    Hening sesaat. Tatapan Gengo menerawang ke sekitar ruangan seperti sedang berpikir.



    Dia dengan sengaja membuat kesempatan pada kemarahan Shikamaru untuk mereda…



    Jika kau melihat situasi itu dari jauh, kau akan berpikir bahwa Gengo sengaja berhenti sejenak untuk mengumpulkan pemikiran dan mempersiapkan pembicaraan yang lain.



    Akan tetapi, kenyataannya adalah jika Gengo melanjutkan pembicaraannya dalam atmosfer seperti ini maka kemarahan Shikamaru akan terus meluap hingga ia begitu marah dan  dengan keras kepala menolak untuk mendengar apapun. Gengo dengan sengaja menciptakan jeda dalam pembicaraan mereka untuk menghindari kemungkinan itu.



    Menciptakan jeda bagi kedua pihak untuk mengambil nafas dan menenangkan diri dapat secara efektif mengubah atmosfer tegang di antara mereka. Bahkan jika Shikamaru menyemburkan kalimat pedasnya, dengan tak adanya balasan dari Gengo, maka itu semua hanya akan menjadi raungan tak berarti yang hanya akan membuatnya lebih marah.



    Gengo sedang mendorong percakapan itu menuju ke arah yang ia inginkan.



    Pria ini sudah banyak berlatih dalam bernegosiasi…



    Akhirnya, setelah jeda yang panjang, mata Gengo kembali melihat Shikamaru.



    “Hanya ada satu pertanyaan yang ku miliki untukmu, tapi apakah kau bersedia memberikanku jawaban?”



    “Apa?”



    Shikamaru menyesali kata yang telah keluar dari mulutnya. Namun sudah terlambat untuk menariknya kembali.



    “Mengapa shinobi begitu tertindas dan tertekan?”



    'Tertindas? Shinobi?'



    Shikamaru tak mengerti apa maksud pria itu.



    Kebisuannya mendorong Gengo untuk melanjutkan bicaranya, memperkuat pertanyaannya dengan berbicara lagi.



    “Desa-desa dimana para shinobi tinggal, tanpa terkecuali, selalu disebut sebagai ‘desa tersembunyi’. Kenapa shinobi harus tetap tersembunyi? Di seluruh Negara di kontinen ini, berapa banyak tanah yang shinobi bisa akui sebagai milik mereka?  Kau akan menemukan bahwa itu merupakan porsi yang sangat sedikit. Dan kenapa itu bisa terjadi? Karena ada orang lain yang menguasai sebagian besar kontinen ini. Para Daimyou.”



    Baiklah, dia tak salah. Desa shinobi memiliki nama yang selalu bertitel ‘desa tersembunyi’. Sebagian besar kontinen ini memang diperintah oleh para Daimyou.



    'Lalu kenapa?'



    'Jadi para Daimyou yang memerintah negara, jadi shinobi tinggal di desa-desa yang disebut ‘desa tersembunyi. Itu tak membuat shinobi tertindas.'



    Shikamaru bekerja di bagian paling penting dalam Persatuan Shinobi, jadi ia sedikit lebih tahu tentang keadaan dunia dibanding yang lain. Para Daimyou, dan penduduk yang tinggal di Negara yang mereka pimpin, mereka semua hidup di sisi shinobi dengan baik, hubungan yang saling menguntungkan.



    “Pikirkan tentang itu, Shikamaru. Kenapa shinobi ditindas oleh para Daimyou?”



    “Kapan shinobi pernah ditindas oleh para Daimyou?”



    “Bukan hanya para Daimyou. Kita telah ditindas oleh setiap orang yang bukan shinobi.” Mata Gengo tampak seperti memancarkan api saat ia melihat Shikamaru.



    “Aku akan menanyakanmu satu hal lagi.”



    “Tadi kau mengatakan bahwa kau hanya akan menanyakan satu…”



    “Aku bertanya lagi.” Gengo memotongnya dengan tajam.



    “Shinobi menyimpan kekuatan yang berbeda dari manusia lain di dunia ini. Apa kau setuju?”



    Chakra dan ninjutsu…



    Baiklah, kau tak dapat memungkiri bahwa itu merupakan kemampuan yang jelas membedakan shinobi dengan manusia biasa.



    Shikamaru mengangguk dalam diam.



    Gengo tampak puas, dan lanjut berbicara.



    “Dan kekuatan yang shinobi miliki itu jauh melewati batas kemampuan manusia.”



    Sekali lagi, Shikamaru mengangguk.



    Perang Besar yang terjadi dua tahun lalu merupakan peperangan yang akan menentukan nasib seluruh dunia. Jika Aliansi Shinobi saat itu dikalahkan, maka baik Shikamaru atapun Gengo tak akan berbicara disini sekarang.



    Baik itu Uchiha Madara, yang berencana untuk menarik semua manusia di muka bumi ke dalam mimpi genjutsu, atau Uzumaki Naruto, yang telah membawa seluruh bijuu ke dalam tubuhnya sehingga ia dapat mengakhiri perang, keduanya merupakan contoh utama dari makhluk yang tak dapat lagi disebut sebagai ‘manusia’. Terdapat kemungkinan bahwa dengan perkembangan dari era terakhir, shinobi akan memisahkan diri dari jalan ‘kemanusiaan’ bersamaan.



    “Kenapa shinobi yang mampu melampaui manusia harus tinggal di desa ‘tersembunyi’? Kenapa kita harus hidup dalam kehidupan seperti itu? Kenapa kita harus dipaksa untuk bekerja demi penghidupan sebagai pesuruh Daimyou? Dalam Perang Besar dua tahun lalu, siapa yang menyelamatkan dunia ini dari kehancuran? Bukan Daimyou. Bukan penduduk.”



    Kekuatan suara Gengo meningkat, menekan Shikamaru dari segala arah.



    “Bukankah shinobi yang menyelamatkan dunia ini?”



    'Kekuatan apa ini…?'



    Suara itu membuat jantungnya berdebar tak menentu di dalam dadanya.



    Shikamaru merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan hingga detik ini : kegembiraan yang meluap-luap.



    'Kenapa ia merasa seperti itu?'



    …Mungkin karena Gengo telah mengambil perasaan berbahay yang sama dengan yang mengintai di sudut tersembunyi hati Shikamaru, dan dengan jelas menjadikannya dalam bentuk kata-kata.



    Dia benar…



    Dua tahun lalu, shinobi telah menyelamatkan dunia.



    “Begitu banyak shinobi bertempur dan mengorbankan nyawanya untuk melindungi dunia ini, tapi berapa banyak para penduduk yang mengetahui fakta itu? Nama Uzumaki Naruto, seseorang yang dipuja di seluruh dunia shinobi karena menjadi pahlawan yang mengakhiri perang—bahkan tak dikenal oleh penduduk yang sulit dikendalikan itu! Uchiha Madara, Uchiha Obito, Uchiha Sasuke, Hatake Kakashi, Lima Kage, Akatsuki, semua dari mereka, bukankah suatu fakta bahwa tak ada orang di luar dunia shinobi yang pernah membicarakan tentang mereka?”



    Tepat seperti yang dikatakan Gengo. Tak peduli berapa banyak shinobi yang mempertaruhkan jiwanya untuk melindungi dunia, takkan ada satupun penduduk yang hidup di dunia luar yang pernah mendengar hal itu.



    “Era perdamaian ini dibangun di atas tumpukan jasad  shinobi, namun Daimyou datang dan menduduki tanpa sedikitpun keraguan, terus dengan nyaman memimpin rakyat tanpa berpikir sedikitpun tentang kita. Demi para baj****n itu, kita shinobi pergi bertempur dalam Perang Besar. Kita menjadi tameng hidup untuk Daimyou dan penduduk. Dan kemudian, balasannya?”



    Tak ada yang berubah.



    Baiklah, Shikamaru berpikir bahwa hal itu bukanlah alasan yang tak masuk akal.



    Para musuh yang melawan aliansi shinobi selama perang, Uchiha Madara dan Ootsutsuki Kaguya, telah berniat untuk menarik semua orang ke dalam sebuah genjutsu sehingga mereka dapat menjadikan chakra semua orang sebagai baterai hidup.



    Hasilnya adalah di tengah pertempuran sengit itu, semua penduduk dan Daimyo telah jatuh ke dalam tidur yang nyenyak.



    Namun tetap saja…



    Faktanya adalah, bukan karena tak ada dari mereka yang tahu apa yang terjadi selama Perang Besar. Mereka hanya tidak membicarakan tentang hal itu.



    “Mengapa kita para shinobi yang memiliki kekuatan besar dipaksa untuk hidup di ‘desa tersembunyi’, terus-menerus mengintai dari kegelapan saat menjalani kehidupan sehari-hari kita?”



    Genggo berdiri dari singgasananya.



    “Apakah itu demi yang terbaik?”



    Gengo mengambil satu langkah menuruni tangga. Kemudian melangkah lagi. Ia perlahan turun, tak melepas pandangan Shikamaru, terus berbicara.



    “Shikamaru. Pertanyaan selanjutnya merupakan pertanyaan yang sangat ingin kutanyakan padamu.”



    Gengo mencapai dasar tangga, terus berjalan hingga ia berdiri tepat di depan mata Shikamaru.



    “Bukankah itu yang terbaik jika shinobi lah yang memimpin dunia ini?”



    ‘Kau salah.’



    Shikamaru tak dapat menyebutkan kata itu. Tidak, ia bahkan sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan itu.



    Ia sudah tidak tahu lagi mana yang benar.



    ‘Kita adalah shinobi karena kita menanggung beban.’



    Tak peduli seberapa besar kekuatan yang kau miliki, kau melayani orang-orang secara tak terlihat dan dari bayang-bayang. Itulah yang didefinisikan sebagai shinobi.



    Walaupun begitu.



    'Kemungkinan yang tak terbatas berasal dari chakra dan ninjutsu yang digunakan oleh shinobi. Jika shinobi benar-benar mengambil alih kekuasaan Daimyou seperti yang dikatakan Gengo, dan jika mereka memerintah seluruh negara, bukankah dunia akan membuat kemajuan yang begitu besar dibanding yang telah terjadi sekarang?'



    'Manakah yang merupakan pilihan terbaik untuk semua orang?'



    Ia tak mampu memberikan jawaban.



    “Dengan kekuatan shinobi, perlahan aku akan mengangkat negara ini.” Ucap Gengo.



    “Aku akan menempatkan akhir yang indah dari era perang yang tak henti-hentinya ini. Dengan kekuatan shinobi, itu semua dapat menjadi hal yang mungkin!”



    'Membunuh pria yang disebut Gengo… apakah itu merupakan jalan yang terbaik?'




    Shikamaru sudah tak terlalu yakin lagi.






    Sai memegang sebuah kuas dengan satu tangan, dan sebuah gulungan di tangan lainnya, menggambar dengan berapi-api. Setiap kali ia mengangkat kuasnya dari gulungan, seekor harimau tinta akan menjadi nyata dan menyerang Shikamaru.



    Usaha Shikamaru untuk menangkis serangan mereka berakhir dengan ia terguling dari podium ke dalam kerumunan.



    Ia tak punya waktu untuk hanya mengkhawatirkan Sai. Pikiran Shikamaru benar-benar kacau.



    'Mengapa jurusnya tak bekerja?'



    'Mengapa penyamaran mereka bisa terungkap?'



    'Apa Soku baik-baik saja?'



    Shikamaru menghindari serangan demi serangan dari dalam kerumunan. Dari sudut matanya, ia dapat melihat beberapa Kakusha menahan Rou. Pria itu terus berusaha memberontak, tapi tidak mungkin baginya untuk melepaskan diri dari pria-pria itu sekaligus.



    Bagian pipi Shikamaru yang tergores makhluk tinta Sai terasa tersengat.



    Topeng resin yang Rou kenakan pada Shikamaru untuk menyamarkan wajahnya mulai terkelupas.



    “Sebentar lagi, topeng itu akan hancur seluruhnya, jadi aku rasa kau akan merasa lebih nyaman.” Ucap Sai dengan senyum lugunya.



    Kuasnya tak berhenti bergerak. Harimau tinta demi harimau tinta menjadi nyata, mengepung Shikamaru.



    “Kenapa kau melakukan ini…”



    “Baru saja,” Sai menyadari,



    “Kau mengatakan hal yang memberi kesan kau mengenalku.”



    Shikamaru tak memberitahu Sai bahwa ialah yang ada dibalik topeng itu. Ia tak bisa untuk memulainya.



    Kau takkan menyebutkan namamu jika kau beresiko ditangkap dan namamu akan dilacak hingga ke desamu. Tak akan. Itu merupakan peraturan ketat Shinobi.



    Di belakang para Kakusha yang bergerombol menuju ke arahnya, Shikamaru dapat melihat Gengo masih berdiri dengan tenang di atas podium. Ia tetap bersedekap dan terus melihat pergulatan Shikamaru.



    Andai ia berhasil menangkapnya sekali lagi…



    Shikamaru melompat ke atas salah satu harimau tinta yang mengepungnya, menusuknya dengan kunainya dan melompat turun dengan gerakan yang mulus. Ia berlari segera setelah mendarat di tanah, membebaskan diri dari kepungan makhluk itu. Dari sudut matanya, ia menangkap sekilas harimau itu menghilang menjadi percikan tinta.



    Ada  begitu banyak Kakusha menghadangnya, ia bahkan tak dapat menghitungnya.



    “Apa ini akan bekerja?” Shikamaru bergumam pada dirinya sendiri, membuat segel jutsu dengan tangannya.



    Sulur gelap yang tak terhitung jumlahnya memanjang dari bayangannya di segala arah.



    Kagenui-nya, teknik jahitan bayangan, menggunakan sulur bayangannya untuk menyerang dan mengikat lawannya seperti jarum dan benang. Karena Shikamaru dapat menciptakan jarum bayangan dalam jumlah besar, jurus itu menjadi jurus yang cocok digunakan untuk menghadapi beberapa lawan.



    Shikamaru membidik ke arah harimau-harimau itu dan para Kakusha. Sulur-sulur bayangan berbentuk jarum itu memanjang tanpa kendala. Yang sulur-sulur itu butuhkan hanyalah dorongan yang kuat untuk membidik dan keluar dari tanah.



    “Ayo!” Shikamaru meneriakkan kata itu layaknya jeritan perang. Sulur-sulur itu perlahan bangkit dari tanah, membesar dan bersiap untuk menyambar –



    “Hentikan tindakan tak bergunamu itu.” Gengo memanggil dari atas podium. Saat suara itu terdengar, sulur-sulur bayangan Shikamaru dengan cepat kembali ke tanah, dan berubah menjadi bayangan biasa.



    “Ap- Apa yang kau lakukan?” Shikamaru berteriak marah pada Gengo karena kegagalannya.



    'Kenapa suara itu mempengaruhi bayangannya?'



    'Sebenarnya dia itu apa?'



    “Hm? Aku yakin aku mengenal jurus itu…”



    Sai yang berkomentar. Ia sekarang berdiri di depan Shikamaru, menghadangnya.



    “Sai, jangan kau berani…”



    “Tindakan tak berartimu itu tak enak untuk dipandang.” Ucap Sai tenang, kuasnya dengan cepat menari di atas gulungan di tangannya. Harimau yang keluar dari gulungannya kali ini berwarna hitam putih- dan jauh, jauh lebih besar dari yang lain.



    “Kau akan merasakannya dulu, dan mengerti, sesegera mungkin.” Ujar Sai, menunjuk kuasnya ke arah Shikamaru.



    Harimau hitam putih yang sangat besar menangkapnya sebagai sinyal, dan membuat langkah besar ke arah Shikamaru.



    “Kau k***at…” Gumam Shikamaru, mengeluarkan kunai dan menatap harimau itu, menyiapkan dirinya untuk pertarungan.



    Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu menghantam kaki kanannya. Detik ketika ia menyadarinya, sesuatu lainnya menghantam kaki kirinya, dan tepat saat Shikamaru menyadari para Kakusha melompat ke arahnya, semua sudah terlambat.



    Ia membentur tanah dengan wajah terlebih dahulu, beberapa Kakusha mendudukinya dan menahannya.



    “Untuk berpikir bahwa seseorang yang jeli sepertimu tak menyadari harimau itu hanyalah sebuah pengalihan…pikiranmu pasti benar-benar sedang kacau.” Komentar Sai, menunduk melihat Shikamaru yang mati-matian mencoba bernapas dibawah tubuh orang-orang yang menahannya.



    Pandangan Shikamaru yang terhambat menangkap bayangan seorang pria mendekat dari belakang Sai.



    Gengo.



    “Lepaskan topengnya.” Gengo memerintahkan para Kakusha.



    Sebuah jari menyelinap ke bagian retakan yang disebabkan oleh kuku harimau itu, dan mengupas topeng Shikamaru dalam satu gerakan.



    “Lihat, ternyata ini Shikamaru-san.” Ucap Sai.



    “Jadi ini Si Jenius dari Konohagakure, Nara Shikamaru, huh…”



    Suara Gengo terdengar seperti seorang kolektor yang menemukan benda yang telah lama dicarinya.



    Shikamaru mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah sepasang mata biru yang berbinar mencurigakan. Tatapan Gengo tak lepas darinya beberapa saat.



    Shikamaru tersenyum sinis.



    “Hanya untuk kau tahu,” ucapnya,



    “Jika kau tidak melepaskanku sekarang, hal yang sangat mengerikan akan terjadi nanti.”



    “Aku tak memiliki rasa takut. Kau akan hidup dengan baik bersamaku.”



    Kata-kata Gengo yang meyakinkan itu diikuti dengan rasa sakit yang tajam pada leher Shikamaru, dan ia kehilangan kesadaran.



    ⁰ₒ⁰

    Ini merupakan kegelapan yang sebenarnya



    Tak ada cahaya atau apapun itu, Shikamaru bahkan tak dapat melihat tangannya yang berada seinchi dari wajahnya.



    Dalam kegelapan seperti inilah ia duduk dan tenggelam dalam pikirannya.



    Ia tak yakin sudah berapa hari berlalu. Dinilai dari berapa kali mereka memberinya makan, dan keadaan perutnya, paling tidak sudah lima hari.



    'Bagaimana semua bisa berubah seperti ini?'



    Tak peduli berapa kali Shikamaru memutar-balikkan kejadian itu di kepalanya, ia tak dapat menemukan jawabannya.



    Bukan hanya masalah Sai.



    Ia memanjangkan bayangannya menuju ke arah podium dimana Gengo berdiri. Namun bayangannya tak mampu menjerat kakinya, kehilangan pandangan dari targetnya.



    Dan Gengo telah mengetahui keberadaan Shikamaru dan yang lainnya. Ia menyebut mereka ‘tikus’. Semua ini terjadi meskipun mereka telah menyembunyikan chakra dengan sempurna.



    Rasanya seperti terdapat sebuah penghalang di sekitar pria itu yang membuat semua jutsu mereka tak berguna saat mereka mencapai jarak tertentu darinya.



    'Apakah Gengo benar-benar bisa mematahkan jutsu?'



    Shikamaru tak dapat mengatakannya. Tapi tak salah lagi, sesuatu telah mengganggu jutsu Shikamaru dan Rou.



    Bayangan Shikamaru tak dapat mencapai Gengo. Juga saat ia mencoba menggunakan kagenui-nya melawan monster harimau Sai, bayangannya tiba-tiba tersendat dan kehilangan kekuatan.



    Kesimpulan yang paling sesuai adalah bahwa baik Gengo atau pengaruh dari sekitar Gengo telah melemahkan potensi kagemane-nya.



    Mengikuti rentetan pemikiran tersebut, terdapat kemungkinan yang besar bahwa jutsu Rou mengalami efek yang sama dan dilunturkan. Kemudian, jejak chakra Shikamaru sendiri kemungkinan telah menyeruak dari penyamarannya, memungkinkan Gengo untuk menyadari keberadaannya.



    Itulah teori yang yang ia yakini saat ini.



    'Jutsu tak bekerja terhadap Gengo…'



    'Tapi kenapa?'



    Shikamaru tak memiliki waktu untuk mengumpulkan informasi yang cukup untuk memahami kebenaran dibalik fenomena ini. Ia tak mendapatkan kesempatan untuk menginvestigasi apapun, walau sedikit, jadi tentu saja tak ada yang dapat ia lakukan.



    Tak memiliki apa-apa untuk melakukan sesuatu, tak mampu memikirkan penyebabnya, membuatnya jengkel.



    Ia kehilangan akal…



    “Geugh! Urghh!”



    Dari suatu tempat dibalik kegelapan itu, erangan kesakitan Rou mencapai telinga Shikamaru. Jeritan Soku juga datang dari balik kegelapan itu. Mereka berdua terdengar seperti sedang mengalami penyiksaan. Ia hanya mendengar suara mereka dalam erangan dan rintihan.



    Untuk beberapa alasan, Shikamaru sama sekali tak disiksa.



    “Maafkan aku…” Ia bergumam, melihat ke arah suara Rou yang kesakitan, meskipun diragukan apakah pria itu mendengar.



    Inilah hasil dari tindakan Shikamaru yang gegabah.



    Bukankah akan menjadi lebih baik jika ia sedikit menginvestigasi Gengo sebelum bertindak?



    Begitu banyak rencana lain yang ia bisa lakukan …



    Shikamaru memberikan tinjunya membabi-buta dalam kegelapan, meninju lantai batu yang dingin di bawahnya. Ia meninju lagi dan lagi…



    “Apa kau masih hidup?”



    Suara Gengo menuju ke arah Shikamaru dari kegelapan.



    “Atau kau sudah mati?” Suaranya yang seperti penculik itu membuat nada seolah ia khawatir karena tak ada jawaban.



    Chakra Shikamaru sudah habis, namun ia tak mati, dan ia tau Gengo sangat menyadari akan hal itu. Menanyakan pertanyaan yang telah ia ketahui jawabannya merupakan hal yang tak lebih dari sebuah sindiran.



    “Aku lihat kau menghabiskan seluruh makananmu.”



    Shikamaru memakan semua yang mereka berikan padanya. Tentu saja, hanya setelah memeriksa apakah itu diracuni atau tidak. Kemampuan untuk merasakan keberadaan berbagai racun hanya dengan satu jilatan merupakan salah satu fondasi dasar dari shinobi.



    Shikamaru makan karena ia belum menyerah.



    Selama ia masih hidup, masih ada celah yang dapat menjadi kesempatan untuk melarikan diri. Jika tubuhnya tak dapat bergerak sesuai keinginannya saat kesempatan itu tiba, ia akan mati.



    Tak ada shinobi yang menyerahkan harapan hidupnya. Untuk terus bertahan tak peduli apapun yang terjadi, untuk terus melaksanakan kewajibanmu tak peduli apa yang terjadi, itu adalah shinobi yang sebenarnya.



    Kita adalah Shinobi karena kita bertahan.



    Itulah mengapa Shikamaru harus yakin bahwah Rou dan Soku juga belum menyerah.



    “Apa kau sudah lebih tenang, setelah menghabiskan berhari-hari dalam kegelapan seperti ini?” Tanya Gengo.



    “Apa kau merasa mendengar perkataanku?”



    “Sayang sekali,” ucap Shikamaru,



    “Kegelapan merupakan teman yang sangat dekat denganku.”



    “Kau orang yang menarik.” Gengo tertawa.



    “Aku akan datang lagi.”



    Pria itu menghilang secepat suara itu datang.



    “ARRGGGGGHHHHHHHHHHHH!”



    Rou mulai menjerit lagi.

    Novel Shikamaru Hiden Chapter 11

    Posted at  January 18, 2017  |  in    |  Read More»






    Sai memegang sebuah kuas dengan satu tangan, dan sebuah gulungan di tangan lainnya, menggambar dengan berapi-api. Setiap kali ia mengangkat kuasnya dari gulungan, seekor harimau tinta akan menjadi nyata dan menyerang Shikamaru.



    Usaha Shikamaru untuk menangkis serangan mereka berakhir dengan ia terguling dari podium ke dalam kerumunan.



    Ia tak punya waktu untuk hanya mengkhawatirkan Sai. Pikiran Shikamaru benar-benar kacau.



    'Mengapa jurusnya tak bekerja?'



    'Mengapa penyamaran mereka bisa terungkap?'



    'Apa Soku baik-baik saja?'



    Shikamaru menghindari serangan demi serangan dari dalam kerumunan. Dari sudut matanya, ia dapat melihat beberapa Kakusha menahan Rou. Pria itu terus berusaha memberontak, tapi tidak mungkin baginya untuk melepaskan diri dari pria-pria itu sekaligus.



    Bagian pipi Shikamaru yang tergores makhluk tinta Sai terasa tersengat.



    Topeng resin yang Rou kenakan pada Shikamaru untuk menyamarkan wajahnya mulai terkelupas.



    “Sebentar lagi, topeng itu akan hancur seluruhnya, jadi aku rasa kau akan merasa lebih nyaman.” Ucap Sai dengan senyum lugunya.



    Kuasnya tak berhenti bergerak. Harimau tinta demi harimau tinta menjadi nyata, mengepung Shikamaru.



    “Kenapa kau melakukan ini…”



    “Baru saja,” Sai menyadari,



    “Kau mengatakan hal yang memberi kesan kau mengenalku.”



    Shikamaru tak memberitahu Sai bahwa ialah yang ada dibalik topeng itu. Ia tak bisa untuk memulainya.



    Kau takkan menyebutkan namamu jika kau beresiko ditangkap dan namamu akan dilacak hingga ke desamu. Tak akan. Itu merupakan peraturan ketat Shinobi.



    Di belakang para Kakusha yang bergerombol menuju ke arahnya, Shikamaru dapat melihat Gengo masih berdiri dengan tenang di atas podium. Ia tetap bersedekap dan terus melihat pergulatan Shikamaru.



    Andai ia berhasil menangkapnya sekali lagi…



    Shikamaru melompat ke atas salah satu harimau tinta yang mengepungnya, menusuknya dengan kunainya dan melompat turun dengan gerakan yang mulus. Ia berlari segera setelah mendarat di tanah, membebaskan diri dari kepungan makhluk itu. Dari sudut matanya, ia menangkap sekilas harimau itu menghilang menjadi percikan tinta.



    Ada  begitu banyak Kakusha menghadangnya, ia bahkan tak dapat menghitungnya.



    “Apa ini akan bekerja?” Shikamaru bergumam pada dirinya sendiri, membuat segel jutsu dengan tangannya.



    Sulur gelap yang tak terhitung jumlahnya memanjang dari bayangannya di segala arah.



    Kagenui-nya, teknik jahitan bayangan, menggunakan sulur bayangannya untuk menyerang dan mengikat lawannya seperti jarum dan benang. Karena Shikamaru dapat menciptakan jarum bayangan dalam jumlah besar, jurus itu menjadi jurus yang cocok digunakan untuk menghadapi beberapa lawan.



    Shikamaru membidik ke arah harimau-harimau itu dan para Kakusha. Sulur-sulur bayangan berbentuk jarum itu memanjang tanpa kendala. Yang sulur-sulur itu butuhkan hanyalah dorongan yang kuat untuk membidik dan keluar dari tanah.



    “Ayo!” Shikamaru meneriakkan kata itu layaknya jeritan perang. Sulur-sulur itu perlahan bangkit dari tanah, membesar dan bersiap untuk menyambar –



    “Hentikan tindakan tak bergunamu itu.” Gengo memanggil dari atas podium. Saat suara itu terdengar, sulur-sulur bayangan Shikamaru dengan cepat kembali ke tanah, dan berubah menjadi bayangan biasa.



    “Ap- Apa yang kau lakukan?” Shikamaru berteriak marah pada Gengo karena kegagalannya.



    'Kenapa suara itu mempengaruhi bayangannya?'



    'Sebenarnya dia itu apa?'



    “Hm? Aku yakin aku mengenal jurus itu…”



    Sai yang berkomentar. Ia sekarang berdiri di depan Shikamaru, menghadangnya.



    “Sai, jangan kau berani…”



    “Tindakan tak berartimu itu tak enak untuk dipandang.” Ucap Sai tenang, kuasnya dengan cepat menari di atas gulungan di tangannya. Harimau yang keluar dari gulungannya kali ini berwarna hitam putih- dan jauh, jauh lebih besar dari yang lain.



    “Kau akan merasakannya dulu, dan mengerti, sesegera mungkin.” Ujar Sai, menunjuk kuasnya ke arah Shikamaru.



    Harimau hitam putih yang sangat besar menangkapnya sebagai sinyal, dan membuat langkah besar ke arah Shikamaru.



    “Kau k***at…” Gumam Shikamaru, mengeluarkan kunai dan menatap harimau itu, menyiapkan dirinya untuk pertarungan.



    Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu menghantam kaki kanannya. Detik ketika ia menyadarinya, sesuatu lainnya menghantam kaki kirinya, dan tepat saat Shikamaru menyadari para Kakusha melompat ke arahnya, semua sudah terlambat.



    Ia membentur tanah dengan wajah terlebih dahulu, beberapa Kakusha mendudukinya dan menahannya.



    “Untuk berpikir bahwa seseorang yang jeli sepertimu tak menyadari harimau itu hanyalah sebuah pengalihan…pikiranmu pasti benar-benar sedang kacau.” Komentar Sai, menunduk melihat Shikamaru yang mati-matian mencoba bernapas dibawah tubuh orang-orang yang menahannya.



    Pandangan Shikamaru yang terhambat menangkap bayangan seorang pria mendekat dari belakang Sai.



    Gengo.



    “Lepaskan topengnya.” Gengo memerintahkan para Kakusha.



    Sebuah jari menyelinap ke bagian retakan yang disebabkan oleh kuku harimau itu, dan mengupas topeng Shikamaru dalam satu gerakan.



    “Lihat, ternyata ini Shikamaru-san.” Ucap Sai.



    “Jadi ini Si Jenius dari Konohagakure, Nara Shikamaru, huh…”



    Suara Gengo terdengar seperti seorang kolektor yang menemukan benda yang telah lama dicarinya.



    Shikamaru mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah sepasang mata biru yang berbinar mencurigakan. Tatapan Gengo tak lepas darinya beberapa saat.



    Shikamaru tersenyum sinis.



    “Hanya untuk kau tahu,” ucapnya,



    “Jika kau tidak melepaskanku sekarang, hal yang sangat mengerikan akan terjadi nanti.”



    “Aku tak memiliki rasa takut. Kau akan hidup dengan baik bersamaku.”



    Kata-kata Gengo yang meyakinkan itu diikuti dengan rasa sakit yang tajam pada leher Shikamaru, dan ia kehilangan kesadaran.



    ⁰ₒ⁰

    Ini merupakan kegelapan yang sebenarnya



    Tak ada cahaya atau apapun itu, Shikamaru bahkan tak dapat melihat tangannya yang berada seinchi dari wajahnya.



    Dalam kegelapan seperti inilah ia duduk dan tenggelam dalam pikirannya.



    Ia tak yakin sudah berapa hari berlalu. Dinilai dari berapa kali mereka memberinya makan, dan keadaan perutnya, paling tidak sudah lima hari.



    'Bagaimana semua bisa berubah seperti ini?'



    Tak peduli berapa kali Shikamaru memutar-balikkan kejadian itu di kepalanya, ia tak dapat menemukan jawabannya.



    Bukan hanya masalah Sai.



    Ia memanjangkan bayangannya menuju ke arah podium dimana Gengo berdiri. Namun bayangannya tak mampu menjerat kakinya, kehilangan pandangan dari targetnya.



    Dan Gengo telah mengetahui keberadaan Shikamaru dan yang lainnya. Ia menyebut mereka ‘tikus’. Semua ini terjadi meskipun mereka telah menyembunyikan chakra dengan sempurna.



    Rasanya seperti terdapat sebuah penghalang di sekitar pria itu yang membuat semua jutsu mereka tak berguna saat mereka mencapai jarak tertentu darinya.



    'Apakah Gengo benar-benar bisa mematahkan jutsu?'



    Shikamaru tak dapat mengatakannya. Tapi tak salah lagi, sesuatu telah mengganggu jutsu Shikamaru dan Rou.



    Bayangan Shikamaru tak dapat mencapai Gengo. Juga saat ia mencoba menggunakan kagenui-nya melawan monster harimau Sai, bayangannya tiba-tiba tersendat dan kehilangan kekuatan.



    Kesimpulan yang paling sesuai adalah bahwa baik Gengo atau pengaruh dari sekitar Gengo telah melemahkan potensi kagemane-nya.



    Mengikuti rentetan pemikiran tersebut, terdapat kemungkinan yang besar bahwa jutsu Rou mengalami efek yang sama dan dilunturkan. Kemudian, jejak chakra Shikamaru sendiri kemungkinan telah menyeruak dari penyamarannya, memungkinkan Gengo untuk menyadari keberadaannya.



    Itulah teori yang yang ia yakini saat ini.



    'Jutsu tak bekerja terhadap Gengo…'



    'Tapi kenapa?'



    Shikamaru tak memiliki waktu untuk mengumpulkan informasi yang cukup untuk memahami kebenaran dibalik fenomena ini. Ia tak mendapatkan kesempatan untuk menginvestigasi apapun, walau sedikit, jadi tentu saja tak ada yang dapat ia lakukan.



    Tak memiliki apa-apa untuk melakukan sesuatu, tak mampu memikirkan penyebabnya, membuatnya jengkel.



    Ia kehilangan akal…



    “Geugh! Urghh!”



    Dari suatu tempat dibalik kegelapan itu, erangan kesakitan Rou mencapai telinga Shikamaru. Jeritan Soku juga datang dari balik kegelapan itu. Mereka berdua terdengar seperti sedang mengalami penyiksaan. Ia hanya mendengar suara mereka dalam erangan dan rintihan.



    Untuk beberapa alasan, Shikamaru sama sekali tak disiksa.



    “Maafkan aku…” Ia bergumam, melihat ke arah suara Rou yang kesakitan, meskipun diragukan apakah pria itu mendengar.



    Inilah hasil dari tindakan Shikamaru yang gegabah.



    Bukankah akan menjadi lebih baik jika ia sedikit menginvestigasi Gengo sebelum bertindak?



    Begitu banyak rencana lain yang ia bisa lakukan …



    Shikamaru memberikan tinjunya membabi-buta dalam kegelapan, meninju lantai batu yang dingin di bawahnya. Ia meninju lagi dan lagi…



    “Apa kau masih hidup?”



    Suara Gengo menuju ke arah Shikamaru dari kegelapan.



    “Atau kau sudah mati?” Suaranya yang seperti penculik itu membuat nada seolah ia khawatir karena tak ada jawaban.



    Chakra Shikamaru sudah habis, namun ia tak mati, dan ia tau Gengo sangat menyadari akan hal itu. Menanyakan pertanyaan yang telah ia ketahui jawabannya merupakan hal yang tak lebih dari sebuah sindiran.



    “Aku lihat kau menghabiskan seluruh makananmu.”



    Shikamaru memakan semua yang mereka berikan padanya. Tentu saja, hanya setelah memeriksa apakah itu diracuni atau tidak. Kemampuan untuk merasakan keberadaan berbagai racun hanya dengan satu jilatan merupakan salah satu fondasi dasar dari shinobi.



    Shikamaru makan karena ia belum menyerah.



    Selama ia masih hidup, masih ada celah yang dapat menjadi kesempatan untuk melarikan diri. Jika tubuhnya tak dapat bergerak sesuai keinginannya saat kesempatan itu tiba, ia akan mati.



    Tak ada shinobi yang menyerahkan harapan hidupnya. Untuk terus bertahan tak peduli apapun yang terjadi, untuk terus melaksanakan kewajibanmu tak peduli apa yang terjadi, itu adalah shinobi yang sebenarnya.



    Kita adalah Shinobi karena kita bertahan.



    Itulah mengapa Shikamaru harus yakin bahwah Rou dan Soku juga belum menyerah.



    “Apa kau sudah lebih tenang, setelah menghabiskan berhari-hari dalam kegelapan seperti ini?” Tanya Gengo.



    “Apa kau merasa mendengar perkataanku?”



    “Sayang sekali,” ucap Shikamaru,



    “Kegelapan merupakan teman yang sangat dekat denganku.”



    “Kau orang yang menarik.” Gengo tertawa.



    “Aku akan datang lagi.”



    Pria itu menghilang secepat suara itu datang.



    “ARRGGGGGHHHHHHHHHHHH!”



    Rou mulai menjerit lagi.






    Begitu banyak orang yang berkumpul di alun-alun depan istana hingga Shikamaru tak akan terkejut jika mereka merupakan seluruh populasi kota.



    Bukan hanya para Kakusha dengan jubah hitam panjangnya. Pria dan wanita, laki-laki dan perempuan, segala umur dan golongan berkumpul dalam sebuah kerumunan besar yang kacau, menunggu kemunculan pemimpin mereka.



    Mereka semua memasang ekspresi antusias dan penuh minat yang sama di wajah mereka, mata mereka berapi-api dengan kesetiaan. Suara mereka bercampur, menggumamkan pujian dan pengagungan sembari mereka menunggu. Setelah dipertimbangkan, Shikamaru menganggap mereka berisik dan menjengkelkan.



    Terjebak di tengah kerumunan yang menggila, dan terlebih lagi di dalam jubah, Shikamaru dapat merasakan kulitnya mulai licin karena keringat.



    Rou berada di sebelahnya. Soku mengintai dari atas atap gedung beton di seberang istana itu.



    Jurus Rou telah menyamarkan chakra Shikamaru agar terlihat seperti chakra pemilik jubah yang digunakannya. Baik kualitas maupun kuantitas, semua sama persis dengan Kakusha itu. Rou, tentu saja, melakukan hal yang sama pada chakranya dan Kakusha yang sebelumnya menggunakan jubahnya.



    Tentu saja, mereka juga menyamarkan wajah mereka. Sekali lagi, itu merupakan hasil dari ketrampilan Rou. Tak peduli seberapa baik mereka menyembunyikan chakra, jika pasukan musuh memiliki seseorang dengan mata yang tajam dan merupakan pengingat wajah yang baik, mereka akan diketahui dalam sekejap. Kemampuan Rou telah menjamin mereka tersembunyi lebih dari cukup, baik chakra maupun kemungkinan mereka dapat terlihat. Meskipun jika wajah mereka diperiksa, tidak mungkin akan ditemukan  perbedaan antara mereka dengan Kakusha yang sebenarnya.



    Terlebih lagi, Shikamaru dan Rou tersembunyi diantara kerumunan besar.



    Semuanya telah dipersiapkan agar musuh tidak akan menemukan cara untuk melihat keberadaan mereka.



    “Untuk sekarang, ayo kita menuju tempat itu.” Gumam Rou dengan suara pelan.



    Ia hanya sedikit menggerakkan mulutnya saat berbicara, matanya tak pernah lepas dari podium di depan kerumunan itu. Podium itu sedikit lebih tinggi dari tanah, dengan tangga kayu di  sisinya. Tidak terdapat apa-apa di podium itu, tak satupun mikrofon ataupun penjaga. Kerumunan itu berdesak-desakan ke depan, cukup dekat bagi mereka untuk menyentuhnya.



    “Saya katakan, apakah Gengo benar-benar akan muncul?” Rou bergumam ragu.



    Tidak salah jika ia merasa ragu. Untuk seorang pemimpin negara, berdiri di podium tanpa penjagaan merupakan hal yang sangat berbahaya. Jika Gengo muncul, maka itu sama dengan mengatakan bahwa dia tak memiliki sedikitpun kecurigaan terhadap siapapun yang dapat membahayakan jiwanya.



    “Untuk sekarang, lebih baik kita mencoba mendekat dan menunggu. Jika Gengo tidak muncul, maka kita akan mundur secara diam-diam.”



    “Dimengerti.”



    Mereka hanya perlu mencapai jarak dimana kagemane Shikamaru dapat menggapai pria di podium itu. Jika Shikamaru dapat menghentikan pergerakan Gengo, maka Jarum Chakra Soku yang akan melanjutan sisanya.



    “Jika dia hanya akan munc-”



    Gumaman Rou terpotong oleh sorak sorai dari depan kerumunan terdekat dari podium itu. Teriakan gembira muncul dan menyebar seperti gelombang tidal di alun-alun. Bersamaan dengan Shikamaru yang mendorong untuk membuat jalannya ke depan, semua orang bersorak kencang hingga gendang telinganya terasa ingin pecah.



    Seorang pria muncul di podium itu.



    Dia mengenakan jubah hitam panjang yang sama dengan para Kakusha, namun diselimuti oleh ornamen yang penuh warna, begitu pula dengan sabuk perak besar. Lebih lagi, lengan jubahnya dibordir dengan ular perak di sekeliling pergelangannya.



    Rambutnya berwarna biru indigo gelap. Dia memiliki rahang yang kuat, perawakan maskulin, dan posturnya jelas dan tegap. Dia melihat dengan tenang ke arah kerumunan yang bersorak menggunakan matanya yang jernih dan tampak cerdas. Ada sedikit jejak jerami pada rahangnya. Dia tampak berusia sekitar 30 tahun.



    “Pria itu kemungkinan besar adalah Gengo, iya kan?” Gumam Rou,  berhenti berjalan sesaat.



    Shikamaru terus berjalan tanpa memberikan  jawaban. Ia merasakan keyakinan yang kuat bahwa pria itu pastilah Gengo.



    Perlahan, pria itu mengangkat tangan kanannya ke udara. Seketika, sorak-sorai menjadi diam. Gengo memejamkan matanya merasa puas karena reaksi itu, sebuah senyum kecil tersungging di wajahnya. Ia menarik nafas dalam, kemudian membuka matanya dan mulai berbicara.



    “Pertama-tama, aku ingin menyatakan rasa terima kasihku kepada kalian yang telah berkumpul disini.”



    Suaranya dalam dan berat, menenangkan untuk didengar. Suara itu memiliki sesuatu yang misterius yang membuatmu merasa mendengarnya bukan hanya dengan telingamu, tapi dengan seluruh tubuhmu. Shikamaru merasakan perasaan yang mengganggu dan membuat gelisah dalam dadanya, seolah suara pria itu menggores hatinya.



    Mata Rou bertemu mata Shikamaru kemudian perlahan mereka mendekati podium. Sudah jelas bahwa ia juga merasakan sensasi tak nyaman yang sama. Langkah kedua shinobi itu menjadi seimbang, menjaga agar pergerakan mereka tetap lambat, halus dan senyap.



    Gengo membungkuk kecil kepada kerumunan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya, dan kemudian mulai berbicara lagi.



    “Sudah sepuluh tahun sejak aku datang untuk berdiri di podium ini. Kita telah memperoleh banyak orang yang mengikuti cara berpikir kita, dan negara kita telah mulai makmur. Namun, belum ada satupun keinginan kita yang telah terwujud.”



    Semua orang mendengarkan dengan penuh keheningan. Saat kata-kata pria itu terhenti, sebuah atmosfir aneh berubah menjadi kesunyian dari kerumunan, seolah setiap inchi dari alun-alun itu berada dalam pengaruhnya.



    “Aku memiliki sebuah pertanyaan untuk kalian seluruh rakyat Negeri Sunyi!”



    Suara Gengo yang tadinya tenang dan teratur kini mengeras dengan amarah yang menggelora. Kata-katanya yang diteriakkan tampak berasal dari dalam jiwanya.



    “Negara ini dulu dikuasai oleh Daimyou, dan kini negara ini… Dunia seperti apa yang menurut kalian lebih baik? Siapa yang lebih baik memimpin dunia ini?”



    “GENGO-SAMA!”



    Para penduduk meneriakkan persetujuan mereka, suara mereka menggema melintasi alun-alun layaknya gelombang tidal.



    “Tidak salah lagi, pria itu adalah Gengo.” Gumam Rou.



    Shikamaru mengangguk dalam diam, berbalik ke arah podium. Mereka hampir tiba disana, beberapa meter lagi menuju jarak yang memungkinkan kagemane Shikamaru mencapai dan mengikat targetnya.



    Seluruh misi akan ditentukan dalam satu waktu…



    Gengo mengangkat tangan kanannya, dan kerumunan kembali terdiam.



    “Aku telah menerima jawaban kalian. Hari-hari dimana kita dipimpin oleh Daimyou yang melihat kekuatan, kebijaksanaan, dan kita, para shinobi, sebagai hal yang tak penting- hari-hari yang kelam itu telah lama berlalu! Rakyatku, kalian kini dapat menemukan kedamaian. Kami para Kakusha akan melindungi kalian selamanya, dengan kekuatan dan hidup kami. Karena semua itu adalah yang kami, para Kakusha, inginkan.”



    Semua orang tampak dimabukkan dengan kata-kata itu. Mereka diombang-ambingkan oleh emosi. Beberapa bahkan menangis.



    Sejujurnya Shikamaru tidak merasa semua yang Gengo telah katakan merupakan hal yang terlalu penting. Tak peduli bagaimana ia memutarbalikkan kata-kata di kepalanya, itu tidak tampak seperti pidato yang terlalu bagus. Akan tetapi, ia telah mengetahui bahwa suara Gengo memiliki kekuatan yang misterius di dalamnya. Pria itu memiliki kekuatan yang membuatmu mendengarkan suaranya tak peduli apa yang ia katakan.



    “Negeri Sunyi kita berada di daerah yang sangat terpinggir di kontinen ini. Sejarah kita adalah orang asing, tertindas dan ditindas. Leluhur kita tidak memutuskan kontak dengan dunia luar untuk memutuskan pertukaran kita dengan orang lain. Itu untuk melindungi milik kita. Selama kita tetap berada di luar kontak dunia luar, kita akan tetap lemah. Namun kini, semua telah berakhir.”



    Suara Gengo meninggi, sangat marah.



    “Orang yang seharusnya memimpin negara ini bukanlah Daimyou, tapi kita, yang memiliki kekuatan shinobi! Itulah keadilan yang sebenarnya. Karena perjuangan shinobi lah para penduduk terlindungi. Kehadiran shinobi yang memiliki kekuatan di atas manusia biasa selalu ditemukan di seluruh dunia. Dan malah, kita dipimpin oleh Daimyou, yang egois, memikirkan diri sendiri, sementara mereka menghancurkan shinobi dan rakyat di bawah kaki mereka! Lihatlah negara ini. Sudah 10 tahun sejak aku melenyapkan Daimyou.  Lihatlah kemakmuran yang telah diraih Negara ini!”



    Dada Gengo dipenuhi oleh rasa bangga.



    “Hampir sampai.” Gumam Shikamaru.



    Hanya beberapa langkah lagi, dan Gengo akan berada dalam jarak kagemane-nya.



    “Aku akan melenyapkan Daimyou dari dunia ini, dan menciptakan dunia yang baru untuk kita. Mengapa shinobi tidak diakui dan dihormati? Kita yang memiliki kekuatan yang lebih besar dari Daimyou. Kita memiliki kekuatan yang lebih besar daripada manusia lain! Mengapa  kita, yang melampaui yang lain, terus tertindas? Bukankah ciri khas kita jauh lebih hebat daripada orang lain? Karena Daimyou takut akan era shinobi, maka mereka mendiskriminasi kita, mengasingkan kita, dan membuat kita berada dalam pengaruh mereka! Rakyat dan shinobi adalah sama, kita merupakan korban dari keegoisan para Daimyou!”



    Mereka semakin dekat dengan Gengo. Dari jarak ini, hampir tampak seperti ada percikan biru keluar dari mata pria yang berapi-api itu.



    “Revolusi…”



    Sedikit lagi hingga mereka mencapainya. Sedikit lagi.



    Pria yang berdiri di depan mata mereka hampir dapat dipastikan adalah Gengo, dan mereka dapat dengan mudah mendekatinya tanpa disadari- begitu mudah hingga Shikamaru merasa bosan.



    Ia memikirkan kemungkinan bahwa ini adalah jebakan.



    Namun tidak mungkin musuh menyadari keberadaan mereka, dan mereka tak boleh melewatkan kesempatan ini.



    “Akatsuki pernah berdiri dengan niat untuk mengubah dunia ini. Namun mereka dihancurkan. Mereka dihancurkan oleh dunia shinobi yang tetap tak berubah dari waktu ke waktu, tak ada hari ini yang lebih baik dari kemarin, dengan shinobi yang masih dikuasai dan didiskriminasi. Namun Akatsuki hidup dalam nama mereka…mereka adalah fajar. Mereka merupakan tanda bahwa pagi yang cerah akan tiba. Dengar, kalian yang memiliki mentari pagilah yang akan bangkit dari kegelapan yang sunyi.”



    Gengo perlahan mengangkat kedua tangannya, seolah ia sedang menyambut dewa dari surga.



    “Sinar mentari pertama saat fajar di era yang baru ini, akan bersinar dari Negeri Sunyi kita!”



    Para penduduk bersorak, suara teriakan mereka menutupi segala sesuatu yang lain.



    Inilah kesempatan mereka.



    Shikamaru membebaskan bayangannya. Sebuah sulur merayap melewati kerumunan seperti ular berwarna hitam, merayap ke atas podium dan berhenti di kaki Gengo.



    Begitu ular bayangan itu menangkap dan menahan Gengo, pergerakannya akan dapat dihentikan, dan jarum chakra Soku akan menyelesaikan urusannya.



    Semuanya akan baik-baik saja jika berjalan sesuai rencananya.



    Hanya saja kagemane-nya…



    Tak dapat menggapai Gengo.



    “Ap-!”



    Dia seharusnya telah berada dalam jaraknya. Dia berada dalam jaraknya! Kenapa bayangannya tak dapat mencapai-



    “Ada tikus yang menyelinap di sana.” Pandangan Gengo perlahan mengarah tepat ke mata Shikamaru.



    “Dia menyadari keberadaan kita, Tuan-!” Jerit Rou.



    Beberapa bayangan melompat keluar dari belakang Gengo dan melayang ke arah Rou, menahannya.



    Shikamaru segera mencoba untuk menggapai Gengo dengan bayangannya sekali lagi.



    “Tak ada gunanya.” Gengo berkata tanpa perasaan.



    Bayangan Shikamaru, sesuatu yang sangat akrab dengannya seperti tangan dan kakinya sendiri, berubah menjadi layang-layang yang terputus dari benangnya. Sulurnya sama sekali tak mengenai sasaran, berputar-putar melingkar, bergerak sia-sia di tanah.



    Baiklah kalau begitu…



    Shikamaru melompat ke atas podium, mengeluarkan kunai dari balik jubahnya. Jika rencana itu telah gagal, maka ia akan menyerang dan melakukannya sendiri.



    Gengo tak bergerak untuk lari dari Shikamaru. Sebuah senyum tipis melengkung di wajahnya.



    Shikamaru berlari ke arahnya, melemparkan kunai ke arah leher pria itu dengan penuh perhitungan.



    Seseorang datang ke arah Shikamaru dari sisi podium, menendang perutnya dengan keras. Ia terguling ke sisi benda kayu itu sebagai dampaknya, dan dengan cepat duduk di atas satu lutut, kunainya telah siap.



    Dia menatap.



    “Kau- apa yang kau…?”



    Seorang pria berdiri diantara Gengo dan Shikamaru. Ia memiliki kulit abu-abu pucat. Mata yang sayu, dengan emosi yang tak terbaca. Mulut yang lurus dan jujur.



    “Apa yang kau lakukan…?”



    Tak salah lagi.



    Shikamaru memanggil nama pria itu.



    “…Sai.”

    Novel Shikamaru Hiden Chapter 10

    Posted at  January 18, 2017  |  in    |  Read More»






    Begitu banyak orang yang berkumpul di alun-alun depan istana hingga Shikamaru tak akan terkejut jika mereka merupakan seluruh populasi kota.



    Bukan hanya para Kakusha dengan jubah hitam panjangnya. Pria dan wanita, laki-laki dan perempuan, segala umur dan golongan berkumpul dalam sebuah kerumunan besar yang kacau, menunggu kemunculan pemimpin mereka.



    Mereka semua memasang ekspresi antusias dan penuh minat yang sama di wajah mereka, mata mereka berapi-api dengan kesetiaan. Suara mereka bercampur, menggumamkan pujian dan pengagungan sembari mereka menunggu. Setelah dipertimbangkan, Shikamaru menganggap mereka berisik dan menjengkelkan.



    Terjebak di tengah kerumunan yang menggila, dan terlebih lagi di dalam jubah, Shikamaru dapat merasakan kulitnya mulai licin karena keringat.



    Rou berada di sebelahnya. Soku mengintai dari atas atap gedung beton di seberang istana itu.



    Jurus Rou telah menyamarkan chakra Shikamaru agar terlihat seperti chakra pemilik jubah yang digunakannya. Baik kualitas maupun kuantitas, semua sama persis dengan Kakusha itu. Rou, tentu saja, melakukan hal yang sama pada chakranya dan Kakusha yang sebelumnya menggunakan jubahnya.



    Tentu saja, mereka juga menyamarkan wajah mereka. Sekali lagi, itu merupakan hasil dari ketrampilan Rou. Tak peduli seberapa baik mereka menyembunyikan chakra, jika pasukan musuh memiliki seseorang dengan mata yang tajam dan merupakan pengingat wajah yang baik, mereka akan diketahui dalam sekejap. Kemampuan Rou telah menjamin mereka tersembunyi lebih dari cukup, baik chakra maupun kemungkinan mereka dapat terlihat. Meskipun jika wajah mereka diperiksa, tidak mungkin akan ditemukan  perbedaan antara mereka dengan Kakusha yang sebenarnya.



    Terlebih lagi, Shikamaru dan Rou tersembunyi diantara kerumunan besar.



    Semuanya telah dipersiapkan agar musuh tidak akan menemukan cara untuk melihat keberadaan mereka.



    “Untuk sekarang, ayo kita menuju tempat itu.” Gumam Rou dengan suara pelan.



    Ia hanya sedikit menggerakkan mulutnya saat berbicara, matanya tak pernah lepas dari podium di depan kerumunan itu. Podium itu sedikit lebih tinggi dari tanah, dengan tangga kayu di  sisinya. Tidak terdapat apa-apa di podium itu, tak satupun mikrofon ataupun penjaga. Kerumunan itu berdesak-desakan ke depan, cukup dekat bagi mereka untuk menyentuhnya.



    “Saya katakan, apakah Gengo benar-benar akan muncul?” Rou bergumam ragu.



    Tidak salah jika ia merasa ragu. Untuk seorang pemimpin negara, berdiri di podium tanpa penjagaan merupakan hal yang sangat berbahaya. Jika Gengo muncul, maka itu sama dengan mengatakan bahwa dia tak memiliki sedikitpun kecurigaan terhadap siapapun yang dapat membahayakan jiwanya.



    “Untuk sekarang, lebih baik kita mencoba mendekat dan menunggu. Jika Gengo tidak muncul, maka kita akan mundur secara diam-diam.”



    “Dimengerti.”



    Mereka hanya perlu mencapai jarak dimana kagemane Shikamaru dapat menggapai pria di podium itu. Jika Shikamaru dapat menghentikan pergerakan Gengo, maka Jarum Chakra Soku yang akan melanjutan sisanya.



    “Jika dia hanya akan munc-”



    Gumaman Rou terpotong oleh sorak sorai dari depan kerumunan terdekat dari podium itu. Teriakan gembira muncul dan menyebar seperti gelombang tidal di alun-alun. Bersamaan dengan Shikamaru yang mendorong untuk membuat jalannya ke depan, semua orang bersorak kencang hingga gendang telinganya terasa ingin pecah.



    Seorang pria muncul di podium itu.



    Dia mengenakan jubah hitam panjang yang sama dengan para Kakusha, namun diselimuti oleh ornamen yang penuh warna, begitu pula dengan sabuk perak besar. Lebih lagi, lengan jubahnya dibordir dengan ular perak di sekeliling pergelangannya.



    Rambutnya berwarna biru indigo gelap. Dia memiliki rahang yang kuat, perawakan maskulin, dan posturnya jelas dan tegap. Dia melihat dengan tenang ke arah kerumunan yang bersorak menggunakan matanya yang jernih dan tampak cerdas. Ada sedikit jejak jerami pada rahangnya. Dia tampak berusia sekitar 30 tahun.



    “Pria itu kemungkinan besar adalah Gengo, iya kan?” Gumam Rou,  berhenti berjalan sesaat.



    Shikamaru terus berjalan tanpa memberikan  jawaban. Ia merasakan keyakinan yang kuat bahwa pria itu pastilah Gengo.



    Perlahan, pria itu mengangkat tangan kanannya ke udara. Seketika, sorak-sorai menjadi diam. Gengo memejamkan matanya merasa puas karena reaksi itu, sebuah senyum kecil tersungging di wajahnya. Ia menarik nafas dalam, kemudian membuka matanya dan mulai berbicara.



    “Pertama-tama, aku ingin menyatakan rasa terima kasihku kepada kalian yang telah berkumpul disini.”



    Suaranya dalam dan berat, menenangkan untuk didengar. Suara itu memiliki sesuatu yang misterius yang membuatmu merasa mendengarnya bukan hanya dengan telingamu, tapi dengan seluruh tubuhmu. Shikamaru merasakan perasaan yang mengganggu dan membuat gelisah dalam dadanya, seolah suara pria itu menggores hatinya.



    Mata Rou bertemu mata Shikamaru kemudian perlahan mereka mendekati podium. Sudah jelas bahwa ia juga merasakan sensasi tak nyaman yang sama. Langkah kedua shinobi itu menjadi seimbang, menjaga agar pergerakan mereka tetap lambat, halus dan senyap.



    Gengo membungkuk kecil kepada kerumunan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya, dan kemudian mulai berbicara lagi.



    “Sudah sepuluh tahun sejak aku datang untuk berdiri di podium ini. Kita telah memperoleh banyak orang yang mengikuti cara berpikir kita, dan negara kita telah mulai makmur. Namun, belum ada satupun keinginan kita yang telah terwujud.”



    Semua orang mendengarkan dengan penuh keheningan. Saat kata-kata pria itu terhenti, sebuah atmosfir aneh berubah menjadi kesunyian dari kerumunan, seolah setiap inchi dari alun-alun itu berada dalam pengaruhnya.



    “Aku memiliki sebuah pertanyaan untuk kalian seluruh rakyat Negeri Sunyi!”



    Suara Gengo yang tadinya tenang dan teratur kini mengeras dengan amarah yang menggelora. Kata-katanya yang diteriakkan tampak berasal dari dalam jiwanya.



    “Negara ini dulu dikuasai oleh Daimyou, dan kini negara ini… Dunia seperti apa yang menurut kalian lebih baik? Siapa yang lebih baik memimpin dunia ini?”



    “GENGO-SAMA!”



    Para penduduk meneriakkan persetujuan mereka, suara mereka menggema melintasi alun-alun layaknya gelombang tidal.



    “Tidak salah lagi, pria itu adalah Gengo.” Gumam Rou.



    Shikamaru mengangguk dalam diam, berbalik ke arah podium. Mereka hampir tiba disana, beberapa meter lagi menuju jarak yang memungkinkan kagemane Shikamaru mencapai dan mengikat targetnya.



    Seluruh misi akan ditentukan dalam satu waktu…



    Gengo mengangkat tangan kanannya, dan kerumunan kembali terdiam.



    “Aku telah menerima jawaban kalian. Hari-hari dimana kita dipimpin oleh Daimyou yang melihat kekuatan, kebijaksanaan, dan kita, para shinobi, sebagai hal yang tak penting- hari-hari yang kelam itu telah lama berlalu! Rakyatku, kalian kini dapat menemukan kedamaian. Kami para Kakusha akan melindungi kalian selamanya, dengan kekuatan dan hidup kami. Karena semua itu adalah yang kami, para Kakusha, inginkan.”



    Semua orang tampak dimabukkan dengan kata-kata itu. Mereka diombang-ambingkan oleh emosi. Beberapa bahkan menangis.



    Sejujurnya Shikamaru tidak merasa semua yang Gengo telah katakan merupakan hal yang terlalu penting. Tak peduli bagaimana ia memutarbalikkan kata-kata di kepalanya, itu tidak tampak seperti pidato yang terlalu bagus. Akan tetapi, ia telah mengetahui bahwa suara Gengo memiliki kekuatan yang misterius di dalamnya. Pria itu memiliki kekuatan yang membuatmu mendengarkan suaranya tak peduli apa yang ia katakan.



    “Negeri Sunyi kita berada di daerah yang sangat terpinggir di kontinen ini. Sejarah kita adalah orang asing, tertindas dan ditindas. Leluhur kita tidak memutuskan kontak dengan dunia luar untuk memutuskan pertukaran kita dengan orang lain. Itu untuk melindungi milik kita. Selama kita tetap berada di luar kontak dunia luar, kita akan tetap lemah. Namun kini, semua telah berakhir.”



    Suara Gengo meninggi, sangat marah.



    “Orang yang seharusnya memimpin negara ini bukanlah Daimyou, tapi kita, yang memiliki kekuatan shinobi! Itulah keadilan yang sebenarnya. Karena perjuangan shinobi lah para penduduk terlindungi. Kehadiran shinobi yang memiliki kekuatan di atas manusia biasa selalu ditemukan di seluruh dunia. Dan malah, kita dipimpin oleh Daimyou, yang egois, memikirkan diri sendiri, sementara mereka menghancurkan shinobi dan rakyat di bawah kaki mereka! Lihatlah negara ini. Sudah 10 tahun sejak aku melenyapkan Daimyou.  Lihatlah kemakmuran yang telah diraih Negara ini!”



    Dada Gengo dipenuhi oleh rasa bangga.



    “Hampir sampai.” Gumam Shikamaru.



    Hanya beberapa langkah lagi, dan Gengo akan berada dalam jarak kagemane-nya.



    “Aku akan melenyapkan Daimyou dari dunia ini, dan menciptakan dunia yang baru untuk kita. Mengapa shinobi tidak diakui dan dihormati? Kita yang memiliki kekuatan yang lebih besar dari Daimyou. Kita memiliki kekuatan yang lebih besar daripada manusia lain! Mengapa  kita, yang melampaui yang lain, terus tertindas? Bukankah ciri khas kita jauh lebih hebat daripada orang lain? Karena Daimyou takut akan era shinobi, maka mereka mendiskriminasi kita, mengasingkan kita, dan membuat kita berada dalam pengaruh mereka! Rakyat dan shinobi adalah sama, kita merupakan korban dari keegoisan para Daimyou!”



    Mereka semakin dekat dengan Gengo. Dari jarak ini, hampir tampak seperti ada percikan biru keluar dari mata pria yang berapi-api itu.



    “Revolusi…”



    Sedikit lagi hingga mereka mencapainya. Sedikit lagi.



    Pria yang berdiri di depan mata mereka hampir dapat dipastikan adalah Gengo, dan mereka dapat dengan mudah mendekatinya tanpa disadari- begitu mudah hingga Shikamaru merasa bosan.



    Ia memikirkan kemungkinan bahwa ini adalah jebakan.



    Namun tidak mungkin musuh menyadari keberadaan mereka, dan mereka tak boleh melewatkan kesempatan ini.



    “Akatsuki pernah berdiri dengan niat untuk mengubah dunia ini. Namun mereka dihancurkan. Mereka dihancurkan oleh dunia shinobi yang tetap tak berubah dari waktu ke waktu, tak ada hari ini yang lebih baik dari kemarin, dengan shinobi yang masih dikuasai dan didiskriminasi. Namun Akatsuki hidup dalam nama mereka…mereka adalah fajar. Mereka merupakan tanda bahwa pagi yang cerah akan tiba. Dengar, kalian yang memiliki mentari pagilah yang akan bangkit dari kegelapan yang sunyi.”



    Gengo perlahan mengangkat kedua tangannya, seolah ia sedang menyambut dewa dari surga.



    “Sinar mentari pertama saat fajar di era yang baru ini, akan bersinar dari Negeri Sunyi kita!”



    Para penduduk bersorak, suara teriakan mereka menutupi segala sesuatu yang lain.



    Inilah kesempatan mereka.



    Shikamaru membebaskan bayangannya. Sebuah sulur merayap melewati kerumunan seperti ular berwarna hitam, merayap ke atas podium dan berhenti di kaki Gengo.



    Begitu ular bayangan itu menangkap dan menahan Gengo, pergerakannya akan dapat dihentikan, dan jarum chakra Soku akan menyelesaikan urusannya.



    Semuanya akan baik-baik saja jika berjalan sesuai rencananya.



    Hanya saja kagemane-nya…



    Tak dapat menggapai Gengo.



    “Ap-!”



    Dia seharusnya telah berada dalam jaraknya. Dia berada dalam jaraknya! Kenapa bayangannya tak dapat mencapai-



    “Ada tikus yang menyelinap di sana.” Pandangan Gengo perlahan mengarah tepat ke mata Shikamaru.



    “Dia menyadari keberadaan kita, Tuan-!” Jerit Rou.



    Beberapa bayangan melompat keluar dari belakang Gengo dan melayang ke arah Rou, menahannya.



    Shikamaru segera mencoba untuk menggapai Gengo dengan bayangannya sekali lagi.



    “Tak ada gunanya.” Gengo berkata tanpa perasaan.



    Bayangan Shikamaru, sesuatu yang sangat akrab dengannya seperti tangan dan kakinya sendiri, berubah menjadi layang-layang yang terputus dari benangnya. Sulurnya sama sekali tak mengenai sasaran, berputar-putar melingkar, bergerak sia-sia di tanah.



    Baiklah kalau begitu…



    Shikamaru melompat ke atas podium, mengeluarkan kunai dari balik jubahnya. Jika rencana itu telah gagal, maka ia akan menyerang dan melakukannya sendiri.



    Gengo tak bergerak untuk lari dari Shikamaru. Sebuah senyum tipis melengkung di wajahnya.



    Shikamaru berlari ke arahnya, melemparkan kunai ke arah leher pria itu dengan penuh perhitungan.



    Seseorang datang ke arah Shikamaru dari sisi podium, menendang perutnya dengan keras. Ia terguling ke sisi benda kayu itu sebagai dampaknya, dan dengan cepat duduk di atas satu lutut, kunainya telah siap.



    Dia menatap.



    “Kau- apa yang kau…?”



    Seorang pria berdiri diantara Gengo dan Shikamaru. Ia memiliki kulit abu-abu pucat. Mata yang sayu, dengan emosi yang tak terbaca. Mulut yang lurus dan jujur.



    “Apa yang kau lakukan…?”



    Tak salah lagi.



    Shikamaru memanggil nama pria itu.



    “…Sai.”






    Shikamaru sama sekali tak berusaha menyembunyikan rasa menggigil yang menjalari tulang belakangnya karena duduk di lantai yang keras dan dingin.



    Disana tidak terdapat jendela. Dindingnya, langit-langitnya, semuanya terbuat dari beton. Ia, Rou, dan Soku duduk membentuk lingkaran di ruangan yang seluruhnya berwarna abu-abu.



    Ketiga dari mereka mengenakan jubah panjang Kakusha. Semuanya hasil curian, tentu saja. Bahkan ruangan dimana mereka berada bukanlah milik mereka. Pemiliknya merupakan seorang Kakusha yang dikurung dalam lemari di ruangan sebelah, pingsan karena Jarum Chakra yang melumpuhkan, milik Soku.



    Tentu saja, mereka tak lupa melakukan interogasi di tengah aksi pencurian mereka. Hasil dari semua pertanyaan mereka yang berulang-ulang menghasilkan informasi yang cukup banyak.



    “Tampaknya kesimpulan awal Shikamaru-dono benar.” Rou memulai pembicaraan.



    “Negara ini jelas-jelas terlihat seperti dikuasai oleh karakter Gengo dan kharismanya yang kuat serta menakutkan.”



    Shikamaru mau tak mau harus setuju dengan Rou tentang kharisma Gengo. Mereka harus memancing seorang Kakusha pria yang lain untuk mendapatkan jubah yang panjang untuk Roku, dan seorang Kakusha wanita untuk jubah Soku. Dihitung dengan Minoichi, maka secara keseluruhan sudah tiga Kakusha yang mereka interogasi.



    Tiga orang Kakusha, dan ada satu hal yang tak berubah dari setiap keadaan yang mereka pantau, yakni keyakinan yang tak tergoyahkan pada Gengo.



    Keyakinan yang para Kakusha miliki terhadap Gengo sangatlah berbeda dari kepercayaan yang shinobi Konoha berikan pada Hokage, atau Naruto.



    Manusia merasakan cinta dan penghormatan terhadap manusia lain. Itu lah, menurut Shikamaru, hubungan antara shinobi Konoha dan pemimpin mereka. Manusia menghormati manusia lainnya.



    Namun cara mereka memperlakukan Gengo berbeda. Mereka berbicara tentangnya menggunakan ketakutan dan penghormatan yang sama dengan yang seseorang tujukan pada dewa yang hidup. Mereka yakin bahwa sementara mereka adalah manusia, wujud Gengo merupakan sesuatu yang sangat berbeda. Itu merupakan sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan dan menggelisahkan.



    Pria macam apa yang mampu membuat orang-orang begitu memujanya?



    Shikamaru sedikit menyadari bahwa dari dalam hatinya, ia sendiri merasa penasaran dengan jawabannya.



    “Baiklah, sudah dikatakan sejak awal bahwa semua ini akan berakhir jika kita mengakhiri Gengo, kau tahu.” Ujar Soku blak-blakan.



    “Itulah mengapa pria tua ini dan aku yang diperintahkan. Jika kasusnya tidak seperti ini, maka kami tidak dibutuhkan. Meskipun aku lebih menyukai jika keadaannya bukan seperti itu, kau tahu.”



    Meskipun komentarnya sedikit tidak sopan, masukan Soku berhubungan dengan pembicaraan mereka.



    “Sepertinya pemikiran mereka tentang Gengo telah berubah menjadi sebuah kepercayaan (sejenis pandangan religius).” Ucap Rou.



    “Aku juga merasa begitu, kau tahu.” Soku mengangguk.



    “Sesuatu pasti telah terjadi pada mereka hingga mereka begitu terikat dengannya.”



    “Apa yang kau maksud dengan ‘sesuatu’, Hinoko?”



    “Shikamaru-san! Aku sudah bilang jangan sebut namaku!” Soku duduk menahan amarah, jari telunjuknya menunjuk wajah Shikamaru, dari ujungnya keluar chakra oranye.



    “Jika kau memanggilku dengan namaku lagi, aku benar-benar akan menghantammu!”



    Ia begitu marah, ia bahkan tak menambahkan “kau tahu” di akhir kalimatnya.



    “Kenapa kau tidak menyukainya? Itu adalah nama yang menarik…”



    “Itulah mengapa aku tidak menyukainya!” Chakra Soku meraung lebih jelas karena emosinya.



    “Nama yang keren seperti Gourai [petir yang menderu] atau Shippu [badai yang kencang]atau Kimidare [hujan di musim panas] akan jauh lebih baik!”



    Tak peduli seberapa kapabelnya dia, di dalamnya Soku masihlah seorang  anak berusia 14 tahun. Kalimatnya yang menggunakan kata nama yang ‘keren’ sangat di luar dugaan, Shikamaru berusaha keras untuk tidak tertawa.



    Dia pasti salah menangkap ekspresi tegang Shikamaru sebagai ekspresi penyesalan, karena chakra yang yang keluar dari ujung jarinya tiba-tiba lenyap.



    “Maaf,” ucap Shikamaru, mengontrol kembali dirinya.



    “Aku tak tahu kau membenci namamu sampai seperti itu. Aku akan berhati-hati untuk tidak menggunakannya.”



    “Se- selama kau mengerti…” Soku terlihat malu  karena ledakan amarahnya, menunduk ke arah lantai.



    Di depan mereka terdapat peta Desa Tirai yang terbentang di lantai. Juga diperoleh dari pemilik ruangan itu.



    “Saya katakan, bentuk kota ini seperti jaring laba-laba.” Ucap Rou bersedekap, berpikir.



    Shikamaru menunduk untuk mempelajari  peta itu. Pandangannya jatuh pada gambar istana besar yang berada di tengah kota. Tulisan di sebelahnya menunjukkan ‘Istana Tahanan yang Mengambang’. (‘Mengambang’ yang dimaksud adalah ‘terkatung-katung’ atau ‘tidak jelas nasibnya’)



    “Tahanan yang Mengambang…” Shikamaru bergumam pada dirinya sendiri.



    “Itu merupakan istilah yang menghina.” Rou menjelaskan menggunakan pengetahuan kunonya.



    “Digunakan untuk tahanan perang, atau orang-orang tak beradab di dekat perbatasan ibukota.”



    “Menghina, huh…” Pikiran Shikamaru berputar saat ia bergumam dengan keras.



    “Apakah Gengo yang menamainya? Atau apakah istana itu telah dinamai seperti itu jauh sebelum ia menjadi pemiliknya?”



    “Negeri Sunyi selalu menghindari kontak dengan negara lain, dan sebagai konsekuensinya, bahkan kami Anbu Konoha tak memiliki informasi mengenai istana ini.”



    Shikamaru entah bagaimana merasa bahwa Gengo-lah yang menamai istana itu. Itu hanya merupakan intuisi yang samar, jadi ia tak mengatakan apapun tentang hal itu.



    “Kenapa menamai istanamu sendiri dengan nama yang menghina seperti itu…”



    “Apakah nama itu memiliki maksud seperti ini? ‘Saat Lima Negara Besar dan negara-negara kecil lainnya mengklaim tanah mereka di kontinen ini, kami orang-orang  yang tak beradab dipaksa untuk hidup di pinggiran.’ Mereka menghina diri mereka sendiri.” Ucap Rou.



    “Itu pasti merupakan hal yang dimaksud.” Shikamaru berkomentar, tenggelam dalam pikirannya.



    “Itu bodoh, kau tahu.” Soku menyela dengan cemoohan. Ia diam saja sedari tadi, mendengarkan pembicaraan mereka, namun tampak begitu marah hingga ia tak dapat menghentikan dirinya dari berbicara.



    “Menghina dirimu sendiri, menyatakan dirimu  adalah sampah, kegilaan seperti apa itu? Dan pria sinting serta pesimistis ini mencoba untuk mengubah dunia shinobi? Konyol.”



    Ia lupa menambahkan kata ‘kau tahu’ lagi.



    Shikamaru menyadari, Soku benar-benar marah terhadap orang-orang di negara ini karenamemberikan nama yang mencela diri mereka sendiri.



    “Mungkin dengan menghina diri mereka sendirilah mereka menemukan keberanian untuk menunjukkan taring mereka dan melawan seluruh dunia.”



    Jawaban Soku terhadap penjelasan Shikamaru adalah dengan berpaling karena muak. Ia (Shikamaru) lanjut berbicara.



    “Pembalasan dendam muncul karena kebencian terhadap lawanmu. Dan kebencian tak akan pernah muncul dalam diri seseorang jika mereka tidak memulai perkelahian atau memprovokasi pihak lain.”



    “Kalau begitu, Shikamaru-dono, apakah menurut anda seluruh orang di negara ini membenci negara-negara lain di kontinen ini?”



    “Itu merupakan ide yang konyol, kau tahu.” Soku memotong, masih memanas.



    “Seluruh Kakusha yang menjalankan/memimpin negara ini merupakan mantan shinobi dari negara lain, bukankah begitu?”



    Soku benar. Fakta menjadi jelas pada waktu interogasi mereka terhadap ketiga Kakusha. Setiap Kakusha yang terlibat dalam pemerintahan negara ini, awalnya merupakan shinobi dari negara lain. Sebagian dari mereka merupakan shinobi yang hilang dalam perang, dan sisanya merupakan mereka yang menjadi missing-nin selama setahun terakhir, namun mereka semua merupakan penguasa yang berpengaruh, yang bertanggung jawab pada Gengo.



    Mereka telah mempelajari bahwa awalnya negara ini juga memiliki Daimyou. Orang yang mengusir Daimyou, membangkitkan para Kakusha, dan mengubah negara dari akarnya, tentu saja tak lain adalah Gengo.



    Akan menjadi kesimpulan yang tepat jika mengatakan bahwa seluruh Negeri Sunyi dipimpin oleh shinobi.



    “Jika mereka membenci negara lain,” Soku melanjutkan,



    “Maka itu artinya mereka juga membenci desa mereka. Itu bukan hal yang benar.”



    Konsep itu tampak asing baginya.



    “Ada juga shinobi yang seperti itu.” Ucap Shikamaru hati-hati, menjelaskan dengan nada yang tenang.



    “Kelompok yang menyebabkan perang besar lalu, ‘Akatsuki’, hampir semua anggotanya merupakan missing-nin. Mereka adalah kelompok dengan kemampuan luar biasa yang membenci dunia shinobi.”



    Kau akan menemukan dirimu terjebak dalam situasi buruk, dan kegelapan mulai menjelma. Bukanlah hal yang mengejutkan jika semua kemarahan dan kebencian membuatmu memberontak di negaramu sendiri. Kau akan menyalahkan desamu karena ketidakberuntungan dan penderitaanmu, mengatakan bahwa itu bukan salahmu, namun merupakan salah dari struktur negaramu- tidak, struktur dunia inilah yang harus dipersalahkan.



    Karena melalui pemikiran itulah anggota Akatsuki atau Kakusha terlahir.



    “Namun, saya katakan, jika ini benar…” Rou berbicara, dan Soku serta Shikamaru terdiam.



    “Jika ini benar, dan para Kakusha merasakan ketidakpuasan terhadap keadaan dunia shinobi yang sekarang…”



    Rou melirik Shikamaru, yang mengangguk menyuruhnya melanjutkan.



    “Dan mereka datang ke negara ini dengan rasa tidak puas itu… Namun, baiklah, apa yang mereka lakukan disini sama sekali tak berbeda dengan apa yang telah terjadi di dunia shinobi, bukankah begitu?”



    Rou merujuk pada bagaimana para Kakusha mendapatkan penghidupan. Negeri Sunyi membuka rute pesan yang unik untuk bisnis/usaha, dan menerima permintaan misi dari seluruh bagian kontinen. Lebih lagi, standar harga mereka lebih murah dibanding (standar harga) Persatuan Shinobi. Ketika negara-negara besar dan kuat seperti Lima Negara Besar tidak terlalu peduli tentang penurunan harga dibanding kredibilitas, hal itu merupakan suatu keringanan untuk negara-negara kecil di sekitar kontinen yang memiliki sedikit simpanan..



    Tak heran jika permintaan misi kepada Persatuan Shinobi merosot tajam.



    Tepat seperti yang Rou katakan. Shinobi yang memiliki kebencian terhadap dunia shinobi akan melarikan diri ke Negeri Sunyi- hanya untuk terus menerima permintaan misi layaknya yang dilakukan shinobi.



    “Sebuah ‘revolusi yang sesungguhnya’…” Gumam Soku penuh pemikiran.



    Ketika Rou dan Shikamaru melihat ke arahnya, gadis itu terlihat gugup.



    “Itu yang Minoichi katakan. ‘Tujuan kami adalah untuk menciptakan sebuah revolusi yang sesungguhnya di dunia ini bersama dengan Gengo-sama,’ dan semuanya…”



    “Menurutmu mereka menerima permintaan misi demi mencapai tujuan itu?” Tanya Shikamaru.



    Soku mengangguk.



    “Nah, kalau begitu…pria Gengo itu merupakan ancaman yang harus dilenyapkan.”Gumam Rou.



    “Kita telah diberkahi dengan kesempatan yang bagus, kau tahu.” Ucap Soku, menunjuk alun-alun di depan ‘Istana Tahanan yang Mengambang’.



    “Alun-alun itu disediakan sebagai tempat pidato… Itu merupakan tempat yang cocok untuk pembunuhan, iya kan?” Rou tertawa, dan melihat Shikamaru dengan gembira.



    Pria yang selalu tampak tulus dan sederhana kini membicarakan tentang pembunuhan berdarah dingin dengan senyum di wajahnya. Shikamaru baru saja menyadari, dalam hatinya, bahwa Rou benar-benar merupakan bagian dari Anbu.



    “Untuk menyimpulkan apa yang telah kita diskusikan: Rou, kau akan menggunakan jurusmu untuk membantu kita membaur di keramaian alun-alun. Aku akan menggunakan bayanganku untuk mencapai dan menahan Gengo. Soku, kau akan ditempatkan di atap terdekat, memantau dari atas. Saat kau melihat Gengo menjadi kaku, kau harus segera melayangkan Jarum Chakramu.”



    Mereka berdua mengangguk dengan senyuman yang tidak biasa atas perintahnya, seolah mereka telah menunggu-nunggu saat itu tiba.



    “Kami mengandalkanmu, Hinoko.”



    “Berapa kali aku sudah katakan untuk tidak memanggilku begitu?!” Soku bangkit dan berdiri, memanas karena kemarahan.



    “…Empat puluh kali.” Bisik Rou.



    “Huh?” Soku melotot ke arah seniornya, mulutnya terbuka karena marah.



    “Nama Shikamaru-dono memiliki ‘shi’ untuk ‘4’ dan ‘maru’ untuk ‘0’, jadi…empat puluh.”ujar Rou tanpa perlawanan.



    Soku geram.



    “Permainan kata-kata lagi!” Ia melangkah maju,



    “Dan yang itu buruk! Lalu apa yang terjadi pada ‘ka’?!”



    Rou segera bangkit dan –meskipun berusia 40 tahun, secara signifikan lebih besar daripada juniornya yang pemarah, dan merupakan seorang Anbu- dengan cepat bersembunyi di belakang Shikamaru, meringkuk dari kemarahan remaja berusia 14 tahun.



    Tentu saja, ia melakukan tindakan tersebut untuk membuat tertawa, namun itu tak membuat Shikamaru berhenti merasa malu akan sikap mereka berdua.



    “Apakah semua akan benar-benar baik-baik saja besok…?” Ia menghela nafas.



    Kedua Anbu berdiri tegak, kalimat yang meyakinkan keluar dari mulut mereka.



    “Semua akan baik-baik saja, kau tahu!”



    “Tak ada yang perlu terlalu anda khawatirkan, Tuan!”



    Melihat mereka, Shikamaru mengehela nafasnya lagi.

    Novel Shikamaru Hiden Chapter 9

    Posted at  January 18, 2017  |  in    |  Read More»






    Shikamaru sama sekali tak berusaha menyembunyikan rasa menggigil yang menjalari tulang belakangnya karena duduk di lantai yang keras dan dingin.



    Disana tidak terdapat jendela. Dindingnya, langit-langitnya, semuanya terbuat dari beton. Ia, Rou, dan Soku duduk membentuk lingkaran di ruangan yang seluruhnya berwarna abu-abu.



    Ketiga dari mereka mengenakan jubah panjang Kakusha. Semuanya hasil curian, tentu saja. Bahkan ruangan dimana mereka berada bukanlah milik mereka. Pemiliknya merupakan seorang Kakusha yang dikurung dalam lemari di ruangan sebelah, pingsan karena Jarum Chakra yang melumpuhkan, milik Soku.



    Tentu saja, mereka tak lupa melakukan interogasi di tengah aksi pencurian mereka. Hasil dari semua pertanyaan mereka yang berulang-ulang menghasilkan informasi yang cukup banyak.



    “Tampaknya kesimpulan awal Shikamaru-dono benar.” Rou memulai pembicaraan.



    “Negara ini jelas-jelas terlihat seperti dikuasai oleh karakter Gengo dan kharismanya yang kuat serta menakutkan.”



    Shikamaru mau tak mau harus setuju dengan Rou tentang kharisma Gengo. Mereka harus memancing seorang Kakusha pria yang lain untuk mendapatkan jubah yang panjang untuk Roku, dan seorang Kakusha wanita untuk jubah Soku. Dihitung dengan Minoichi, maka secara keseluruhan sudah tiga Kakusha yang mereka interogasi.



    Tiga orang Kakusha, dan ada satu hal yang tak berubah dari setiap keadaan yang mereka pantau, yakni keyakinan yang tak tergoyahkan pada Gengo.



    Keyakinan yang para Kakusha miliki terhadap Gengo sangatlah berbeda dari kepercayaan yang shinobi Konoha berikan pada Hokage, atau Naruto.



    Manusia merasakan cinta dan penghormatan terhadap manusia lain. Itu lah, menurut Shikamaru, hubungan antara shinobi Konoha dan pemimpin mereka. Manusia menghormati manusia lainnya.



    Namun cara mereka memperlakukan Gengo berbeda. Mereka berbicara tentangnya menggunakan ketakutan dan penghormatan yang sama dengan yang seseorang tujukan pada dewa yang hidup. Mereka yakin bahwa sementara mereka adalah manusia, wujud Gengo merupakan sesuatu yang sangat berbeda. Itu merupakan sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan dan menggelisahkan.



    Pria macam apa yang mampu membuat orang-orang begitu memujanya?



    Shikamaru sedikit menyadari bahwa dari dalam hatinya, ia sendiri merasa penasaran dengan jawabannya.



    “Baiklah, sudah dikatakan sejak awal bahwa semua ini akan berakhir jika kita mengakhiri Gengo, kau tahu.” Ujar Soku blak-blakan.



    “Itulah mengapa pria tua ini dan aku yang diperintahkan. Jika kasusnya tidak seperti ini, maka kami tidak dibutuhkan. Meskipun aku lebih menyukai jika keadaannya bukan seperti itu, kau tahu.”



    Meskipun komentarnya sedikit tidak sopan, masukan Soku berhubungan dengan pembicaraan mereka.



    “Sepertinya pemikiran mereka tentang Gengo telah berubah menjadi sebuah kepercayaan (sejenis pandangan religius).” Ucap Rou.



    “Aku juga merasa begitu, kau tahu.” Soku mengangguk.



    “Sesuatu pasti telah terjadi pada mereka hingga mereka begitu terikat dengannya.”



    “Apa yang kau maksud dengan ‘sesuatu’, Hinoko?”



    “Shikamaru-san! Aku sudah bilang jangan sebut namaku!” Soku duduk menahan amarah, jari telunjuknya menunjuk wajah Shikamaru, dari ujungnya keluar chakra oranye.



    “Jika kau memanggilku dengan namaku lagi, aku benar-benar akan menghantammu!”



    Ia begitu marah, ia bahkan tak menambahkan “kau tahu” di akhir kalimatnya.



    “Kenapa kau tidak menyukainya? Itu adalah nama yang menarik…”



    “Itulah mengapa aku tidak menyukainya!” Chakra Soku meraung lebih jelas karena emosinya.



    “Nama yang keren seperti Gourai [petir yang menderu] atau Shippu [badai yang kencang]atau Kimidare [hujan di musim panas] akan jauh lebih baik!”



    Tak peduli seberapa kapabelnya dia, di dalamnya Soku masihlah seorang  anak berusia 14 tahun. Kalimatnya yang menggunakan kata nama yang ‘keren’ sangat di luar dugaan, Shikamaru berusaha keras untuk tidak tertawa.



    Dia pasti salah menangkap ekspresi tegang Shikamaru sebagai ekspresi penyesalan, karena chakra yang yang keluar dari ujung jarinya tiba-tiba lenyap.



    “Maaf,” ucap Shikamaru, mengontrol kembali dirinya.



    “Aku tak tahu kau membenci namamu sampai seperti itu. Aku akan berhati-hati untuk tidak menggunakannya.”



    “Se- selama kau mengerti…” Soku terlihat malu  karena ledakan amarahnya, menunduk ke arah lantai.



    Di depan mereka terdapat peta Desa Tirai yang terbentang di lantai. Juga diperoleh dari pemilik ruangan itu.



    “Saya katakan, bentuk kota ini seperti jaring laba-laba.” Ucap Rou bersedekap, berpikir.



    Shikamaru menunduk untuk mempelajari  peta itu. Pandangannya jatuh pada gambar istana besar yang berada di tengah kota. Tulisan di sebelahnya menunjukkan ‘Istana Tahanan yang Mengambang’. (‘Mengambang’ yang dimaksud adalah ‘terkatung-katung’ atau ‘tidak jelas nasibnya’)



    “Tahanan yang Mengambang…” Shikamaru bergumam pada dirinya sendiri.



    “Itu merupakan istilah yang menghina.” Rou menjelaskan menggunakan pengetahuan kunonya.



    “Digunakan untuk tahanan perang, atau orang-orang tak beradab di dekat perbatasan ibukota.”



    “Menghina, huh…” Pikiran Shikamaru berputar saat ia bergumam dengan keras.



    “Apakah Gengo yang menamainya? Atau apakah istana itu telah dinamai seperti itu jauh sebelum ia menjadi pemiliknya?”



    “Negeri Sunyi selalu menghindari kontak dengan negara lain, dan sebagai konsekuensinya, bahkan kami Anbu Konoha tak memiliki informasi mengenai istana ini.”



    Shikamaru entah bagaimana merasa bahwa Gengo-lah yang menamai istana itu. Itu hanya merupakan intuisi yang samar, jadi ia tak mengatakan apapun tentang hal itu.



    “Kenapa menamai istanamu sendiri dengan nama yang menghina seperti itu…”



    “Apakah nama itu memiliki maksud seperti ini? ‘Saat Lima Negara Besar dan negara-negara kecil lainnya mengklaim tanah mereka di kontinen ini, kami orang-orang  yang tak beradab dipaksa untuk hidup di pinggiran.’ Mereka menghina diri mereka sendiri.” Ucap Rou.



    “Itu pasti merupakan hal yang dimaksud.” Shikamaru berkomentar, tenggelam dalam pikirannya.



    “Itu bodoh, kau tahu.” Soku menyela dengan cemoohan. Ia diam saja sedari tadi, mendengarkan pembicaraan mereka, namun tampak begitu marah hingga ia tak dapat menghentikan dirinya dari berbicara.



    “Menghina dirimu sendiri, menyatakan dirimu  adalah sampah, kegilaan seperti apa itu? Dan pria sinting serta pesimistis ini mencoba untuk mengubah dunia shinobi? Konyol.”



    Ia lupa menambahkan kata ‘kau tahu’ lagi.



    Shikamaru menyadari, Soku benar-benar marah terhadap orang-orang di negara ini karenamemberikan nama yang mencela diri mereka sendiri.



    “Mungkin dengan menghina diri mereka sendirilah mereka menemukan keberanian untuk menunjukkan taring mereka dan melawan seluruh dunia.”



    Jawaban Soku terhadap penjelasan Shikamaru adalah dengan berpaling karena muak. Ia (Shikamaru) lanjut berbicara.



    “Pembalasan dendam muncul karena kebencian terhadap lawanmu. Dan kebencian tak akan pernah muncul dalam diri seseorang jika mereka tidak memulai perkelahian atau memprovokasi pihak lain.”



    “Kalau begitu, Shikamaru-dono, apakah menurut anda seluruh orang di negara ini membenci negara-negara lain di kontinen ini?”



    “Itu merupakan ide yang konyol, kau tahu.” Soku memotong, masih memanas.



    “Seluruh Kakusha yang menjalankan/memimpin negara ini merupakan mantan shinobi dari negara lain, bukankah begitu?”



    Soku benar. Fakta menjadi jelas pada waktu interogasi mereka terhadap ketiga Kakusha. Setiap Kakusha yang terlibat dalam pemerintahan negara ini, awalnya merupakan shinobi dari negara lain. Sebagian dari mereka merupakan shinobi yang hilang dalam perang, dan sisanya merupakan mereka yang menjadi missing-nin selama setahun terakhir, namun mereka semua merupakan penguasa yang berpengaruh, yang bertanggung jawab pada Gengo.



    Mereka telah mempelajari bahwa awalnya negara ini juga memiliki Daimyou. Orang yang mengusir Daimyou, membangkitkan para Kakusha, dan mengubah negara dari akarnya, tentu saja tak lain adalah Gengo.



    Akan menjadi kesimpulan yang tepat jika mengatakan bahwa seluruh Negeri Sunyi dipimpin oleh shinobi.



    “Jika mereka membenci negara lain,” Soku melanjutkan,



    “Maka itu artinya mereka juga membenci desa mereka. Itu bukan hal yang benar.”



    Konsep itu tampak asing baginya.



    “Ada juga shinobi yang seperti itu.” Ucap Shikamaru hati-hati, menjelaskan dengan nada yang tenang.



    “Kelompok yang menyebabkan perang besar lalu, ‘Akatsuki’, hampir semua anggotanya merupakan missing-nin. Mereka adalah kelompok dengan kemampuan luar biasa yang membenci dunia shinobi.”



    Kau akan menemukan dirimu terjebak dalam situasi buruk, dan kegelapan mulai menjelma. Bukanlah hal yang mengejutkan jika semua kemarahan dan kebencian membuatmu memberontak di negaramu sendiri. Kau akan menyalahkan desamu karena ketidakberuntungan dan penderitaanmu, mengatakan bahwa itu bukan salahmu, namun merupakan salah dari struktur negaramu- tidak, struktur dunia inilah yang harus dipersalahkan.



    Karena melalui pemikiran itulah anggota Akatsuki atau Kakusha terlahir.



    “Namun, saya katakan, jika ini benar…” Rou berbicara, dan Soku serta Shikamaru terdiam.



    “Jika ini benar, dan para Kakusha merasakan ketidakpuasan terhadap keadaan dunia shinobi yang sekarang…”



    Rou melirik Shikamaru, yang mengangguk menyuruhnya melanjutkan.



    “Dan mereka datang ke negara ini dengan rasa tidak puas itu… Namun, baiklah, apa yang mereka lakukan disini sama sekali tak berbeda dengan apa yang telah terjadi di dunia shinobi, bukankah begitu?”



    Rou merujuk pada bagaimana para Kakusha mendapatkan penghidupan. Negeri Sunyi membuka rute pesan yang unik untuk bisnis/usaha, dan menerima permintaan misi dari seluruh bagian kontinen. Lebih lagi, standar harga mereka lebih murah dibanding (standar harga) Persatuan Shinobi. Ketika negara-negara besar dan kuat seperti Lima Negara Besar tidak terlalu peduli tentang penurunan harga dibanding kredibilitas, hal itu merupakan suatu keringanan untuk negara-negara kecil di sekitar kontinen yang memiliki sedikit simpanan..



    Tak heran jika permintaan misi kepada Persatuan Shinobi merosot tajam.



    Tepat seperti yang Rou katakan. Shinobi yang memiliki kebencian terhadap dunia shinobi akan melarikan diri ke Negeri Sunyi- hanya untuk terus menerima permintaan misi layaknya yang dilakukan shinobi.



    “Sebuah ‘revolusi yang sesungguhnya’…” Gumam Soku penuh pemikiran.



    Ketika Rou dan Shikamaru melihat ke arahnya, gadis itu terlihat gugup.



    “Itu yang Minoichi katakan. ‘Tujuan kami adalah untuk menciptakan sebuah revolusi yang sesungguhnya di dunia ini bersama dengan Gengo-sama,’ dan semuanya…”



    “Menurutmu mereka menerima permintaan misi demi mencapai tujuan itu?” Tanya Shikamaru.



    Soku mengangguk.



    “Nah, kalau begitu…pria Gengo itu merupakan ancaman yang harus dilenyapkan.”Gumam Rou.



    “Kita telah diberkahi dengan kesempatan yang bagus, kau tahu.” Ucap Soku, menunjuk alun-alun di depan ‘Istana Tahanan yang Mengambang’.



    “Alun-alun itu disediakan sebagai tempat pidato… Itu merupakan tempat yang cocok untuk pembunuhan, iya kan?” Rou tertawa, dan melihat Shikamaru dengan gembira.



    Pria yang selalu tampak tulus dan sederhana kini membicarakan tentang pembunuhan berdarah dingin dengan senyum di wajahnya. Shikamaru baru saja menyadari, dalam hatinya, bahwa Rou benar-benar merupakan bagian dari Anbu.



    “Untuk menyimpulkan apa yang telah kita diskusikan: Rou, kau akan menggunakan jurusmu untuk membantu kita membaur di keramaian alun-alun. Aku akan menggunakan bayanganku untuk mencapai dan menahan Gengo. Soku, kau akan ditempatkan di atap terdekat, memantau dari atas. Saat kau melihat Gengo menjadi kaku, kau harus segera melayangkan Jarum Chakramu.”



    Mereka berdua mengangguk dengan senyuman yang tidak biasa atas perintahnya, seolah mereka telah menunggu-nunggu saat itu tiba.



    “Kami mengandalkanmu, Hinoko.”



    “Berapa kali aku sudah katakan untuk tidak memanggilku begitu?!” Soku bangkit dan berdiri, memanas karena kemarahan.



    “…Empat puluh kali.” Bisik Rou.



    “Huh?” Soku melotot ke arah seniornya, mulutnya terbuka karena marah.



    “Nama Shikamaru-dono memiliki ‘shi’ untuk ‘4’ dan ‘maru’ untuk ‘0’, jadi…empat puluh.”ujar Rou tanpa perlawanan.



    Soku geram.



    “Permainan kata-kata lagi!” Ia melangkah maju,



    “Dan yang itu buruk! Lalu apa yang terjadi pada ‘ka’?!”



    Rou segera bangkit dan –meskipun berusia 40 tahun, secara signifikan lebih besar daripada juniornya yang pemarah, dan merupakan seorang Anbu- dengan cepat bersembunyi di belakang Shikamaru, meringkuk dari kemarahan remaja berusia 14 tahun.



    Tentu saja, ia melakukan tindakan tersebut untuk membuat tertawa, namun itu tak membuat Shikamaru berhenti merasa malu akan sikap mereka berdua.



    “Apakah semua akan benar-benar baik-baik saja besok…?” Ia menghela nafas.



    Kedua Anbu berdiri tegak, kalimat yang meyakinkan keluar dari mulut mereka.



    “Semua akan baik-baik saja, kau tahu!”



    “Tak ada yang perlu terlalu anda khawatirkan, Tuan!”



    Melihat mereka, Shikamaru mengehela nafasnya lagi.






    NEGERI TERSEMBUNYI



    Tim Shikamaru berlari selama tiga hari tak peduli siang atapun malam, sebelum mereka akhirnya tiba di Negeri Sunyi.



    Negeri Sunyi merupakan Negara yang relatif kecil, terletak menghadap bagian barat kontinen. Sebagian besar dari negara itu dikelilingi oleh pegunungan dan hutan, dan dataran utamanya dihiasi oleh tanah lapang. Tak ada satupun kota di dataran itu yang luasnya mendekati kota manapun di Negara Api. Negeri Sunyi akan lebih terasa seperti pedesaan yang sederhana bahkan bagi tiga pendiri Konoha.



    Ibukota negara itu, Desa Tirai, terletak hampir di tengah-tengah Negara. Sejak mereka menyelinap masuk dari batas negara, Shikamaru dan timnya secara konstan berlari melewati bukit dan lembah. Saat mereka mencapai Desa Tirai, terhitung sudah empat hari sejak mereka meninggalkan Konoha.



    Meskipun negara itu merupakan negara yang miskin, ibukotanya masih memiliki kemegahan layaknya kota besar. Ketika seluruh desa di negara itu memiliki rumah dengan atap jerami, rumah terkecil di ibukota itu beratap genting. Terdapat banyak bangunan yang dibuat menggunakan beton bertulang, dan jalanan yang bersih dan tertata rapi. Jalanan yang tersebar di desa memiliki bentuk yang sama seperti jaring laba-laba, meluas melingkar dari tengah kota. Ruang-ruang kecil dipisahkan oleh jalan, rumah, dan apartemen yang berbaris berdampingan.



    Sebuah bangunan yang sangat besar didirikan di tengah kota. Jika dilihat dari kejauhan, bangunan ini merupakan satu-satunya yang mecolok diantara bangunan lain. Gedung itu tingginya sekitar 10 lantai, dengan atap berwarna crimson, dan di tepi kiri dan kanan atap terdapat dua patung singa berwarna emas.



    “Ahh, ini pasti merupakan istana negara yang kita cari.”



    “Tidak perlu terdengar begitu puas karena menyatakan hal yang sudah jelas, kau tahu.”



    Shikamaru setengah mengawasi istana itu, setengah mendengarkan pembicaraan Rou dan Soku saat mereka melewati jalan utama.



    Tentu saja, mereka telah mengganti jaket pelindung Konoha mereka.



    Sebagaimana budaya setiap negara yang berbeda, begitu pula dengan pakaian. Rou dan Soku menyarankan agar mereka sebaiknya mendapatkan pakaian lokal sehingga mereka tak tampak mencolok selama penyusupan, dan Shikamaru menurut karena pengalaman mereka sebagai Anbu. Sepanjang jalan kota itu, mereka akan berhenti di mansion yang tampak dimiliki oleh orang yang sangat kaya yang dapat mereka temukan dan mendapatkan pakaian untuk mereka bertiga.



    Pakaian yang dipakai orang-orang di Negeri Sunyi sangat sederhana, tanpa pola-pola tertentu. Atasannya merupakan jubah uwagi, yang menutupi sekitar dada dan diikat menggunakan sabuk kain. Dari pinggang ke bawah menggunakan hakama yang lebar, dengan bagian bawah celanamereka dimasukkan ke dalam sepatu boot bertali yang tingginya sebetis.



    Warna pakaiannya juga tampak aneh seperti desainnya. Semua orang yang berjalan di Desa Tirai itu menggunakan warna hitam atau coklat atau abu-abu. Bahkan pertokoan di sepanjang jalan itu tidak memiliki lampu penerangan atau papan neon, iklan-iklan mereka tampak membosankan dan suram.



    Tak ada satupun hal yang tampak terang dapat ditemukan di seluruh kota itu.



    “Apakah anda menyadarinya, Shikamaru-dono?” Rou bertanya dari posisinya di depan.



    Shikamaru berdesakan di antara dua Anbu. Rou berjaga di bagian depan.



    Pertanyaan pria itu sangat samar. Ia tidak merincikan apa yang seharusnya Shikamaru telah sadari, jadi tidak ada cara untuk menjawabnya.



    “Kita belum melihat satupun pelayan Daimyou.” Rou menjelaskan.



    “Itu benar.” Shikamaru menyetujuinya.



    Sembari berbincang, mereka menuju ke arah istana. Tidak ada maksud untuk melaksanakan operasi itu sekarang, namun hanya mengikuti orang-orang sekitar yang berjalan menuju bangunan terbesar itu. Shikamaru tentu saja tidak berkeinginan untuk terburu-buru atau gegabah  dan mempertaruhkan misi menjadi lebih buruk.



    “Semua orang yang kita lihat di jalan sejauh ini adalah penduduk Negara. Sangat aneh jika kita tak melihat satupun pelayan.”



    Pengamatan Rou tepat sasaran.



    Pemimpin-pemimpin negara di kontinen mereka, tanpa pengecualian, selalu merupakan Daimyou. Persatuan antara Dunia Shinobi berjalan dengan baik, namun shinobi sama sekali tak pernah berada dalam kepemimpinan politik. Dan Daimyou selalu tinggal di ibukota Negara mereka, dengan tempat tinggal mereka yang dibanjiri oleh petugas yang melayani mereka.



    Pelayan-pelayan itu membedakan diri mereka dengan penduduk lainnya dengan bangga, dari pakaian mereka yang berwarna-warni hingga perilaku mereka yang sombong dan arogan. Mereka selalu sibuk di kota dimana Daimyou mereka tinggal, berkelana di daerah sekitar untuknya.



    Dan lagi, mereka tidak mendapati seorang pelayan pun.



    “Kemungkinan disini memang tidak terdapat Daimyou.” Gumam Soku.



    Itu mungkin merupakan keadaannya. Negara kecil terkadang memiliki keadaan dimana penduduk menampakkan seolah-olah terdapat Daimyou, namun sebenarnya mereka mengurus masalah mereka sendiri.



    Tapi negara ini berbeda. Shikamaru sangat yakin akan hal itu.



    Ia berbalik ke arah Soku, matanya melirik istana yang baru saja mereka lewati di belakang mereka.



    “Pesan Sai menyebutkan dengan jelas bahwa negara ini dikontrol oleh pria bernama Gengo.”



    “Tapi kemungkinan ia bukan seorang Daimyou, kau tahu.”



    “Kau mendapatkan intinya.” Saat Shikamaru mengatakan hal itu, pandangannya jatuh ke arah seorang pria yang berjalan di depan kelompoknya.



    Ia mengenakan jubah hitam panjang dan memiliki mata yang tajam. Pakaiannya mencolok diantarahakama dan uwagi yang digunakan oleh penduduk lainnya.



    Desainnya mengingatkan Shikamaru pada jubah Akatsuki, meskipun pada pakaian pria ini tak terdapat gambar awan merah, atau kerah tinggi yang menutupi mulutnya. Tak terdapat lapisan ataupun pengikat ditengahnya, hanya ada lima buah kancing besar berwarna silver.



    “Lihat pria di depan kita? Kita sudah melihat beberapa orang lainnya berpakaian sepertinya. Apakau merasa teringat akan sesuatu saat melihat mereka?” Tanya Shikamaru.



    “Saya juga menyadarinya, Shikamaru-dono.”



    “Bukankah seseorang normalnya menunggu sesaat daripada langsung menyetujui sesuatu…?”Tanya Soku.



    “Pakaian itu. bagaimanapun pakaian itu menjadi target.” Rou membuat satu lagi lelucon buruknya.



    “Kami ingin kau diam, kau tahu.” Soku mengerang.



    Mengabaikan gurauan mereka, Shikamaru lanjut berbicara.



    “Rou, bagaimana dengan pria di sebelah sana? Apa kau tidak merasa ia terlihat familiar?”



    Setelah Shikamaru berbicara, ia menolehkan kepalanya sedikit ke arah rumah teh di jalanan yang ramai itu.



    Rou menoleh untuk melihat ke arah yang Shikamaru maksud.



    “Itu…Itu tidak mungkin…”



    “Eh? Ada apa? Aku tak mengerti apa yang kalian sibuk bicarakan daritadi, kau tahu…”



    “Jadi aku benar.” Shikamaru berkata dengan muram.



    “Aku terus merasa bahwa wajah orang itu terlihat familiar.”



    Ia dan Rou melihat ke arah pria yang menduduki bangku panjang di depan rumah teh dan sedang meminum teh. Ia juga menggunakan jubah panjang yang mencolok.



    Saat mereka melihatnya, pria itu memanggil pemilik rumah teh, dan penjaga toko segera keluar dari dalam rumah teh itu, membungkuk berkali-kali dan memuji-muji serta meminta maaf kepada pria itu.



    Tingkah seperti itulah yang biasa dilakukan penduduk kepada pelayan Daimyou.



    “Dia seharusnya merupakan Anbu,” ucap Rou terhenyak.



    “Namanya adalah Minoichi.”



    “Pria itu…”



    “Seharusnya merupakan yang hilang saat perang, kan?” Tebak Soku, menyelesaikan kalimat Shikamaru.



    Ketiga dari mereka terus berjalan melewati rumah teh, berhati-hati agar pemantauan mereka terhadap Minoichi tidak disadari.



    “Akan lebih cepat jika kita mengetahui kejadian ini lebih dulu, iya kan?” Ucap Shikamaru.



    Rasanya seperti ada kembang api yang muncul dari dalam hati Shikamaru. Bibirnya melengkungkan senyum.



    ⁰ₒ⁰

    “Kau tak akan bisa bergerak lagi.” Shikamaru berujar pada pria yang tersentak ketakutan di depannya.



    Mereka berada di lorong sempit diantara dua bangunan beton. Shikamaru sengaja memilih tempat ini karena tempat ini bukan merupakan hotspot, sehingga terabaikan meskipun pada tengah hari.



    Rou dan Soku mengawasi ujung lorong yang terbuka ke arah jalan. Mereka menyatu dengan bayangan sesuai dengan yang diharapkan dari pengalaman mereka sebagai Anbu, tetap diam tak bergerak dan berkonsentrasi penuh pada tugas mereka.



    Sebuah bayangan yang bahkan lebih gelap dan dalam dibanding bayangan lorong sempit itu memanjang dari kaki Shikamaru. Bayangan itu merayap sepanjang lorong seperti ular berwarna hitam pekat hingga menggapai sekitar tubuh pria yang ada di depannya. Sulur bayangan itu berubah menjadi tangan-tangan gelap yang melingkari leher tawanannya dengan erat.



    Kage Kubi Shibari no Jutsu…



    Klan Nara, keluarga Shikamaru, telah menjadi pengguna jurus bayangan dari generasi ke generasi. Kage Kubi Shibari no Jutsu membuatmu dapat menggunakan bayanganmu untuk menghentikan gerakan lawan. Bayangan Klan Nara berwujud fisik. Jurus mereka tak hanya berhenti sampai mengikat lawan dengan bayangan- mereka juga dapat menggunakannya untuk membuat kerusakan fisik.



    “Untuk sekedar kau tahu.” Ucap Shikamaru datar.



    “Aku dapat dengan mudah menghancurkanlehermu menggunakan bayanganku.”



    “B- bagaimana…Ke- kenapa kau…br*****k…”



    “Kau tak mengenalku?” Shikamaru bertanya pada Anbu itu.



    “Aku mengenalmu, Minoichi-san.”



    “A- aku tak kenal nama itu”



    “Jangan pura-pura bodoh. Kau sebenarnya merupakan shinobi Konoha, kan?”



    “A- aku tak tahu soal itu.”



    Bayangan Shikamaru bergerak ke arah leher pria itu, sebuah tangan gelap semakin erat mencengkram mengitari jakun Minoichi.



    “Ugh…” Ia mengerang kesakitan.



    “Kau terlahir di Konoha.” Ucap Shikamaru.



    “Kau pasti pernah mendengar tentang jurus Klan Nara, bukan? Dan apa yang dapat jurus itu lakukan…”



    Jika kau meneruskan hal ini, aku akan mencekikmu hingga mati.



    Itu merupakan ancaman yang dibuat Shikamaru.



    “Jadi kenapa kau, seorang Shinobi Konoha, berada ditempat ini, menggunakan pakaian seperti itu?”



    “A- aku bukan seorang shinobi lagi.” Minoichi berbicara dengan suara parau. “Aku adalah…Kakusha (Yang Tercerahkan).”



    “Yang Tercerahkan? Apa yang kau maksud dengan hal itu?”



    “O-orang-orang lamban seperti kalian yang hidup di…dunia Shinobi yang tak pernah berubah…tak akan pernah mengerti apa tujuan mulia kami.”



    “Lihatlah ocehanmu. Aku bertanya siapa yang dimaksud ‘Yang Tercerahkan’ itu.” Shikamaru sedikit menguatkan cengkraman jari-jari bayangannya pada sekitar leher pria itu.



    “Geugh…” Minoichi mengerang.



    “Aku tak masalah dengan mencekikmu jika kau meneruskan hal ini.” Bahkan Shikamaru merasa mual dengan kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri.



    Hatinya diselimuti oleh kegelapan…



    “Kau tak akan mengert- eugh!”



    Shikamaru mengeratkan cengkraman bayangannya dengan kuat pada jakun Minoichi yang naik turun.



    “Jika kau teruskan omong kosong ini, aku akan benar-benar membunuhmu.”



    Pupil Shikamaru melebar membuat matanya menggelap segelap bayangannya.



    “A- aku…mengerti…”



    “Bukankah yang seharusnya adalah ‘aku mengerti, tuan’?”



    “Aku…mengerti…tuan…”



    Shikamaru melemahkan cengkraman bayangannya, dan Minoichi langsung terbatuk dan tergugup, air mata muncul di matanya.



    “Sekarang, kau harus menjawabku. Siapa sebenarnya kau ‘Yang Tercerahkan’? Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang merupakan shinobi dengan berkumpul di daerah ini?”



    Melihat ekspresi bengis di wajah Shikamaru, Minoichi menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.



    “Kami ‘Yang Tercerahkan’ menguasai negara ini. Tak ada lagi Daimyou rendahan di sekitar sini. Gelar ‘Yang Tercerahkan’ didapatkan jika kalian merupakan shinobi yang telah membuka mata kalian terhadap tujuan mulia Dengo-sama. Tujuan kami adalah menciptakan revolusi yang sebenarnya di dunia ini bersama dengan Gengo-sama. Apapun yang sampah seperti kalian susun atau rencanakan tidaklah berarti baginya. Apapun yang kau dengar dariku tak akan membuatmu mengerti tentang kebenaran negara ini…!”



    Minoichi mulai tertawa, membuka rahangnya untuk menggigit lidahnya dengan maksud bunuh diri.



    “Berhenti!”



    Sesaat, Shikamaru yakin bahwa Minoichi sudah mati, merosot ke samping, karena menggigit lidahnya. Namun kemudian, otaknya menangkap sesuatu.



    Dalam sekejap, sesuatu telah melayang dan menusuk sisi leher Minoichi…



    “Aku menggunakan jarum chakra yang melumpuhkannya, jadi ia tak akan bisa bergerak selama tiga hari, kau tahu.”



    Soku yang berbicara. Ia sudah berdiri di sebelahnya tanpa Shikamaru sadari.



    “Feh, ‘Yang Tercerahkan’…itu terdengar arogan dan menjengkelkan, kau tahu.” Ucap Soku, melihat ke arah Minoichi yang sudah tergeletak.



    Wajah mantan shinobi itu terlihat mengganggu dalam tidurnya yang damai.

    Novel Shikamaru Hiden Chapter 8

    Posted at  January 18, 2017  |  in    |  Read More»






    NEGERI TERSEMBUNYI



    Tim Shikamaru berlari selama tiga hari tak peduli siang atapun malam, sebelum mereka akhirnya tiba di Negeri Sunyi.



    Negeri Sunyi merupakan Negara yang relatif kecil, terletak menghadap bagian barat kontinen. Sebagian besar dari negara itu dikelilingi oleh pegunungan dan hutan, dan dataran utamanya dihiasi oleh tanah lapang. Tak ada satupun kota di dataran itu yang luasnya mendekati kota manapun di Negara Api. Negeri Sunyi akan lebih terasa seperti pedesaan yang sederhana bahkan bagi tiga pendiri Konoha.



    Ibukota negara itu, Desa Tirai, terletak hampir di tengah-tengah Negara. Sejak mereka menyelinap masuk dari batas negara, Shikamaru dan timnya secara konstan berlari melewati bukit dan lembah. Saat mereka mencapai Desa Tirai, terhitung sudah empat hari sejak mereka meninggalkan Konoha.



    Meskipun negara itu merupakan negara yang miskin, ibukotanya masih memiliki kemegahan layaknya kota besar. Ketika seluruh desa di negara itu memiliki rumah dengan atap jerami, rumah terkecil di ibukota itu beratap genting. Terdapat banyak bangunan yang dibuat menggunakan beton bertulang, dan jalanan yang bersih dan tertata rapi. Jalanan yang tersebar di desa memiliki bentuk yang sama seperti jaring laba-laba, meluas melingkar dari tengah kota. Ruang-ruang kecil dipisahkan oleh jalan, rumah, dan apartemen yang berbaris berdampingan.



    Sebuah bangunan yang sangat besar didirikan di tengah kota. Jika dilihat dari kejauhan, bangunan ini merupakan satu-satunya yang mecolok diantara bangunan lain. Gedung itu tingginya sekitar 10 lantai, dengan atap berwarna crimson, dan di tepi kiri dan kanan atap terdapat dua patung singa berwarna emas.



    “Ahh, ini pasti merupakan istana negara yang kita cari.”



    “Tidak perlu terdengar begitu puas karena menyatakan hal yang sudah jelas, kau tahu.”



    Shikamaru setengah mengawasi istana itu, setengah mendengarkan pembicaraan Rou dan Soku saat mereka melewati jalan utama.



    Tentu saja, mereka telah mengganti jaket pelindung Konoha mereka.



    Sebagaimana budaya setiap negara yang berbeda, begitu pula dengan pakaian. Rou dan Soku menyarankan agar mereka sebaiknya mendapatkan pakaian lokal sehingga mereka tak tampak mencolok selama penyusupan, dan Shikamaru menurut karena pengalaman mereka sebagai Anbu. Sepanjang jalan kota itu, mereka akan berhenti di mansion yang tampak dimiliki oleh orang yang sangat kaya yang dapat mereka temukan dan mendapatkan pakaian untuk mereka bertiga.



    Pakaian yang dipakai orang-orang di Negeri Sunyi sangat sederhana, tanpa pola-pola tertentu. Atasannya merupakan jubah uwagi, yang menutupi sekitar dada dan diikat menggunakan sabuk kain. Dari pinggang ke bawah menggunakan hakama yang lebar, dengan bagian bawah celanamereka dimasukkan ke dalam sepatu boot bertali yang tingginya sebetis.



    Warna pakaiannya juga tampak aneh seperti desainnya. Semua orang yang berjalan di Desa Tirai itu menggunakan warna hitam atau coklat atau abu-abu. Bahkan pertokoan di sepanjang jalan itu tidak memiliki lampu penerangan atau papan neon, iklan-iklan mereka tampak membosankan dan suram.



    Tak ada satupun hal yang tampak terang dapat ditemukan di seluruh kota itu.



    “Apakah anda menyadarinya, Shikamaru-dono?” Rou bertanya dari posisinya di depan.



    Shikamaru berdesakan di antara dua Anbu. Rou berjaga di bagian depan.



    Pertanyaan pria itu sangat samar. Ia tidak merincikan apa yang seharusnya Shikamaru telah sadari, jadi tidak ada cara untuk menjawabnya.



    “Kita belum melihat satupun pelayan Daimyou.” Rou menjelaskan.



    “Itu benar.” Shikamaru menyetujuinya.



    Sembari berbincang, mereka menuju ke arah istana. Tidak ada maksud untuk melaksanakan operasi itu sekarang, namun hanya mengikuti orang-orang sekitar yang berjalan menuju bangunan terbesar itu. Shikamaru tentu saja tidak berkeinginan untuk terburu-buru atau gegabah  dan mempertaruhkan misi menjadi lebih buruk.



    “Semua orang yang kita lihat di jalan sejauh ini adalah penduduk Negara. Sangat aneh jika kita tak melihat satupun pelayan.”



    Pengamatan Rou tepat sasaran.



    Pemimpin-pemimpin negara di kontinen mereka, tanpa pengecualian, selalu merupakan Daimyou. Persatuan antara Dunia Shinobi berjalan dengan baik, namun shinobi sama sekali tak pernah berada dalam kepemimpinan politik. Dan Daimyou selalu tinggal di ibukota Negara mereka, dengan tempat tinggal mereka yang dibanjiri oleh petugas yang melayani mereka.



    Pelayan-pelayan itu membedakan diri mereka dengan penduduk lainnya dengan bangga, dari pakaian mereka yang berwarna-warni hingga perilaku mereka yang sombong dan arogan. Mereka selalu sibuk di kota dimana Daimyou mereka tinggal, berkelana di daerah sekitar untuknya.



    Dan lagi, mereka tidak mendapati seorang pelayan pun.



    “Kemungkinan disini memang tidak terdapat Daimyou.” Gumam Soku.



    Itu mungkin merupakan keadaannya. Negara kecil terkadang memiliki keadaan dimana penduduk menampakkan seolah-olah terdapat Daimyou, namun sebenarnya mereka mengurus masalah mereka sendiri.



    Tapi negara ini berbeda. Shikamaru sangat yakin akan hal itu.



    Ia berbalik ke arah Soku, matanya melirik istana yang baru saja mereka lewati di belakang mereka.



    “Pesan Sai menyebutkan dengan jelas bahwa negara ini dikontrol oleh pria bernama Gengo.”



    “Tapi kemungkinan ia bukan seorang Daimyou, kau tahu.”



    “Kau mendapatkan intinya.” Saat Shikamaru mengatakan hal itu, pandangannya jatuh ke arah seorang pria yang berjalan di depan kelompoknya.



    Ia mengenakan jubah hitam panjang dan memiliki mata yang tajam. Pakaiannya mencolok diantarahakama dan uwagi yang digunakan oleh penduduk lainnya.



    Desainnya mengingatkan Shikamaru pada jubah Akatsuki, meskipun pada pakaian pria ini tak terdapat gambar awan merah, atau kerah tinggi yang menutupi mulutnya. Tak terdapat lapisan ataupun pengikat ditengahnya, hanya ada lima buah kancing besar berwarna silver.



    “Lihat pria di depan kita? Kita sudah melihat beberapa orang lainnya berpakaian sepertinya. Apakau merasa teringat akan sesuatu saat melihat mereka?” Tanya Shikamaru.



    “Saya juga menyadarinya, Shikamaru-dono.”



    “Bukankah seseorang normalnya menunggu sesaat daripada langsung menyetujui sesuatu…?”Tanya Soku.



    “Pakaian itu. bagaimanapun pakaian itu menjadi target.” Rou membuat satu lagi lelucon buruknya.



    “Kami ingin kau diam, kau tahu.” Soku mengerang.



    Mengabaikan gurauan mereka, Shikamaru lanjut berbicara.



    “Rou, bagaimana dengan pria di sebelah sana? Apa kau tidak merasa ia terlihat familiar?”



    Setelah Shikamaru berbicara, ia menolehkan kepalanya sedikit ke arah rumah teh di jalanan yang ramai itu.



    Rou menoleh untuk melihat ke arah yang Shikamaru maksud.



    “Itu…Itu tidak mungkin…”



    “Eh? Ada apa? Aku tak mengerti apa yang kalian sibuk bicarakan daritadi, kau tahu…”



    “Jadi aku benar.” Shikamaru berkata dengan muram.



    “Aku terus merasa bahwa wajah orang itu terlihat familiar.”



    Ia dan Rou melihat ke arah pria yang menduduki bangku panjang di depan rumah teh dan sedang meminum teh. Ia juga menggunakan jubah panjang yang mencolok.



    Saat mereka melihatnya, pria itu memanggil pemilik rumah teh, dan penjaga toko segera keluar dari dalam rumah teh itu, membungkuk berkali-kali dan memuji-muji serta meminta maaf kepada pria itu.



    Tingkah seperti itulah yang biasa dilakukan penduduk kepada pelayan Daimyou.



    “Dia seharusnya merupakan Anbu,” ucap Rou terhenyak.



    “Namanya adalah Minoichi.”



    “Pria itu…”



    “Seharusnya merupakan yang hilang saat perang, kan?” Tebak Soku, menyelesaikan kalimat Shikamaru.



    Ketiga dari mereka terus berjalan melewati rumah teh, berhati-hati agar pemantauan mereka terhadap Minoichi tidak disadari.



    “Akan lebih cepat jika kita mengetahui kejadian ini lebih dulu, iya kan?” Ucap Shikamaru.



    Rasanya seperti ada kembang api yang muncul dari dalam hati Shikamaru. Bibirnya melengkungkan senyum.



    ⁰ₒ⁰

    “Kau tak akan bisa bergerak lagi.” Shikamaru berujar pada pria yang tersentak ketakutan di depannya.



    Mereka berada di lorong sempit diantara dua bangunan beton. Shikamaru sengaja memilih tempat ini karena tempat ini bukan merupakan hotspot, sehingga terabaikan meskipun pada tengah hari.



    Rou dan Soku mengawasi ujung lorong yang terbuka ke arah jalan. Mereka menyatu dengan bayangan sesuai dengan yang diharapkan dari pengalaman mereka sebagai Anbu, tetap diam tak bergerak dan berkonsentrasi penuh pada tugas mereka.



    Sebuah bayangan yang bahkan lebih gelap dan dalam dibanding bayangan lorong sempit itu memanjang dari kaki Shikamaru. Bayangan itu merayap sepanjang lorong seperti ular berwarna hitam pekat hingga menggapai sekitar tubuh pria yang ada di depannya. Sulur bayangan itu berubah menjadi tangan-tangan gelap yang melingkari leher tawanannya dengan erat.



    Kage Kubi Shibari no Jutsu…



    Klan Nara, keluarga Shikamaru, telah menjadi pengguna jurus bayangan dari generasi ke generasi. Kage Kubi Shibari no Jutsu membuatmu dapat menggunakan bayanganmu untuk menghentikan gerakan lawan. Bayangan Klan Nara berwujud fisik. Jurus mereka tak hanya berhenti sampai mengikat lawan dengan bayangan- mereka juga dapat menggunakannya untuk membuat kerusakan fisik.



    “Untuk sekedar kau tahu.” Ucap Shikamaru datar.



    “Aku dapat dengan mudah menghancurkanlehermu menggunakan bayanganku.”



    “B- bagaimana…Ke- kenapa kau…br*****k…”



    “Kau tak mengenalku?” Shikamaru bertanya pada Anbu itu.



    “Aku mengenalmu, Minoichi-san.”



    “A- aku tak kenal nama itu”



    “Jangan pura-pura bodoh. Kau sebenarnya merupakan shinobi Konoha, kan?”



    “A- aku tak tahu soal itu.”



    Bayangan Shikamaru bergerak ke arah leher pria itu, sebuah tangan gelap semakin erat mencengkram mengitari jakun Minoichi.



    “Ugh…” Ia mengerang kesakitan.



    “Kau terlahir di Konoha.” Ucap Shikamaru.



    “Kau pasti pernah mendengar tentang jurus Klan Nara, bukan? Dan apa yang dapat jurus itu lakukan…”



    Jika kau meneruskan hal ini, aku akan mencekikmu hingga mati.



    Itu merupakan ancaman yang dibuat Shikamaru.



    “Jadi kenapa kau, seorang Shinobi Konoha, berada ditempat ini, menggunakan pakaian seperti itu?”



    “A- aku bukan seorang shinobi lagi.” Minoichi berbicara dengan suara parau. “Aku adalah…Kakusha (Yang Tercerahkan).”



    “Yang Tercerahkan? Apa yang kau maksud dengan hal itu?”



    “O-orang-orang lamban seperti kalian yang hidup di…dunia Shinobi yang tak pernah berubah…tak akan pernah mengerti apa tujuan mulia kami.”



    “Lihatlah ocehanmu. Aku bertanya siapa yang dimaksud ‘Yang Tercerahkan’ itu.” Shikamaru sedikit menguatkan cengkraman jari-jari bayangannya pada sekitar leher pria itu.



    “Geugh…” Minoichi mengerang.



    “Aku tak masalah dengan mencekikmu jika kau meneruskan hal ini.” Bahkan Shikamaru merasa mual dengan kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri.



    Hatinya diselimuti oleh kegelapan…



    “Kau tak akan mengert- eugh!”



    Shikamaru mengeratkan cengkraman bayangannya dengan kuat pada jakun Minoichi yang naik turun.



    “Jika kau teruskan omong kosong ini, aku akan benar-benar membunuhmu.”



    Pupil Shikamaru melebar membuat matanya menggelap segelap bayangannya.



    “A- aku…mengerti…”



    “Bukankah yang seharusnya adalah ‘aku mengerti, tuan’?”



    “Aku…mengerti…tuan…”



    Shikamaru melemahkan cengkraman bayangannya, dan Minoichi langsung terbatuk dan tergugup, air mata muncul di matanya.



    “Sekarang, kau harus menjawabku. Siapa sebenarnya kau ‘Yang Tercerahkan’? Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang merupakan shinobi dengan berkumpul di daerah ini?”



    Melihat ekspresi bengis di wajah Shikamaru, Minoichi menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.



    “Kami ‘Yang Tercerahkan’ menguasai negara ini. Tak ada lagi Daimyou rendahan di sekitar sini. Gelar ‘Yang Tercerahkan’ didapatkan jika kalian merupakan shinobi yang telah membuka mata kalian terhadap tujuan mulia Dengo-sama. Tujuan kami adalah menciptakan revolusi yang sebenarnya di dunia ini bersama dengan Gengo-sama. Apapun yang sampah seperti kalian susun atau rencanakan tidaklah berarti baginya. Apapun yang kau dengar dariku tak akan membuatmu mengerti tentang kebenaran negara ini…!”



    Minoichi mulai tertawa, membuka rahangnya untuk menggigit lidahnya dengan maksud bunuh diri.



    “Berhenti!”



    Sesaat, Shikamaru yakin bahwa Minoichi sudah mati, merosot ke samping, karena menggigit lidahnya. Namun kemudian, otaknya menangkap sesuatu.



    Dalam sekejap, sesuatu telah melayang dan menusuk sisi leher Minoichi…



    “Aku menggunakan jarum chakra yang melumpuhkannya, jadi ia tak akan bisa bergerak selama tiga hari, kau tahu.”



    Soku yang berbicara. Ia sudah berdiri di sebelahnya tanpa Shikamaru sadari.



    “Feh, ‘Yang Tercerahkan’…itu terdengar arogan dan menjengkelkan, kau tahu.” Ucap Soku, melihat ke arah Minoichi yang sudah tergeletak.



    Wajah mantan shinobi itu terlihat mengganggu dalam tidurnya yang damai.






    Temari berdiri di belakang Gaara, melihat rambut crimson-nya yang bergoyang tertiup angin. Saat melihatnya, ia berpikir pada dirinya betapa adiknya telah tumbuh menjadi orang yang hebat.

    Mereka berdiri di atas sebuah bukit, melihat pemandangan indah Suna dari atas. Orang-orang di desa menyebutnya



    “tempat membaca angin” karena angin tak pernah berhenti berhembus di atas sini, sepanjang tahun. Temari tahu bahwa hanya Gaara lah yang datang kemari untuk menikmati pemandangan desa meskipun angin berhembus kencang.



    “Apa kau membutuhkan sesuatu, nee-san?” Tanya Gaara. Ia menolehkan kepalanya untuk melihat Temari, dan Temari dapat melihat huruf kanji Ai yang berarti ‘Cinta’ tertato di dahinya.



    Beberapa tahun lalu, siapapun yang mendengar nama 'Gaara', akan bergidik ketakutan. Tapi lihatlah adik kecilnya sekarang. Ia merupakan pemimpin Suna, dan menjadi orang yang berpengaruh dalam aliansi yang mempersatukan seluruh shinobi. Gaara telah menjadi seseorang yang sangat dibutuhkan di Dunia Shinobi.



    Itu semua berkat Naruto.



    Gaara memiliki bijuu dalam tubuhnya sejak lahir, sepanjang masa kecilnya. Ia dulu meyakini satu hal: 'mencintai diri sendiri' dan menjadikan seluruh dunia musuhnya, tak membiarkan seseorang pun mendekatinya. Gaara yang dulu tak pernah membiarkan kakak perempuannya, Temari, atau kakak laki-lakinya, Kankurou, mendekati apalagi memasuki hatinya. Meskipun ia tak menyatakan hal itu terang-terangan, seluruh tubuhnya, sikapnya saat kehilangan dirinya, yang bergolak haus akan darah, semua yang ia lakukan men–transmisi-kan kata-kata itu dengan jelas.



    Naruto adalah satu-satunya yang mampu menggapai Gaara.



    Naruto tak bisa mengabaikan Gaara begitu saja, bukan saat ia merupakan jinchuuriki yang hidup dengan kehidupan yang sama sepertinya. Setelah bertukar serangan dalam pertempuran yang melewati batas manusia normal, keduanya perlahan memahami satu sama lain. Saat bijuu dalam tubuh Gaara dikeluarkan oleh Akatsuki dan ia berada pada ambang kematian, Naruto memompakan chakranya sebanyak mungkin pada Gaara, tanpa ragu sedikitpun. Gaara telah menganggapnya sebagai ‘teman’.



    Gaara telah berubah sejak ia bertemu Naruto, sifat Gaara yang dingin lenyap. Cara ia berbicara dan memperlakukan Temari dan Kankurou berubah. Sikapnya pada desa berubah. Perasaannya kepada semua orang di desa berubah.



    Dan pada akhirnya, Gaara diakui oleh semua orang.



    Temari sangat berterima kasih pada Naruto karena hal itu. Ia berpikir bahwa desa Konohamerupakan desa yang menyenangkan. Penduduk desa mereka memiliki kebanggaan yang besarsebagai shinobi, dan sebagian besar dari mereka merupakan orang-orang yang berpikir logis.



    Tiba-tiba, wajah pria itu melintas di pikirannya. Ada rasa sakit yang menyengat dada Temari, dan dengan kesal ia mendecakkan lidahnya.



    “Apa ada masalah, neesan?”



    “Eh? Tidak…”



    Gaara menatap ke arahnya, memandang dengan khawatir. Temari dapat merasakankekhawatirannya yang besar, dan ia mengalihkan pandangan darinya.



    Di desa Suna air selalu kering. Karena berada di tengah-tengah gurun, desa itu tak pernah dituruni hujan. Pasir selalu bercampur dengan angin.



    “Ada butiran debu yang masuk ke mataku, itu saja.”



    “Itu hal yang langka.” Gaara berkata dengan lembut.



    “Hal itu tak biasa terjadi padamu,neesan.”



    “I- iya, benar…”



    Orang-orang yang terlahir di Suna secara alami beradaptasi dengan pasir dan anginnya, mereka terbiasa menghadapi hal tersebut. Meskipun saat badai pasir, tak seorang ninja Suna pun yang matanya akan terasa perih karena pasir.



    Kalimat Temari tentang ‘butiran debu memasuki matanya’ jelas-jelas adalah sebuah kebohongan dan alasan.



    “Shikamaru…” Gaara tiba-tiba menyebukan nama pria itu, dan Temari sedang lengah sehingga ia tak dapat menahan dirinya yang menjadi kaku.



    Meskipun tubuh kakaknya menjadi kaku layaknya sedang menghadapi musuh, Gaara tak mengatakan apapun tentang sikap tubuhnya yang tiba-tiba itu, dan berbicara seolah tak terjadi apa-apa.



    “Aku merasa belakangan ini ia bersikap aneh. Terakhir aku melihatnya di Markas Besar, tampaknya hatinya tak berada dalam tindakannya. Aku merasa ia bekerja terlalu keras.”



    “Kau berpikir begitu juga, huh.” Ucap Temari.



    Gaara mengangguk. “Dulu aku tak peduli terhadap orang lain, namun sekarang aku sangat berhati-hati dalam memperhatikan penampilan dan sikap orang lain. Mungkin karena itulah aku peka terhadap pergerakan hati seseorang.”



    Tentu saja, adik laki-lakinya pada dasarnya adalah orang yang sangat serius. Sekali ia yakin bahwa ia harus melakukan sesuatu, ia akan melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Itu semua karena ia telah membuka hati sepenuhnya terhadap orang lain.



    Bukanlah hal yang mengejutkan jika adiknya dapat menyadari berubahan kecil dari sikap Shikamaru ketika ia sangat berhati-hati dalam membaca sikap orang lain.



    “Ia menyembunyikan sesuatu.”



    “Mm…” Temari bersuara tanda setuju.



    “Ia merupakan orang yang paling serius memikirkan seluruh masa depan Persatuan dan shinobi dari yang lain.” Ucap Gaara.



    “Aku yakin ia tak akan melakukan hal yang membahayakan Persatuan.”



    Gaara merujuk pada fakta bahwa setiap desa yang berpartisipasi dalam Persatuan Shinobi memiliki kewajiban untuk melaporkan setiap masalah baik di luar maupun di dalam yurisdiksi mereka. Ia juga merujuk pada fakta bahwa ia dan Temari  menyadari Shikamaru enggan melaporkan situasi yang terjadi di Konoha. Situasi apapun yang membuatnya bertindak seperti itu adalah situasi yang tampaknya mempengaruhi seluruh desa shinobi.



    “Apa kau tau apa yang kira-kira ia sembunyikan, neesan?”



    “Aku harap aku tahu.”



    Wajar jika Gaara bertanya padanya. Temari adalah orang yang paling sering bekerja sama dengan Shikamaru dalam Persatuan Shinobi.



    “Bukannya aku tak memiliki pemikiran tentang hal itu…” Ucap Temari.



    “Hanya saja aku tak yakinapakah aku benar.”



    Gaara mengangguk, mendengar dalam diam.



    “Ia sedang serius menyelidiki shinobi yang hilang dalam perang, dan kasus missing-nin yang baru-baru ini terjadi.”



    Setelah Temari menjawab, Gaara mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah desa lagi. Sebuah alur muncul diantara alisnya.



    Ia sedang berpikir.



    Angin tiba-tiba berhembus. Butiran pasir menggores dahi mereka, rasa sakit yang terasa familiar.



    “Mari kita tanyakan pada Naruto.” Gaara bergumam.



    “Bersediakah kau, neesan?”



    “Baiklah.” Temari terkejut dengan betapa cemasnya suara yang ia dengar.



    “Tentu saja, kau juga harus bertanya pada Kakashi, tapi ia pasti akan enggan menjawab, jadi pertama-tama tanyakan pada Naruto tentang Shikamaru.” Ucap Gaara,



    “Jika ternyata Shikamaru sedang berada dalam situasi berbaya, maka kita paling tidak harus mencoba menyelamatkannya dengan segala kekuatan yang kita miliki. Jika kau merasa membutuhkan shinobi Suna, bawalah mereka sebanyak yang kau butuhkan.”



    “…Shikamaru adalah shinobi dari Konoha, kau tahu?”



    “Kita sudah lama melewati era dimana kita mempedulikan tentang ‘Shinobi Suna’ atau ‘Shinobi Konoha’. Ia adalah pria yang penting dalam Persatuan shinobi. Wajar jika kita harus membantunya.”



    “…Terima kasih.”



    “Ini bukan sesuatu yang perlu kau terima kasihkan padaku, neesan.”



    Setetes air mata yang berhasil lolos mengalir di pipi Temari. Menyekanya dengan tak sabar, ia melihat ke arah adiknya dengan seringai yang lebar.



    “Entah kenapa, hari ini butiran pasir terus-menerus masuk ke mataku.”



    ⁰ₒ⁰

    “Hey Sakura-chan, apa kau mendengar?” Naruto bertanya dengan kesal, menyandarkan sikunya pada tumpukan buku yang menumpuk setinggi dadanya. Ia sedang berbicara pada punggung Sakura saat ia sedang bergegas menelusuri rak buku yang memanjang menutupi dinding.



    “Kau tahu, Sai tidak tampak di sekitar kita sudah sebulan lebih, dan Shikamaru tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan kaku terhadapku. Hey, apa kau pikir dia menyembunyikan sesuatu dariku?”



    “Aku tidak tahu!”



    Suara jengkel Sakura membuat Naruto mengerenyit.



    “Bagaimana dengan misimu?”



    “Sudah berakhir hari ini.”



    “Kalau begitu cepatlah pergi ke Ichiraku, makan ramen, pulang, dan tidur!”



    “Apaaaaaa, tapi sudah lama kau tidak ke Kediaman Hokage. Akhirnya kau muncul juga… Kau bersikap sangat dingin sebagai anggota tim 7.”



    Sakura berbalik dengan marah menghadap ke arah temannya yang memasang wajah cemberut.



    “Sekarang aku sedang kewalahan bekerja dengan Nona Tsunade dalam mengembangkan sebuah sistem untuk jutsu medis, begitu juga bekerja dalam struktur sistem Persatuan Shinobi. Aku harus mempelajari dokumen yang tersisa dari Nona Tsunade ketika ia masih menjabat sebagai Hokage! Aku tidak punya waktu! Aku tidak bisa mendengarkan gosipmu! Mengerti?”



    Terengah, ia berbalik menghadap rak-rak buku.



    “Lagipula, belakangan ini kau sering keluar dengan Hinata, kan? Bukankah lebih baik kau pergi  dan mengobrol dengannya yang mau mendengarkanmu daripada menggangguku?”



    “Apa? Kau cemburu?”



    Sakura berbalik dengan ekspresi marah, memberikan tinjunya ke kepala Naruto.



    “Tentu saja tidak! Aku memutuskan untuk menunggu Sasuke-kun, kau tahu!”



    “I- iya nyonya…” Naruto menjawab. Tiba-tiba matanya menunjukkan keseriusan, dan Sakura yang menyadari, memperhatikan apa yang dikatakannya.



    “Tapi belakangan ini, kau tahu, aku punya perasaan yang sangat buruk.”



    “Apa Kyuubi membuat kehebohan?”



    Kyuubi masih berada dalam tubuh Naruto. Dan juga terdapat sebagian kekuatan dari 8 bijuu di dalam tubuhnya. Maka dari itu, kau bisa mengatakan bahwa ia merupakan pilar dari kekuatan Juubi.Dalam perang lalu, Obito telah menjadi pilar dari Juubi dan memperoleh chakra yang menyaingi Rikudou Sennin. Naruto yang telah mengambil bijuu ke dalam tubuhnya, memiliki sebagian kekuatan Sage hingga kini. ‘Perasaan buruk’-nya berbeda dengan manusia normal, dan Sakura juga mengetahui hal itu.



    “Apa kau tidak merasa salah menilai?”



    “Kau jahat, tidak percaya sama sekali dengan penilaianku…” Naruto bergumam, menjatuhkan dirinya ke lantai merajuk.



    “Karena sudah sepantasnya kau khawatir, makanya tidak ada yang bisa kau lakukan. Baik Saimaupun Shikamaru mereka adalah shinobi yang hebat. Meskipun mereka akhirnya menghadapi situasi dimana mereka membutuhkanmu, mereka akan memintanya. Dan jika tidak, maka Hokage akan memintamu untuk menyelamatkan mereka.”



    “Ehhh, aku tak yakin Kakashi-sensei tahu kapan saat itu tiba.”



    “Kau jauh lebih buruk dari dia!” Sakura meledak, menendang tulang keringnya. Naruto menggerakkan kakinya, berusaha menjaga jarak.



    “Berhenti membicarakan hal yang tak bisa kau bantu, dan konsentrasilah pada misimu. Itulah yang Sai dan Shikamaru inginkan darimu. Terutama Shikamaru. Ia bekerja keras dalam Persatuan shinobi dan desa agar kau dapat menjadi Hokage! Jangan biarkan semua itu menjadi sia-sia.”



    “Aku tau mereka melakukan itu untukku… tapi itulah mengapa aku khawatir, kau tahu.”



    Sakura menghelas nafas.



    “Kuatkan dirimu. Mereka adalah teman-teman yang mempercayaimu selama ini, mereka tak akan mati sia-sia.”



    “Jangan berkata hal yang menakutkan tentang kematian!”



    “Oh, demi apapun! Aku berkata satu hal kau sedih, aku berkata hal lain kau masih sedih! Kausangat menyusahkan-ttebayo!” Sakura menggunakan frase yang biasa digunakan Naruto padanya.



    “Pulanglah dan tidur!”



    Sakura melempar Naruto keluar ruangan.

    Novel Shikamaru Hiden Chapter 7

    Posted at  January 18, 2017  |  in    |  Read More»






    Temari berdiri di belakang Gaara, melihat rambut crimson-nya yang bergoyang tertiup angin. Saat melihatnya, ia berpikir pada dirinya betapa adiknya telah tumbuh menjadi orang yang hebat.

    Mereka berdiri di atas sebuah bukit, melihat pemandangan indah Suna dari atas. Orang-orang di desa menyebutnya



    “tempat membaca angin” karena angin tak pernah berhenti berhembus di atas sini, sepanjang tahun. Temari tahu bahwa hanya Gaara lah yang datang kemari untuk menikmati pemandangan desa meskipun angin berhembus kencang.



    “Apa kau membutuhkan sesuatu, nee-san?” Tanya Gaara. Ia menolehkan kepalanya untuk melihat Temari, dan Temari dapat melihat huruf kanji Ai yang berarti ‘Cinta’ tertato di dahinya.



    Beberapa tahun lalu, siapapun yang mendengar nama 'Gaara', akan bergidik ketakutan. Tapi lihatlah adik kecilnya sekarang. Ia merupakan pemimpin Suna, dan menjadi orang yang berpengaruh dalam aliansi yang mempersatukan seluruh shinobi. Gaara telah menjadi seseorang yang sangat dibutuhkan di Dunia Shinobi.



    Itu semua berkat Naruto.



    Gaara memiliki bijuu dalam tubuhnya sejak lahir, sepanjang masa kecilnya. Ia dulu meyakini satu hal: 'mencintai diri sendiri' dan menjadikan seluruh dunia musuhnya, tak membiarkan seseorang pun mendekatinya. Gaara yang dulu tak pernah membiarkan kakak perempuannya, Temari, atau kakak laki-lakinya, Kankurou, mendekati apalagi memasuki hatinya. Meskipun ia tak menyatakan hal itu terang-terangan, seluruh tubuhnya, sikapnya saat kehilangan dirinya, yang bergolak haus akan darah, semua yang ia lakukan men–transmisi-kan kata-kata itu dengan jelas.



    Naruto adalah satu-satunya yang mampu menggapai Gaara.



    Naruto tak bisa mengabaikan Gaara begitu saja, bukan saat ia merupakan jinchuuriki yang hidup dengan kehidupan yang sama sepertinya. Setelah bertukar serangan dalam pertempuran yang melewati batas manusia normal, keduanya perlahan memahami satu sama lain. Saat bijuu dalam tubuh Gaara dikeluarkan oleh Akatsuki dan ia berada pada ambang kematian, Naruto memompakan chakranya sebanyak mungkin pada Gaara, tanpa ragu sedikitpun. Gaara telah menganggapnya sebagai ‘teman’.



    Gaara telah berubah sejak ia bertemu Naruto, sifat Gaara yang dingin lenyap. Cara ia berbicara dan memperlakukan Temari dan Kankurou berubah. Sikapnya pada desa berubah. Perasaannya kepada semua orang di desa berubah.



    Dan pada akhirnya, Gaara diakui oleh semua orang.



    Temari sangat berterima kasih pada Naruto karena hal itu. Ia berpikir bahwa desa Konohamerupakan desa yang menyenangkan. Penduduk desa mereka memiliki kebanggaan yang besarsebagai shinobi, dan sebagian besar dari mereka merupakan orang-orang yang berpikir logis.



    Tiba-tiba, wajah pria itu melintas di pikirannya. Ada rasa sakit yang menyengat dada Temari, dan dengan kesal ia mendecakkan lidahnya.



    “Apa ada masalah, neesan?”



    “Eh? Tidak…”



    Gaara menatap ke arahnya, memandang dengan khawatir. Temari dapat merasakankekhawatirannya yang besar, dan ia mengalihkan pandangan darinya.



    Di desa Suna air selalu kering. Karena berada di tengah-tengah gurun, desa itu tak pernah dituruni hujan. Pasir selalu bercampur dengan angin.



    “Ada butiran debu yang masuk ke mataku, itu saja.”



    “Itu hal yang langka.” Gaara berkata dengan lembut.



    “Hal itu tak biasa terjadi padamu,neesan.”



    “I- iya, benar…”



    Orang-orang yang terlahir di Suna secara alami beradaptasi dengan pasir dan anginnya, mereka terbiasa menghadapi hal tersebut. Meskipun saat badai pasir, tak seorang ninja Suna pun yang matanya akan terasa perih karena pasir.



    Kalimat Temari tentang ‘butiran debu memasuki matanya’ jelas-jelas adalah sebuah kebohongan dan alasan.



    “Shikamaru…” Gaara tiba-tiba menyebukan nama pria itu, dan Temari sedang lengah sehingga ia tak dapat menahan dirinya yang menjadi kaku.



    Meskipun tubuh kakaknya menjadi kaku layaknya sedang menghadapi musuh, Gaara tak mengatakan apapun tentang sikap tubuhnya yang tiba-tiba itu, dan berbicara seolah tak terjadi apa-apa.



    “Aku merasa belakangan ini ia bersikap aneh. Terakhir aku melihatnya di Markas Besar, tampaknya hatinya tak berada dalam tindakannya. Aku merasa ia bekerja terlalu keras.”



    “Kau berpikir begitu juga, huh.” Ucap Temari.



    Gaara mengangguk. “Dulu aku tak peduli terhadap orang lain, namun sekarang aku sangat berhati-hati dalam memperhatikan penampilan dan sikap orang lain. Mungkin karena itulah aku peka terhadap pergerakan hati seseorang.”



    Tentu saja, adik laki-lakinya pada dasarnya adalah orang yang sangat serius. Sekali ia yakin bahwa ia harus melakukan sesuatu, ia akan melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Itu semua karena ia telah membuka hati sepenuhnya terhadap orang lain.



    Bukanlah hal yang mengejutkan jika adiknya dapat menyadari berubahan kecil dari sikap Shikamaru ketika ia sangat berhati-hati dalam membaca sikap orang lain.



    “Ia menyembunyikan sesuatu.”



    “Mm…” Temari bersuara tanda setuju.



    “Ia merupakan orang yang paling serius memikirkan seluruh masa depan Persatuan dan shinobi dari yang lain.” Ucap Gaara.



    “Aku yakin ia tak akan melakukan hal yang membahayakan Persatuan.”



    Gaara merujuk pada fakta bahwa setiap desa yang berpartisipasi dalam Persatuan Shinobi memiliki kewajiban untuk melaporkan setiap masalah baik di luar maupun di dalam yurisdiksi mereka. Ia juga merujuk pada fakta bahwa ia dan Temari  menyadari Shikamaru enggan melaporkan situasi yang terjadi di Konoha. Situasi apapun yang membuatnya bertindak seperti itu adalah situasi yang tampaknya mempengaruhi seluruh desa shinobi.



    “Apa kau tau apa yang kira-kira ia sembunyikan, neesan?”



    “Aku harap aku tahu.”



    Wajar jika Gaara bertanya padanya. Temari adalah orang yang paling sering bekerja sama dengan Shikamaru dalam Persatuan Shinobi.



    “Bukannya aku tak memiliki pemikiran tentang hal itu…” Ucap Temari.



    “Hanya saja aku tak yakinapakah aku benar.”



    Gaara mengangguk, mendengar dalam diam.



    “Ia sedang serius menyelidiki shinobi yang hilang dalam perang, dan kasus missing-nin yang baru-baru ini terjadi.”



    Setelah Temari menjawab, Gaara mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah desa lagi. Sebuah alur muncul diantara alisnya.



    Ia sedang berpikir.



    Angin tiba-tiba berhembus. Butiran pasir menggores dahi mereka, rasa sakit yang terasa familiar.



    “Mari kita tanyakan pada Naruto.” Gaara bergumam.



    “Bersediakah kau, neesan?”



    “Baiklah.” Temari terkejut dengan betapa cemasnya suara yang ia dengar.



    “Tentu saja, kau juga harus bertanya pada Kakashi, tapi ia pasti akan enggan menjawab, jadi pertama-tama tanyakan pada Naruto tentang Shikamaru.” Ucap Gaara,



    “Jika ternyata Shikamaru sedang berada dalam situasi berbaya, maka kita paling tidak harus mencoba menyelamatkannya dengan segala kekuatan yang kita miliki. Jika kau merasa membutuhkan shinobi Suna, bawalah mereka sebanyak yang kau butuhkan.”



    “…Shikamaru adalah shinobi dari Konoha, kau tahu?”



    “Kita sudah lama melewati era dimana kita mempedulikan tentang ‘Shinobi Suna’ atau ‘Shinobi Konoha’. Ia adalah pria yang penting dalam Persatuan shinobi. Wajar jika kita harus membantunya.”



    “…Terima kasih.”



    “Ini bukan sesuatu yang perlu kau terima kasihkan padaku, neesan.”



    Setetes air mata yang berhasil lolos mengalir di pipi Temari. Menyekanya dengan tak sabar, ia melihat ke arah adiknya dengan seringai yang lebar.



    “Entah kenapa, hari ini butiran pasir terus-menerus masuk ke mataku.”



    ⁰ₒ⁰

    “Hey Sakura-chan, apa kau mendengar?” Naruto bertanya dengan kesal, menyandarkan sikunya pada tumpukan buku yang menumpuk setinggi dadanya. Ia sedang berbicara pada punggung Sakura saat ia sedang bergegas menelusuri rak buku yang memanjang menutupi dinding.



    “Kau tahu, Sai tidak tampak di sekitar kita sudah sebulan lebih, dan Shikamaru tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan kaku terhadapku. Hey, apa kau pikir dia menyembunyikan sesuatu dariku?”



    “Aku tidak tahu!”



    Suara jengkel Sakura membuat Naruto mengerenyit.



    “Bagaimana dengan misimu?”



    “Sudah berakhir hari ini.”



    “Kalau begitu cepatlah pergi ke Ichiraku, makan ramen, pulang, dan tidur!”



    “Apaaaaaa, tapi sudah lama kau tidak ke Kediaman Hokage. Akhirnya kau muncul juga… Kau bersikap sangat dingin sebagai anggota tim 7.”



    Sakura berbalik dengan marah menghadap ke arah temannya yang memasang wajah cemberut.



    “Sekarang aku sedang kewalahan bekerja dengan Nona Tsunade dalam mengembangkan sebuah sistem untuk jutsu medis, begitu juga bekerja dalam struktur sistem Persatuan Shinobi. Aku harus mempelajari dokumen yang tersisa dari Nona Tsunade ketika ia masih menjabat sebagai Hokage! Aku tidak punya waktu! Aku tidak bisa mendengarkan gosipmu! Mengerti?”



    Terengah, ia berbalik menghadap rak-rak buku.



    “Lagipula, belakangan ini kau sering keluar dengan Hinata, kan? Bukankah lebih baik kau pergi  dan mengobrol dengannya yang mau mendengarkanmu daripada menggangguku?”



    “Apa? Kau cemburu?”



    Sakura berbalik dengan ekspresi marah, memberikan tinjunya ke kepala Naruto.



    “Tentu saja tidak! Aku memutuskan untuk menunggu Sasuke-kun, kau tahu!”



    “I- iya nyonya…” Naruto menjawab. Tiba-tiba matanya menunjukkan keseriusan, dan Sakura yang menyadari, memperhatikan apa yang dikatakannya.



    “Tapi belakangan ini, kau tahu, aku punya perasaan yang sangat buruk.”



    “Apa Kyuubi membuat kehebohan?”



    Kyuubi masih berada dalam tubuh Naruto. Dan juga terdapat sebagian kekuatan dari 8 bijuu di dalam tubuhnya. Maka dari itu, kau bisa mengatakan bahwa ia merupakan pilar dari kekuatan Juubi.Dalam perang lalu, Obito telah menjadi pilar dari Juubi dan memperoleh chakra yang menyaingi Rikudou Sennin. Naruto yang telah mengambil bijuu ke dalam tubuhnya, memiliki sebagian kekuatan Sage hingga kini. ‘Perasaan buruk’-nya berbeda dengan manusia normal, dan Sakura juga mengetahui hal itu.



    “Apa kau tidak merasa salah menilai?”



    “Kau jahat, tidak percaya sama sekali dengan penilaianku…” Naruto bergumam, menjatuhkan dirinya ke lantai merajuk.



    “Karena sudah sepantasnya kau khawatir, makanya tidak ada yang bisa kau lakukan. Baik Saimaupun Shikamaru mereka adalah shinobi yang hebat. Meskipun mereka akhirnya menghadapi situasi dimana mereka membutuhkanmu, mereka akan memintanya. Dan jika tidak, maka Hokage akan memintamu untuk menyelamatkan mereka.”



    “Ehhh, aku tak yakin Kakashi-sensei tahu kapan saat itu tiba.”



    “Kau jauh lebih buruk dari dia!” Sakura meledak, menendang tulang keringnya. Naruto menggerakkan kakinya, berusaha menjaga jarak.



    “Berhenti membicarakan hal yang tak bisa kau bantu, dan konsentrasilah pada misimu. Itulah yang Sai dan Shikamaru inginkan darimu. Terutama Shikamaru. Ia bekerja keras dalam Persatuan shinobi dan desa agar kau dapat menjadi Hokage! Jangan biarkan semua itu menjadi sia-sia.”



    “Aku tau mereka melakukan itu untukku… tapi itulah mengapa aku khawatir, kau tahu.”



    Sakura menghelas nafas.



    “Kuatkan dirimu. Mereka adalah teman-teman yang mempercayaimu selama ini, mereka tak akan mati sia-sia.”



    “Jangan berkata hal yang menakutkan tentang kematian!”



    “Oh, demi apapun! Aku berkata satu hal kau sedih, aku berkata hal lain kau masih sedih! Kausangat menyusahkan-ttebayo!” Sakura menggunakan frase yang biasa digunakan Naruto padanya.



    “Pulanglah dan tidur!”



    Sakura melempar Naruto keluar ruangan.







    Sekumpulan anak laki-laki berusia sepuluh tahun menyeberangi jalan, tertawa dengan keceriaanyang tampak tak berakhir. Tak jauh di belakang mereka, seorang pria berwajah muram sedang terburu-buru menuju suatu tempat.

    Anak-anak itu mungkin menuju Akademi, sedangkan pria itu mungkin akan pergi bekerja.



    Di pinggir jalan, ada sebuah toko yang menjual lauk pauk pada pagi hari, bagian depan toko dikelilingi oleh para ibu rumah tangga yang sedang bergosip dengan berbagai gestur.



    Itu adalah pemandangan pagi seperti biasa.



    Pagi yang damai ini, Shikamaru melangkah sepanjang jalan utama yang dimulai dari gerbang depan Konoha yang terbuka lebar dan terus ke arah Kediaman Hokage. Jalan itu berakhir dibalik kediaman itu, yaitu pada Monumen Hokage dimana wajah seluruh generasi Hokage terpahat di sebuah bukit.



    Tujuan Shikamaru adalah yang terakhir. Ia punya urusan disana.



    Biasanya, ketika shinobi menerima misi di luar desa, mereka meninggalkan Konoha melalui gerbang utama. Tidak ada peraturan tertentu yang mengatakan hal tersebut, tapi itu adalah sebuah tradisi.



    Para Anbu merupakan pengecualian. Mereka berurusan dengan misi yang sangat rahasia, sehingga untuk menyembunyikan keberangkatan mereka dari warga Konoha, mereka telah diatur untuk pergi melalui gerbang yang berada pada bukit di balik Kediaman Hokage.



    Gerbang itu adalah tujuan Shikamaru. Misi kali ini dirahasiakan dari semua orang di desa. Satu-satunya yang mengetahui hanya Kakashi, seorang shinobi yang sulit diatur, dan tentu saja, Shikamaru sendiri, begitu juga Rou dan Soku yang menemaninya.



    Ia menyerahkan urusan untuk menutupi ketidakhadirannya di desa pada Kakashi. Jika ada yang bertanya tentang keberadaannya, mereka akan diberitahu bahwa Shikamaru ada urusan mengenai Persatuan Shinobi di luar batas desa.



    Skenario idealnya adalah dengan menyelinap keluar desa tanpa ada yang menyadari kepergiannya, dan kembali sebelum ada yang menyadari ketidakhadirannya.



    “Hm?” Saat Shikamaru dengan cepat menuju ke gerbang belakang, ia menyadari pria berambut pirang berada dalam jarak pandangnya.



    Si pirang juga menyadari keberadaannya.



    “Yoo, pasti itu Shikamaru! Kenapa kau terburu-buru?”



    Kau tak akan percaya bahwa keduanya sesusia, dengan seringai kekanak-kanakannya yang menyala saat ia menghampiri temannya. Pipinya memiliki tiga garis seperti kumis kucing pada tiap sisinya, dan matanya yang biru tampak bebas dari keraguan dan kebimbangan.



    “Itu yang seharusnya kutanyakan padamu. Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini, Naruto?”



    Uzumaki Naruto.



    Ia adalah seorang pahlawan yang telah menunjukkan jalan untuk mengakhiri perang besar yang lalu pada semua orang, putra dari Hokage keempat. Kyuubi telah disegel dalam tubuhnya saat iya baru lahir, dan ia tumbuh dengan menghadapi berbagai prasangka dari orang sekitarnya, ia tak pernah bimbang akan cita-citanya untuk menjadi Hokage, dan tetap menjalani jalan hidupnya. Seperti itulah Naruto.



    Saat ini, ia adalah kandidat terkuat yang akan menjadi Hokage setelah Kakashi.



    “Aku tidak bisa tidur semalam,” ucap Naruto,



    “Jadi saat aku terbangun pagi ini, aku langsung pergi ke Ichiraku Ramen, dan sekarang aku menuju kembali ke rumah.”



    “Kau pergi ke toko itu sepagi ini?”



    “Belakangan ini, mereka buka 24 jam setiap hari.” Naruto tampak sangat senang akan hal itu.



    “Bukan, maksudku, kau makan ramen sepagi ini…”



    “Aku selalu baik-baik saja kalau makan ramen, tidak peduli pagi atau siang atau malam!”



    “Hey, itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan.”



    “Setengah dari tubuhku mungkin terbuat dari ramen.” Ucap Naruto serius, membusungkan dadanya dengan bangga.



    Shikamaru menghela nafas.



    “Kau sekarang dikenal sebagai pahlawan yang mengakhiri perang, cobalah untuk menjaga tubuhmu.”



    “Pahlawan adalah pahlawan, dan ramen adalah ramen!”



    “…Pemikiran yang tidak masuk akal.”



    “Hahaha.” Naruto tertawa, malu-malu menggosokkan jari ke batang hidungnya.



    Kebiasaan itu tidak berubah sejak di Akademi. Naruto selalu menjalani hidupnya dengan pandangan yang lurus dan murni. Karena pandangan itulah ia mampu mengubah sekitarnya- bahkan mengubah Shikamaru.



    Naruto, yang dianggap sebagai kutukan bagi desa, menjaga hatinya yang murni dan perlahan membuat banyak dan lebih banyak lagi teman yang berada sisinya.



    Pada akhirnya, Naruto dapat menyelamatkan temannya Uchiha Sasuke yang telah jatuh dalam kegelapan, penuh dengan kebencian terhadap dunia.



    Menyelamatkannya bukanlah hal yang mudah.



    Tidak…



    Sebenarnya, itu merupakan hal yang tak dapat dilakukan oleh siapapun selain Naruto.



    Mimpi yang selalu Naruto genggam erat-erat sejak ia kecil hanya satu: untuk menjadi Hokage.



    Ia tak pernah memiliki saudara yang memberinya dukungan, dan satu-satunya cara agar ia mendapatkan perhatian dari orang lain adalah dengan leluconnya yang berulang-ulang, namun ia tetap bersikeras bahwa ia akan menjadi Hokage suatu saat nanti.



    Awalnya, tak ada yang percaya Naruto dapat melakukannya. Namun sekarang, tak ada satupun orang di desa ini yang berpikir bahwa orang lain selain Naruto yang akan menjadi Hokage selanjutnya.



    Naruto adalah matahari.



    Ia memiliki cahaya terang benderang dalam dirinya yang tak pernah redup, terus berkobar. Karena begitu terangnya ia bersinar maka ia menjadi matahari. Semua yang melihat semangatnya itu membuka hati mereka untuknya, dan menjadi temannya.



    Hingga kini, dan hingga akhir nanti, Shikamaru merasa bahwa Naruto akan terus berjalan kedepan tanpa keraguan dari cahayanya.



    Dan itulah yang harus terjadi. Suatu hari, Naruto akan menjadi Hokage, memperoleh kepercayaan desa lebih banyak lagi, dan terus bersinar, lebih terang dan lebih terang lagi.



    Demi cahaya itu, hal seperti matahari tidak perlu mengetahui tentang kegelapan dunia.



    Hingga kini, Naruto melancarkan perang melawan orang-orang yang hatinya telah dipengaruhi oleh kegelapan yang tak terhitung jumlahnya, namun ia tak pernah berbelok.



    ‘Tak peduli sejauh apa seseorang tenggelam dalam kegelapan, bagian dari dirinya akan merindukan cahaya.’



    Naruto bertarung karena ia benar-benar mempercayai hal itu. Shikamaru telah melihatnya mengubah hati musuh-musuhnya dengan prinsip yang sama berkali-kali.



    Tak peduli seberapa besar kegelapan mengelilinginya, Naruto tak pernah kehilangan cahayanya.



    Karena itu Naruto tak benar-benar tahu arti sebenarnya dari ‘kegelapan’.



    Selalu ada kegelapan di hati manusia. Berpikir bahwa kau dapat menyelamatkan semua orang adalah prinsip yang mustahil.



    Tak peduli seberapa dahsyat kau mecoba untuk menyelamatkan orang-orang dan menuntun mereka menuju cahaya, akan selalu ada mereka yang tergelincir, terus terjatuh ke dalam kegelapan. Begitulah kehidupan di dunia.



    Namun Naruto tak berpikir seperti itu. Tak peduli seberapa membuat putus asanya keadaan, ia tak akan menyerah untuk menyelamatkan semua orang dari takdir itu.



    Seperti itulah Naruto.



    Dan Shikamaru tak ingin ia berubah.



    Naruto merupakan orang harus tetap menjadi murni dan polos, menjadi matahari yang bersinar.



    Semakin terang cahaya bersinar, semakin gelap bayangan berkembang.



    Namun selama ada seseorang yang memikul beban kegelapan itu, maka semua akan baik-baik saja.



    Shikamaru berpikir bahwa menjadi ‘seseorang’ itu adalah tugasnya.



    Bukankah wajar bagi seorang pengguna jurus bayangan untuk memikul beban dari kegelapan?



    Naruto akan menjadi Hokage, dan Shikamaru akan mendukungnya sebagai tangan kanannya. Itu adalah mimpi Shikamaru; untuk berada di sisi Naruto dan menghalau semua kegelapan yang akan mengganggu cahayanya.



    Saat pikiran itu muncul di kepala Shikamaru, tiba-tiba ia memahami dirinya sendiri.



    Mengapa ia begitu keras kepala mengajukan diri untuk pergi ke Negeri Sunyi?



    Tentu saja, itu semua demi Naruto.



    Jika Negeri Sunyi terus berkembang lebih kuat, maka Naruto akan berakhir menderita. Negeri Sunyi akan menjadi penghalang besar baginya.



    Itulah mengapa Shikamaru ingin pergi dan menghancurkannya sejak awal.



    Bagimanapun, ia telah memutuskan untuk menanggung semua kegelapan yang mencoba mengganggu cahaya Naruto. Termasuk berhadapan dengan penghalangnya di masa depan.



    “Jadi apa yang kau lakukan?” Tanya naruto, memecah lamunan Shikamaru.



    “Aku berjalan-jalan.”



    “Sepagi ini?”



    “Naruto,” Shikamaru tak berekspresi.



    “Aku berjalan-jalan seperti ini sama sekali tidak seaneh kau yang memakan ramen sepagi ini.”



    “Baiklah, itu benar.”



    Keduanya tertawa.



    “Apa kau sedang libur?” Tanya Shikamaru.



    “Tentu saja tidak. Karena seseorang terus memberikanku misi yang merepotkan, aku tak punya hari libur dalam setengah tahun ini, kau tahu. Aku akan pergi melaksanakan misi siang nanti.”



    ‘Seseorang’ itu tentu saja, Shikamaru.



    “Itu adalah misi-misi yang kupilih demi kepentinganmu, jadi berhenti mengeluh.”



    “Tapi aku masih ingin istirahat sebentaaaaar saja.”



    “Kau diawasi sebagai kandidat Hokage selanjutnya. Terlalu penting waktu yang kau gunakan untuk istirahat. Lebih bersadar dirilah, Naruto.”



    “Aku mengerti… tapi hanya satu-“



    “Tidak ada tapi-tapian” Ucap Shikamaru, seperti memarahi anak kecil.



    “Semua orang di desa menyetujuimu. Tapi karena mereka setuju maka kau harus melaksanakan misi yang lebih banyak lagi, jadi orang-orang akan berpikir ‘aah, apa yang akan kami lakukan jika Naruto tidak disini’. Sudah dua tahun sejak perang berakhir, kau tak dapat berpikir naïf bahwa persetujuan semua orang akan terjamin dengan tindakanmu waktu itu.”



    “Baiklah, baiklah…” Naruto sedikit cemberut sebelum melakukan peregangan.



    “Perutku penuh, jadi kupikir aku akan pulang dan tidur sebentar.”



    Shikamaru menyipitkan mata ke arahnya.



    “Jangan tidur terlalu lama.”



    “Tidak akan” Naruto tertawa karena wajah seriusnya, dan kembali berjalan.



    “Oi, Naruto.” Shikamaru memanggilnya.



    “Apa?” Naruto berbalik.



    “Kau adalah pria yang akan menjadi Hokage. Jangan lupakan itu.”



    “Aku tidak akan menarik kembali kata-kataku,” janji Naruto.



    “Itulah jalan ninjaku.”



    “Tak akan menarik kata-katamu.” Shikamaru berhenti sejenak.



    “Juga jalan ninjaku.”



    “Yeah.” Naruto mengangkat tangan kanannya dan melambai, kemudian berbalik untuk kembali berjalan.



    Setelah melihat punggungnya sebentar, Shikamaru berbalik untuk menjalani jalannya juga.



    “Aku pasti akan menjadikanmu Hokage.”



    Shikamaru sudah sejak lama memutuskan bahwa ia takkan menarik kembali kata-kata itu.



    ⁰ₒ⁰

    “Aku membuat kalian menunggu, huh.”



    Shikamaru menujukan kalimat itu pada Rou dan Soku.



    Misi kali ini melibatkan penyusupan ke sebuah negara dan juga membunuh target. Itu bukanlah hal yang dapat dilakukan sepenuhnya dibawah radar. Itulah mengapa mereka berdua tidak menggunakan topengnya.



    “Kita memiliki beberapa objek misi.” Ucap Shikamaru.



    “Memeriksa situasi di Negeri Sunyi. Mencari Sai dan 10 Anbu yang hilang kontak. Namun prioritas utamanya adalah membunuh pria bernama Gengo.”



    Keduanya mengangguk dalam diam.



    Kakashi tidak datang untuk melihat mereka pergi. Hanya ketiga shinobi itu yang berada di dekat gerbang belakang yang tertutup. Gerbang itu tersembunyi diantara pepohonan di dasar bukit. Daripada terlihat cerah, gerbang itu lebih terlihat lembab dan suram.



    “Ah baiklah, karena kita akan menjalani misi pembunuhan, maka kita harus memastikan tidak ada pemantauan…” Lubang hidung Rou melebar saat menekankan kata ‘pemantauan’.



    Shikamaru menatapnya, bingung dengan apa yang dimaksud.



    “Leluconmu sangat terasa datar, kau tahu.” Soku memberitahu Rou.



    Pria itu tampak kebingungan, keringat mengalir di dahinya karena malu.



    “Dia mencoba untuk membuat lelucon, kau tahu.” Soku menjelaskan pada Shikamaru dengan ekspresi ‘aku minta maaf soal ini’ di wajahnya.



    “Kau tadi bicara tentang memeriksa situasi, dan karena memeriksa memiliki arti yang sejenis dengan memantau, ia membuat lelucon tentang pembunuhan yang kita lakukan agar tidak terpantau, karena ini merupakan rahasia… Pada dasarnya, pria tua ini cenderung membuat lelucon seperti itu, baik sekarang maupun nanti, jadi ada baiknya untuk berhati-hati, kau tahu.”



    Shikamaru menelan keinginannya untuk membuat balasan yang jenaka, dan berdehamn mencoba untuk mengembalikan suasana yang serius.



    “Ketika kita melewati gerbang, kita langsung berlari, oke?”



    “Kami sudah tahu itu, kau tahu.” Soku menjawab dengan riang.



    Rou, yang wajahnya memerah karena malu, juga memberi anggukan.



    “Baiklah kalau begitu, ayo.”

    Dan dengan itu, ketiganya mendorong dan membuka gerbang belakang.

    Novel Shikamaru Hiden Chapter 6

    Posted at  January 18, 2017  |  in    |  Read More»







    Sekumpulan anak laki-laki berusia sepuluh tahun menyeberangi jalan, tertawa dengan keceriaanyang tampak tak berakhir. Tak jauh di belakang mereka, seorang pria berwajah muram sedang terburu-buru menuju suatu tempat.

    Anak-anak itu mungkin menuju Akademi, sedangkan pria itu mungkin akan pergi bekerja.



    Di pinggir jalan, ada sebuah toko yang menjual lauk pauk pada pagi hari, bagian depan toko dikelilingi oleh para ibu rumah tangga yang sedang bergosip dengan berbagai gestur.



    Itu adalah pemandangan pagi seperti biasa.



    Pagi yang damai ini, Shikamaru melangkah sepanjang jalan utama yang dimulai dari gerbang depan Konoha yang terbuka lebar dan terus ke arah Kediaman Hokage. Jalan itu berakhir dibalik kediaman itu, yaitu pada Monumen Hokage dimana wajah seluruh generasi Hokage terpahat di sebuah bukit.



    Tujuan Shikamaru adalah yang terakhir. Ia punya urusan disana.



    Biasanya, ketika shinobi menerima misi di luar desa, mereka meninggalkan Konoha melalui gerbang utama. Tidak ada peraturan tertentu yang mengatakan hal tersebut, tapi itu adalah sebuah tradisi.



    Para Anbu merupakan pengecualian. Mereka berurusan dengan misi yang sangat rahasia, sehingga untuk menyembunyikan keberangkatan mereka dari warga Konoha, mereka telah diatur untuk pergi melalui gerbang yang berada pada bukit di balik Kediaman Hokage.



    Gerbang itu adalah tujuan Shikamaru. Misi kali ini dirahasiakan dari semua orang di desa. Satu-satunya yang mengetahui hanya Kakashi, seorang shinobi yang sulit diatur, dan tentu saja, Shikamaru sendiri, begitu juga Rou dan Soku yang menemaninya.



    Ia menyerahkan urusan untuk menutupi ketidakhadirannya di desa pada Kakashi. Jika ada yang bertanya tentang keberadaannya, mereka akan diberitahu bahwa Shikamaru ada urusan mengenai Persatuan Shinobi di luar batas desa.



    Skenario idealnya adalah dengan menyelinap keluar desa tanpa ada yang menyadari kepergiannya, dan kembali sebelum ada yang menyadari ketidakhadirannya.



    “Hm?” Saat Shikamaru dengan cepat menuju ke gerbang belakang, ia menyadari pria berambut pirang berada dalam jarak pandangnya.



    Si pirang juga menyadari keberadaannya.



    “Yoo, pasti itu Shikamaru! Kenapa kau terburu-buru?”



    Kau tak akan percaya bahwa keduanya sesusia, dengan seringai kekanak-kanakannya yang menyala saat ia menghampiri temannya. Pipinya memiliki tiga garis seperti kumis kucing pada tiap sisinya, dan matanya yang biru tampak bebas dari keraguan dan kebimbangan.



    “Itu yang seharusnya kutanyakan padamu. Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini, Naruto?”



    Uzumaki Naruto.



    Ia adalah seorang pahlawan yang telah menunjukkan jalan untuk mengakhiri perang besar yang lalu pada semua orang, putra dari Hokage keempat. Kyuubi telah disegel dalam tubuhnya saat iya baru lahir, dan ia tumbuh dengan menghadapi berbagai prasangka dari orang sekitarnya, ia tak pernah bimbang akan cita-citanya untuk menjadi Hokage, dan tetap menjalani jalan hidupnya. Seperti itulah Naruto.



    Saat ini, ia adalah kandidat terkuat yang akan menjadi Hokage setelah Kakashi.



    “Aku tidak bisa tidur semalam,” ucap Naruto,



    “Jadi saat aku terbangun pagi ini, aku langsung pergi ke Ichiraku Ramen, dan sekarang aku menuju kembali ke rumah.”



    “Kau pergi ke toko itu sepagi ini?”



    “Belakangan ini, mereka buka 24 jam setiap hari.” Naruto tampak sangat senang akan hal itu.



    “Bukan, maksudku, kau makan ramen sepagi ini…”



    “Aku selalu baik-baik saja kalau makan ramen, tidak peduli pagi atau siang atau malam!”



    “Hey, itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan.”



    “Setengah dari tubuhku mungkin terbuat dari ramen.” Ucap Naruto serius, membusungkan dadanya dengan bangga.



    Shikamaru menghela nafas.



    “Kau sekarang dikenal sebagai pahlawan yang mengakhiri perang, cobalah untuk menjaga tubuhmu.”



    “Pahlawan adalah pahlawan, dan ramen adalah ramen!”



    “…Pemikiran yang tidak masuk akal.”



    “Hahaha.” Naruto tertawa, malu-malu menggosokkan jari ke batang hidungnya.



    Kebiasaan itu tidak berubah sejak di Akademi. Naruto selalu menjalani hidupnya dengan pandangan yang lurus dan murni. Karena pandangan itulah ia mampu mengubah sekitarnya- bahkan mengubah Shikamaru.



    Naruto, yang dianggap sebagai kutukan bagi desa, menjaga hatinya yang murni dan perlahan membuat banyak dan lebih banyak lagi teman yang berada sisinya.



    Pada akhirnya, Naruto dapat menyelamatkan temannya Uchiha Sasuke yang telah jatuh dalam kegelapan, penuh dengan kebencian terhadap dunia.



    Menyelamatkannya bukanlah hal yang mudah.



    Tidak…



    Sebenarnya, itu merupakan hal yang tak dapat dilakukan oleh siapapun selain Naruto.



    Mimpi yang selalu Naruto genggam erat-erat sejak ia kecil hanya satu: untuk menjadi Hokage.



    Ia tak pernah memiliki saudara yang memberinya dukungan, dan satu-satunya cara agar ia mendapatkan perhatian dari orang lain adalah dengan leluconnya yang berulang-ulang, namun ia tetap bersikeras bahwa ia akan menjadi Hokage suatu saat nanti.



    Awalnya, tak ada yang percaya Naruto dapat melakukannya. Namun sekarang, tak ada satupun orang di desa ini yang berpikir bahwa orang lain selain Naruto yang akan menjadi Hokage selanjutnya.



    Naruto adalah matahari.



    Ia memiliki cahaya terang benderang dalam dirinya yang tak pernah redup, terus berkobar. Karena begitu terangnya ia bersinar maka ia menjadi matahari. Semua yang melihat semangatnya itu membuka hati mereka untuknya, dan menjadi temannya.



    Hingga kini, dan hingga akhir nanti, Shikamaru merasa bahwa Naruto akan terus berjalan kedepan tanpa keraguan dari cahayanya.



    Dan itulah yang harus terjadi. Suatu hari, Naruto akan menjadi Hokage, memperoleh kepercayaan desa lebih banyak lagi, dan terus bersinar, lebih terang dan lebih terang lagi.



    Demi cahaya itu, hal seperti matahari tidak perlu mengetahui tentang kegelapan dunia.



    Hingga kini, Naruto melancarkan perang melawan orang-orang yang hatinya telah dipengaruhi oleh kegelapan yang tak terhitung jumlahnya, namun ia tak pernah berbelok.



    ‘Tak peduli sejauh apa seseorang tenggelam dalam kegelapan, bagian dari dirinya akan merindukan cahaya.’



    Naruto bertarung karena ia benar-benar mempercayai hal itu. Shikamaru telah melihatnya mengubah hati musuh-musuhnya dengan prinsip yang sama berkali-kali.



    Tak peduli seberapa besar kegelapan mengelilinginya, Naruto tak pernah kehilangan cahayanya.



    Karena itu Naruto tak benar-benar tahu arti sebenarnya dari ‘kegelapan’.



    Selalu ada kegelapan di hati manusia. Berpikir bahwa kau dapat menyelamatkan semua orang adalah prinsip yang mustahil.



    Tak peduli seberapa dahsyat kau mecoba untuk menyelamatkan orang-orang dan menuntun mereka menuju cahaya, akan selalu ada mereka yang tergelincir, terus terjatuh ke dalam kegelapan. Begitulah kehidupan di dunia.



    Namun Naruto tak berpikir seperti itu. Tak peduli seberapa membuat putus asanya keadaan, ia tak akan menyerah untuk menyelamatkan semua orang dari takdir itu.



    Seperti itulah Naruto.



    Dan Shikamaru tak ingin ia berubah.



    Naruto merupakan orang harus tetap menjadi murni dan polos, menjadi matahari yang bersinar.



    Semakin terang cahaya bersinar, semakin gelap bayangan berkembang.



    Namun selama ada seseorang yang memikul beban kegelapan itu, maka semua akan baik-baik saja.



    Shikamaru berpikir bahwa menjadi ‘seseorang’ itu adalah tugasnya.



    Bukankah wajar bagi seorang pengguna jurus bayangan untuk memikul beban dari kegelapan?



    Naruto akan menjadi Hokage, dan Shikamaru akan mendukungnya sebagai tangan kanannya. Itu adalah mimpi Shikamaru; untuk berada di sisi Naruto dan menghalau semua kegelapan yang akan mengganggu cahayanya.



    Saat pikiran itu muncul di kepala Shikamaru, tiba-tiba ia memahami dirinya sendiri.



    Mengapa ia begitu keras kepala mengajukan diri untuk pergi ke Negeri Sunyi?



    Tentu saja, itu semua demi Naruto.



    Jika Negeri Sunyi terus berkembang lebih kuat, maka Naruto akan berakhir menderita. Negeri Sunyi akan menjadi penghalang besar baginya.



    Itulah mengapa Shikamaru ingin pergi dan menghancurkannya sejak awal.



    Bagimanapun, ia telah memutuskan untuk menanggung semua kegelapan yang mencoba mengganggu cahaya Naruto. Termasuk berhadapan dengan penghalangnya di masa depan.



    “Jadi apa yang kau lakukan?” Tanya naruto, memecah lamunan Shikamaru.



    “Aku berjalan-jalan.”



    “Sepagi ini?”



    “Naruto,” Shikamaru tak berekspresi.



    “Aku berjalan-jalan seperti ini sama sekali tidak seaneh kau yang memakan ramen sepagi ini.”



    “Baiklah, itu benar.”



    Keduanya tertawa.



    “Apa kau sedang libur?” Tanya Shikamaru.



    “Tentu saja tidak. Karena seseorang terus memberikanku misi yang merepotkan, aku tak punya hari libur dalam setengah tahun ini, kau tahu. Aku akan pergi melaksanakan misi siang nanti.”



    ‘Seseorang’ itu tentu saja, Shikamaru.



    “Itu adalah misi-misi yang kupilih demi kepentinganmu, jadi berhenti mengeluh.”



    “Tapi aku masih ingin istirahat sebentaaaaar saja.”



    “Kau diawasi sebagai kandidat Hokage selanjutnya. Terlalu penting waktu yang kau gunakan untuk istirahat. Lebih bersadar dirilah, Naruto.”



    “Aku mengerti… tapi hanya satu-“



    “Tidak ada tapi-tapian” Ucap Shikamaru, seperti memarahi anak kecil.



    “Semua orang di desa menyetujuimu. Tapi karena mereka setuju maka kau harus melaksanakan misi yang lebih banyak lagi, jadi orang-orang akan berpikir ‘aah, apa yang akan kami lakukan jika Naruto tidak disini’. Sudah dua tahun sejak perang berakhir, kau tak dapat berpikir naïf bahwa persetujuan semua orang akan terjamin dengan tindakanmu waktu itu.”



    “Baiklah, baiklah…” Naruto sedikit cemberut sebelum melakukan peregangan.



    “Perutku penuh, jadi kupikir aku akan pulang dan tidur sebentar.”



    Shikamaru menyipitkan mata ke arahnya.



    “Jangan tidur terlalu lama.”



    “Tidak akan” Naruto tertawa karena wajah seriusnya, dan kembali berjalan.



    “Oi, Naruto.” Shikamaru memanggilnya.



    “Apa?” Naruto berbalik.



    “Kau adalah pria yang akan menjadi Hokage. Jangan lupakan itu.”



    “Aku tidak akan menarik kembali kata-kataku,” janji Naruto.



    “Itulah jalan ninjaku.”



    “Tak akan menarik kata-katamu.” Shikamaru berhenti sejenak.



    “Juga jalan ninjaku.”



    “Yeah.” Naruto mengangkat tangan kanannya dan melambai, kemudian berbalik untuk kembali berjalan.



    Setelah melihat punggungnya sebentar, Shikamaru berbalik untuk menjalani jalannya juga.



    “Aku pasti akan menjadikanmu Hokage.”



    Shikamaru sudah sejak lama memutuskan bahwa ia takkan menarik kembali kata-kata itu.



    ⁰ₒ⁰

    “Aku membuat kalian menunggu, huh.”



    Shikamaru menujukan kalimat itu pada Rou dan Soku.



    Misi kali ini melibatkan penyusupan ke sebuah negara dan juga membunuh target. Itu bukanlah hal yang dapat dilakukan sepenuhnya dibawah radar. Itulah mengapa mereka berdua tidak menggunakan topengnya.



    “Kita memiliki beberapa objek misi.” Ucap Shikamaru.



    “Memeriksa situasi di Negeri Sunyi. Mencari Sai dan 10 Anbu yang hilang kontak. Namun prioritas utamanya adalah membunuh pria bernama Gengo.”



    Keduanya mengangguk dalam diam.



    Kakashi tidak datang untuk melihat mereka pergi. Hanya ketiga shinobi itu yang berada di dekat gerbang belakang yang tertutup. Gerbang itu tersembunyi diantara pepohonan di dasar bukit. Daripada terlihat cerah, gerbang itu lebih terlihat lembab dan suram.



    “Ah baiklah, karena kita akan menjalani misi pembunuhan, maka kita harus memastikan tidak ada pemantauan…” Lubang hidung Rou melebar saat menekankan kata ‘pemantauan’.



    Shikamaru menatapnya, bingung dengan apa yang dimaksud.



    “Leluconmu sangat terasa datar, kau tahu.” Soku memberitahu Rou.



    Pria itu tampak kebingungan, keringat mengalir di dahinya karena malu.



    “Dia mencoba untuk membuat lelucon, kau tahu.” Soku menjelaskan pada Shikamaru dengan ekspresi ‘aku minta maaf soal ini’ di wajahnya.



    “Kau tadi bicara tentang memeriksa situasi, dan karena memeriksa memiliki arti yang sejenis dengan memantau, ia membuat lelucon tentang pembunuhan yang kita lakukan agar tidak terpantau, karena ini merupakan rahasia… Pada dasarnya, pria tua ini cenderung membuat lelucon seperti itu, baik sekarang maupun nanti, jadi ada baiknya untuk berhati-hati, kau tahu.”



    Shikamaru menelan keinginannya untuk membuat balasan yang jenaka, dan berdehamn mencoba untuk mengembalikan suasana yang serius.



    “Ketika kita melewati gerbang, kita langsung berlari, oke?”



    “Kami sudah tahu itu, kau tahu.” Soku menjawab dengan riang.



    Rou, yang wajahnya memerah karena malu, juga memberi anggukan.



    “Baiklah kalau begitu, ayo.”

    Dan dengan itu, ketiganya mendorong dan membuka gerbang belakang.

    About-Privacy Policy-Contact us
    Copyright © 2013 Baca Komik.
    Powered by Themes24x7 .
    back to top